If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'll be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve*
"Na, lo kenapa?"
Yena bisa merasakan tatapan-tatapan dari balik kacamatanya ketika kakinya menginjak ruang guru. Tatapan rekan kerja mereka terlihat tidak percaya bahwa peri kebahagiaan playgroup Haneul kini memiliki mata yang bengkak karena semalaman menangisi mantan kekasihnya tujuh tahun lalu, tapi tentu mereka tidak perlu tahu alasan dibalik itu.
"Gak papa," jawab Yena cepat dengan senyum yang dipaksakan terpampang di wajahnya, "Gue abis nonton drama semalem, sedih banget!"
Yuqi memilih untuk diam dan tidak membalas jawaban Yena meski dirinya tahu bahwa teman kerjanya itu tengah berbohong kepadanya. Walaupun Yuqi baru mengenal Yena di tempat kerja, mereka dapat dikatakan dekat dengan satu dan lainnya – jadi Yuqi sudah tahu betul gelagat Yena ketika memiliki masalah.
"Langit mendung tuh, gara-gara mataharinya lagi galau," canda Yuqi sembari menyenggol Yena yang hanya tertawa renyah.
Maaf ya, langit.
Hanya saja, tidak ada yang pernah menyangka bahwa mereka akan dipertemukan lagi setelah tujuh tahun mencoba hilang dari kehidupan masing-masing, menjauhkan diri dari apapun yang dapat mempertemukan mereka meski hati kecil mereka meraung untuk setidaknya melihat dari kejauhan layaknya seorang penggemar rahasia.
Minggu ini memang minggu pertama dari penerimaan siswa dan siswi baru mereka, wajar jika Yena baru tahu bahwa Yohan adalah Ayah dari salah satu murid disini. Tapi kenapa tempat kerja Yena dari beratus-ratus sekolah yang ada?
Takdir benar-benar sedang mempermainkan mereka sebagai mana manusia memainkan mainan lama yang mereka miliki. Mainan yang sudah lama tidak tersentuh karena kita sempat bosan dengannya namun kini permainan itu kembali membawa kesenangan dalam diri untuk kedua kalinya dan permainan yang tengah dimainkan oleh takdir itu diberi nama cinta.
"Yena, rapihkan diri Anda. Hari ini Anda kan yang nyambut anak-anak di depan? Masa orang tua murid yang mengantar disambut berantakan kayak gitu," celotehan Bu Boa membuat Yena mengutuk diri dalam diamnya.
Sial, sial, sial. Kenapa waktunya sama sekali tidak tepat, sih?
Yena menghela nafasnya berat sebelum merapihkan tatanan rambutnya dan bajunya walau sebenarnya permasalahannya bukan di rambut atau baju, tapi di mata bengkak yang masih terlihat jelas dibalik kacamata dan riasan mata yang ia coba gunakan di hari itu.
"Ah, terserah lah,"
Perempuan itu meninggalkan barang-barangnya di atas meja, masih dengan keadaan pasrah saat membawa langkah kakinya keluar untuk menyapa murid-murid yang baru sampai. 20 menit, Yena hanya harus berdiri selama 20 menit disini dan Yena harap Yohan tidak akan memunculkan wajahnya dari balik pintu tersebut.
10 menit berlalu, 15 menit berlalu, dan ketika jarum jam sudah berada di 5 menit terakhir dimana biasanya murid-murid sudah duduk rapih di kursi masing-masing, Yohan yang menggendong Yura tengah berlari ke arah playgroup seperti orang yang tengah dikejar-kejar oleh anjing buas. Kalau bukan karena Yura ingin terlihat manis dengan jepitan yang dia baru beli, mereka pasti sudah sampai terlebih dahulu.
"Yura...." Yohan menurunkan anaknya untuk berlari ke arah pintu sembari dirinya mencoba menyamai ritme nafasnya lagi, "Kamu lari sana,"

KAMU SEDANG MEMBACA
HALF OF ME | yohan x yena.
FanfictionYohan harus sadar kalau alasannya selama ini tidak bisa kembali memberikan cintanya kepada wanita lain adalah karena Yena membawa sebagian dirinya meski setelah mereka berpisah dan keadaan tak lagi sama.