"Baru setengah jam aku meninggalkanmu dan kau sudah mati?!"
Lunar menceramahiku. Ia menggedongku pergi dari tempat tadi, dengan tubuh transparan juga sepertinya— karena Blaze dan Lin tidak dapat melihatnya.
"Itu salahmu!" Aku menyalahkan Lunar. Memang itu salahnya karena dia tiba-tiba meninggalkanku begitu saja!
"Kenapa jadi aku?" Lunar tampak ingin membantah, "Aku sudah menjelaskan bahwa kau itu seorang pemanah terbaik di dimensi ini, seharusnya kau membidik pohon itu agar tidak jatuh mengenaimu."
"Mana aku tau kalau aku sehebat itu?!"
Perdebatan ini berakhir ketika aku sadar bahwa Lunar membawaku melayang ke atas awan, "Kau sedang mengantarku ke surga, ya?"
"Tidak karena neraka jauh lebih cocok untukmu." cerca Lunar sementara aku mendengus kesal.
Hal yang tak terduga, Lunar melemparkanku ketika kami sampai di sana. Kali ini aku tidak merasakan sakit karena awan ini lembut seperti bantal, jadi aku tidak mengeluh.
"Bangunlah, kita sudah sampai."
Aku beranjak berdiri, "Dimana ini?"
"Kastilku." Kulihat Lunar tersenyum samar kemudian sayap besar miliknya perlahan memudar.
"Jadi malaikat sial juga punya kastil ya?" Aku mendengkus kecil, "Lumayan."
Yah, lumayan. Walau kastil ini tampak berbanding terbalik dengan warna awan yang putih jernih. Kastil itu tampak retak, berwarna kusam, ditambah petir yang menggelegar di atasnya.
Tidak mungkin aku mengatakan kastil itu tampak mengerikan. Lunar pasti sakit hati dan menjatuhkanku dari atas sini.
"Mari kita masuk."
•°•°•
Kurasa bagian luar dan dalam kastil ini sama saja. Sama-sama suram. Lunar membawaku ke dalam perpustakaan yang berada di lantai tiga.
Aku tidak merasakan lelah ketika memanjat anak tangga. Kurasa ini kelebihan seorang Elf.
"Baca ini." Lunar melemparkanku sebuah buku begitu aku sampai di lantai teratas. Karena tidak siap, buku itu pun berakhir jatuh ke lantai.
Aku meraih buku itu, About Demon and Elf. Heh, dari judulnya saja seperti cerita dongeng. Aku tidak mengerti mengapa Lunar memintaku untuk membaca ini.
Halaman pertama kubuka. Kemudian halaman kedua, ketiga, dan ... argh! Semuanya tulisan! Ini membuatku bosan.
"Sudah kuduga."
Suara Lunar menarik perhatianku. Apa yang sedang pria itu lakukan? Bermain dengan balon yang berisi gambar-gambar aneh?
Tidak, aku serius. Lunar mengeluarkan sebuah bola mengambang berwarna-warni dari sebuah kantung kecil. Aku mendekat agar dapat melihat gambar apa yang terpapar di sana.
Ternyata bukan gambar, tetapi video. Seperti ... Sebuah video memori yang dapat diputar ulang. Aku melihat seorang gadis membidik sekawanan monster tanpa segan pada gelembung warna merah.
"Kau pasti terkejut." kata Lunar.
"Terkejut? Untuk apa?"
"Gadis itu," Lunar menjeda ucapannya sejenak, "... Adalah kau sendiri."
Mustahil.
Aku menyipitkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. Wajahnya memang mirip sepertiku, hanya saja aku tidak memiliki telinga seruncing itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Refleksi
FantasiRasanya sangat aneh ketika terbangun di tempat yang tak dikenal. Dianggap sebagai orang lain, dari situlah Nora memulai hidup barunya. Nora tidak menyangka, sebuah tindakan kecil dapat mengubah kehidupannya yang ia kira tidak berarti.