VIII : Alkohol & Cinta.

393 54 5
                                    










Can I go where you go?
Can we always be this close forever and ever?
And take me out, and take me home
You're my, my, my, my lover








*







Satu buket baby's breath milik Hyewon kini benar-benar menjadi milik Yena dan tidak, gadis itu bahkan tidak berusaha seperti para perempuan lainnya yang menunggu lemparan buket yang ada digenggamannya. Yang Yena lakukan hanyalah berdiri di dekat panggung dan Hyewon langsung berjongkok untuk memberikannya tanpa basa-basi, sembari berkata: gue tau ini curang, tapi gak cuman lo yang gak sabar lihat lo pake gaun putih pengantin.

Saat Hyewon mengatakan hal itu dengan microphone yang langsung mengambil seluruh atensi tamu yang datang, netra Yena secara otomatis membalik ke arah Yohan yang sudah lebih dahulu tersenyum lebar ke arahnya dengan anggukan kecil, menyetujui ucapan Hyewon kepadanya.

Apapun yang terjadi hari ini, membuat Yena semakin-makin ingin cepat menikah. Umurnya sudah pas, tabungannya pun sepertinya juga sudah cukup untuk membantu Yohan menghidupinya, dan untuk pasangan — Yena melirik Yohan yang tengah menyetir di sebelahnya sebelum lengkungan bibirnya terpapar jelas di wajahnya seperti ucapan dari sang Ayah siang tadi tak memiliki arti untuknya.

"Maaf ya jadi bolak-balik," ujar Yohan yang baru saja kembali ke mobil setelah menitipkan Yura di rumah Ibunya, lagi-lagi.

Malam ini Hangyul dan Hyewon mengadakan after party untuk para teman-teman mereka yang datang. Dari apa yang pernah Hyewon beberkan kepada teman-temannya, pengantin muda itu akan membuat pesta yang bisa membuat mereka yang datang akan kembali muda. Tidak ada anak, hanya masa remaja.

Mengingat dulu keduanya sering mengikuti pesta malam, Yena dan Yohan menunggu momen ini sedari awal mereka mengetahuinya karena Yohan, pria itu sudah lama berhenti berpesta karena adanya Yura. Sedangkan Yena, disisi lain, selain faktanya ia menjadi lebih cepat lelah sekarang, Jihoon – mantan Yena – sering melarangnya untuk ikut acara-acara yang dibuat oleh teman-temannya.

Sekarang adalah momen yang tepat, setidaknya untuk mereka berdua kembali merasa seperti anak baru gede pada umumnya.

"Kamu gapapa kan pulang malem?"

Yena menggeleng kepalanya sebelum terkekeh, "Daripada nyariin kayaknya Papa Mama lebih pengen aku keluar rumah di umur segini,"

Memar benar nyatanya kedua orang tuanya sering kali menyindirnya karena masih dilajang di umur yang sudah sangat bisa dikatakan mapan ini. Tetangga-tetangga juga sering kali menanyakan kapan Yena akan menikah – tapi sekarang, malah orang tuanya menahan-nahan dia untuk menikah dengan Yohan.

Ya, ada benarnya juga sih untuk tidak terburu-buru. Terlebih lagi karena Yohan memiliki Yura yang harus Yena jaga jika perempuan itu bersiap untuk menikahi Yohan dan meski Yena adalah guru playgroup, bukan berarti gadis itu mengerti dengan jelas bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu yang baik untuk seorang anak.

"Kalo gitu...," Yohan tersenyum jahil ketika menggantungkan ucapannya sebelum lelaki itu mengarahkan badannya ke arah Yena, "Gak usah pulang ya nanti?"

Pipi Yena kembali merona mendengar ucapannya yang baru saja keluar dengan entengnya dari mulut Yohan. Pikirannya seperti sudah kemana-mana dan tidak lagi bisa kembali fokus. Gadis itu menelan ludahnya sebelum melirik ke arah kemana saja asal bukan Yohan yang harus ia tatap.

"Yura aja kamu titipin di rumah Mama, masa iya aku ikut tidur disana?" balas Yena meski matanya masih menatap ke arah jalanan di luar, menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.

HALF OF ME | yohan x yena.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang