Kalau boleh mempraktikan ilmu santet atau sejenis ilmu hitam di dunia ini, mungkin Seungyoun sudah jauh-jauh hari mengatur pertemuan dengan dukun. Atau ada penyedia jasa pengiriman santet onlen dengan biaya murah meriah, maka nama Seungwoo akan menjadi yang paling pertama mengisi list orang-orang yang ingin Seungyoun kutuk.
Entah berapa kali dalam satu jam Seungyoun mengeklik mousenya dengan kecepatan yang tak wajar.
Wooseok yang berada di sebelahnya sampai mengangkat satu alis terheran-heran. Sudah kering rongkongnya menasehati Seungyoun bahwa kekanak-kanakannya bisa merusak si tikus.
“Dia yang lebih kekanak-kanakan!” sungut pemuda yang sedang bergulat dalam emosinya itu.
Wooseok menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak kecil. Punggungnya bergelanyut pada sandaran kursi, sementara tangan bersedekap di depan dada. Tidak banyak sih yang dia tahu soal kejadian tadi pagi. Pokoknya waktu dia baru selesai menaruh tas kerjanya dan menyalakan monitor, Seungyoun berhambur dari ruangan si bos dengan muka ditekuk.
Wooseok mengamati bagaimana Seungyoun melempar kesal tas karton ke atas meja kerja lalu menghempaskan bokongnya ke kursi. Dia kemudian mengembungkan pipi dan meniup poninya kencang. Lalu mulai mengerjakan tugasnya dengan kondisi seperti tadi. Penuh aura negatif.
“Bos lo itu tuh! Aneh banget kelakuannya!” sahut Seungyoun menatap nyalang ke ruangan Seungwoo.
“Kalau gak aneh bukan Han Seungwoo namanya.” Wooseok dengan gesit melangkahkan kakinya mendekati Seungyoun tanpa mengubah posisi duduk.
Dengusan kasar menyusul setelahnya.
“Gue udah beli baju yang harganya setara dengan baju favoritenya itu dan gak murah, lho! Terus lo tahu gak apa yang dia bilang?”
Wooseok menyempatkan diri untuk melihat isi tas karton yang terbengkelai itu. Oh, pantes mahal... Merk terkenal gitu.
“Bilang apa?”
“Buang aja.”
Mata Wooseok membulat tidak percaya.
“Padahal hampir tiap hari dia nagih kayak tukang kredit. Sekarang, giliran diganti, dianya seenak udel nyuruh dibuang. Gak ngotak.”
Dikira nyari duit gampang apa.
Lah, iya, gampang buat dia. Dia kan kaya. Gak kayak gue, beli baju brand ternama aja kudu mikir dua kali.
Seungyoun menekan-nekan tombol kiri mouse dengan durasi yang sangat cepat sebagai pelampiasan kekesalannya.
Wooseok melirik lantas menegur,“Eh lo ngerusak property kantor, Youn.”
“Biarin. Kalau rusak, tinggal beli lagi. Uang dia kan banyak.”
Wooseok menahan tawa ketika mendengar jawaban Seungyoun. Pasalnya baru kali ini dia melihat tantrum Seungyoun yang begitu menggemaskan.
“Terus lo ngomelin dia?”
Seungyoun hanya menghela napas berat. “Ya, gak juga. Gila apa lo? Ya kali gue ngomelin atasan. Mau makan apa gue besok kalau sampe kena pecat?”
“Kirain lo udah sampe di titik dimana lo gak bisa nahan emosi.”
“ Gak. Gue masih bisa tahan. Gue keluar baik-baik kayak kacung takut gak dikasih duit sama majikannya.”
Nasib.
Menjadi bawahan itu susah-susah gampang. Wooseok belajar banyak hal di tempat ini. Belajar mengendalikan diri, menahan emosi. Belajar profesional tanpa melibatkan perasaan pribadi. Yang kemudian berujung pada belajar bermuka dua tanpa diasadari. Dimana dia harus bermanis-manis di depan bos, di belakang sibuk mencari-cari cela. Mencari lowongan kerja yang lebih mapan sambil membangun komunitas untuk jiwa-jiwa tertindas.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Boss
FanfictionSeungyoun tidak tahu jika Bos barunya ialah Han Seungwoo-seseorang dari masalalu-yang sempat memberinya mimpi buruk. Remake from Mr. Nam Seungzz version ⚠ Top!Woo ⚠ bot!Youn warn : bxb angst bullying