"I wanna know..
What is love?
What love feels like?" – Twice, what is love.
Krist terus mengusap rambut Singto. Dengan harapan ia bisa mengurangi sedikit saja rasa lelah Singto. Krist selalu cemas jika melihat Singto seperti ini. Krist ingin sekali membantu, tapi ia bahkan tidak tahu sedikit pun apa yang Singto kerjakan. Maka semoga saja dengan terus mendampinginya Krist bisa membuat Singto nyaman.
Krist ragu. Untuk seseorang yang dipekerjakan oleh Singto, kelakuan Krist sudah melebihi batas. Apa seorang karyawan mengusap rambut pimpinannya? Dan membiarkan pimpinan itu menyandarkan kepalanya pada si karyawan? Jangan melucu. Tidak mungkin.
Krist mengatur napasnya perlahan. Ia ingin menenangkan si jantung yang terus-terusan berpesta setiap Krist berdekatan dengan Singto. Krist tidak mau mengganggu Singto.
Beberapa saat kemudian, Singto jatuh terlelap. Terlihat sangat pulas sekali, dengkuran halus yang terdengar menandakannya. Krist terpesona sesaat, Singto semakin terlihat menakjubkan jika dipandang dari jarak dekat seperti ini.
Tidak ingin terlarut dalam pesona Singto, Krist dengan perlahan memindahkan kepala Singto, mengganti pahanya dengan bantal sofa. Krist harus segera mencari selimut untuk menjadi penghangat. Setelah selesai membungkus Singto dengan selimut, Krist segera beranjak menuju kamarnya. Kantuk mulai menyerang dan ia sudah tidak tahan sekali.
Tiba-tiba sebuah tangan menahannya, Krist menoleh. Menemukan sepasang mata hitam pekat sedang menatapnya. Mata Singto. Jarak antara Krist dan Singto sangat dekat sekali. Jika Krist tidak terpana mungkin ia sudah berteriak karena terkejut, tapi tidak. Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara apapun.
"Aku bahagia dengan adanya dirimu, Krist..." ucap Singto sendu.
Setelahnya Singto menghapus jarak di antara mereka. Singto melumat bibir Krist dengan pelan, tidak ingin membuat Krist semakin terkejut. Singto meletakan satu tangannya di pinggang Krist, semakin memperdalam ciumannya. Tanpa sadar Krist meletakan kedua tangannya di pundak Singto. Ikut terlarut dalam suasana.
Tidak ada yang ini menyudahi sampai pasokan udara di paru-paru mereka menipis. Dengan pelan Singto melepas pagutan bibirnya pada Krist. Keduanya saling menatap. Menyelami isi pikiran masing-masing.
Singto menyentuh bibir Krist dengan jarinya,"Maafkan aku, Krist..."
Prae...
***
Suasana pagi begitu canggung. Setiap Singto melakukan pergerakan sedikit saja yang tertangkap oleh mata Krist, maka Krist akan tersipu malu. Pipinya akan merekah seperti tomat ranum yang baru saja matang. Singto salah tingkah sendiri melihat reaksi Krist, ia mengawasi Krist melalui ekor matanya. Singto hanya kembali berkutat dengan sarapan dan koran di hadapannya. Ya. Hari ini adalah hari sabtu yang berarti Singto tidak bekerja dan Sea tidak sekolah. Sea? Oh dia memakan sarapannya dengan mata yang masih terpejam. Sarapan adalah kegiatan wajib di rumah mereka. Tidak perduli jika setelahnya akan bermalas-malasan.
Ada satu lagi peraturan di rumah mereka, ketika akhir pekan, tidak ada yang boleh mengerjakan pekerjaan atau tugas sekolah—bagi Sea. Singto mewajibkan ini karena ia tidak ingin Sea stress karena terlalu keras berpikir. Sea pernah belajar dengan keras karena ia sedang ujian akhir tapi berakhir dengan demam selama dua hari. Dan lagi-lagi, Singto cemas dibuatnya. Sesibuk apapun Singto, ia tetap meluangkan akhir pekannya bersama Sea. Walaupun terkadang telepon genggamnya tidak berhenti berdering. Peraturan tetaplah peraturan.
Hari ini Krist pun libur bekerja. Setelah beberapa hari yang lalu lembur, hari ini Krist mendapat jatah libur. Sejak tadi ia kerepotan menghindari Singto. Krist tidak punya alasan untuk keluar rumah barang sebentar saja. Persediaan bahan makanan masih banyak, rumah sudah dibersihkan oleh bibi. Dan Sea pasti akan mengekorinya ke mana pun ia pergi. Jadi Krist sejak tadi hanya menunduk dan dengan cepat menghabisi sarapannya. Tidak ingin berlama-lama di dekat Singto.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga Terakhir
Teen Fiction"Aku menyayangi adikku dengan sepenuh hati. Apapun akan kulakukan demi membuatnya bahagia, termasuk mendapatkanmu." - Singto. "Aku akan selalu melindungi kakak tercintaku. Siapapun yang berani melukainya, akan berhadapan denganku." - Sea. "Aku tida...
