Dua bulan setelah kejadian di kafetaria, Jeno dan Siyeon semakin dekat. Namun salah satu dari mereka masih belum ada yang mengutarakan perasaannya.
Mereka seakan-akan terjebak dalam hubungan tanpa status. Tetapi baik Jeno maupun Siyeon tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut.
Yang penting saling merasakan bahagia, bukan?
Siang ini Siyeon telah dijanjikan oleh Jeno untuk mengantarnya pulang. Lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.
Saat ini Siyeon telah melangkahkan tungkainya untuk menghampiri kelas Jeno.
"Siyeon-ah! Mau kemana?" Tanya Yeji—saudara kembar Hwang Hyunjin—yang sedang berjalan menyusuri koridor.
"Ke kelas Jeno," jawabnya dengan menyunggingkan senyumnya.
"Oh ya sudah, aku duluan ya.. Semoga bahagia kencannya, hehe!"
"YEJI!", gerutu Siyeon seraya melemparkan tatapan kesalnya. Sementara Yeji telah berlari meninggalkan Siyeon.
Siyeon pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kini ia sudah tiba di depan pintu ruang kelas Jeno.
Ia mencari-cari figur Lee Jeno melalui celah jendela kelas tersebut. Namun ia malah menemukan figur Renjun, Jaemin, Haechan, Sanha dan Soobin.
"Siyeon?", tanya Soobin yang menemukan figur Siyeon.
"Eoh? Soobin-ah," balas Siyeon sembari tersenyum kikuk.
"Mencari Jeno, ya?" Tanya Renjun seraya tersenyum jahil.
"Eoh? Ya."
"Jeno sepertinya di taman belakang sekolah, Siyeon.." Kini giliran Jaemin yang menjawab.
"Okay, goodbye friends!", pamit Siyeon seraya melambaikan tangannya.
Saat ini Siyeon telah tiba di taman belakang sekolah. Netranya berusaha mencari-cari figur Lee Jeno.
Hujan akan segera turun, awan mendung telah menguasai langit. Rintik hujan telah siap menetes kapanpun yang semesta inginkan.
Siyeon harus cepat menemukan Jeno. Walaupun ia senang dengan hujan, ia tidak ingin rintik hujan menetes saat ini.
Bagaimana jika Jeno khawatir dan malah mencari-cariku? Ia bisa sakit jika mencariku dalam keadaan hujan.
Namun pikiran tersebut berhasil ia tepis jauh-jauh saat melihat figur Jeno di salah satu bangku taman terlihat akan mencium bibir seorang gadis yang tentu saja Siyeon kenal, Eunbin.
Tidak ada yang menyadari keberadaan Siyeon disana, termasuk Jeno dan Eunbin yang terlihat sedang dimabuk asmara.
Dada Siyeon sesak, lidahnya juga terasa kelu untuk sekadar memanggil Jeno. Rintik hujan turun bertepatan saat air mata Siyeon jatuh dipipinya. Raganya menolak untuk mengeluarkan air mata, tetapi hatinya mengizinkan karena telah terlanjur sakit.
Siyeon berlari dengan laju tanpa mempedulikan tetesan hujan yang kian lama semakin deras. Seragamnya telah basah, tas yang ia gendong juga telah basah.
Ia juga tak mau egois untuk melampiaskan emosinya dengan berlari dibawah hujan. Ia memilih untuk berteduh di halte bus yang menyimpan kenangan antara dirinya dengan Jeno.
Siyeon mendudukkan dirinya di kursi panjang yang biasanya digunakan untuk menunggu bus yang tiba. Di halte tersebut ia menumpahkan segala kesedihan, kekecewaan yang ia rasakan.
Siyeon juga sadar, ia tak berhak untuk cemburu terhadap Jeno yang notabene hanya sebagai sahabat dekatnya.
Setelah merasa dirinya sudah cukup tenang, akhirnya ia memilih untuk mengetikkan pesan terhadap seseorang.
Me
| Jeno-ya, maaf saya tidak pulang denganmu. Tadi saya sudah dijemput ^^ 04.20 pmTin!
Suara klakson mobil tersebut berhasil menarik atensi Siyeon yang sedang menatap nanar ke arah handphone-nya.
"Siyeon-ah! Ayo masuk!", ajak seseorang pengemudi mobil tersebut dengan membuka kaca jendela mobilnya.
Hayo kira-kira siapa tuh?🌚🌚
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS CARE | PARK SIYEON
Romance𝗢𝗡 𝗚𝗢𝗜𝗡𝗚-! [𝗿𝗲𝘃𝗶𝘀𝗶 𝗷𝘂𝗱𝘂𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗹𝗺𝗲𝗱] 𝗳𝘁. 𝗢𝗢 𝗹𝗶𝗻𝗲'𝘀, 𝗮𝗻𝗱 𝗺𝗼𝗿𝗲 𝗰𝗮𝘀𝘁. 𝗽𝗼𝘃; 𝘀𝗶𝘆𝗲𝗼𝗻, 𝗮𝘂𝘁𝗵𝗼𝗿 𝗦𝘁𝗮𝗿𝘁:: 14O52O