"No matter how many times i go back in time, i will hug you over and over." – Super Junior KRY – When we were us.
Krist menghela napas,"Apa sebaiknya kita akhiri saja?"
"Apa maksudmu?" mata Singto berkilat mengancam.
Krist mengetahui itu semua tapi mungkin perpisahan adalah hal terbaik untuk mereka. Krist dan Singto sudah saling menyakiti. Tidak akan ada hal baik jika hubungan mereka terus dilanjutkan.
"Kau ingin meninggalkanku?" Dengan suara bergetar Singto kembali bertanya pada Krist, menuntut penjelasan.
Dengan suara tersendat akibat menangis Krist berkata,"Kita sudah saling menyakiti. Dan kepercayaan di antara kita sudah tidak ada. Apakah ada lagi yang tersisa?"
Kau bilang kau mencintaiku! Benak Singto berteriak murka. Ia tidak terima. Singto masih sangat mencintai Krist dan akan selalu. Singto bahkan tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti ia akan berpisah dengan Krist. Krist sangat berharga baginya.
Menit demi menit berlalu dengan menyakitkan. Singto menatap Krist yang masih menangis di hadapannya. Singto mengutuk dirinya sendiri, ia penyebab dari tangisan itu. Singto merasa tidak berguna, ia sudah mengingkari janjinya sendiri.
Praepailin adalah perempuan yang mandiri. Walaupun kodrat dari seorang perempuan adalah harus dijaga oleh laki-laki. Namun, Praepailin mampu meyakinkan Singto bahwa banyak hal bisa ia lakukan sendiri. Berbeda telak dengan Krist. Saat pertama kali bertemu Krist, Singto merasa perlu menjaganya. Krist terlihat maskulin tetapi ringkih, membangun jiwa laki-laki Singto untuk terus menjaga dan memerhatikannya. Singto berjanji akan terus menjaga Krist, tapi sekarang justru ia yang menyakitinya.
"Jika memang kita harus berpisah, aku tidak ingin berpisah seperti ini." Suara Singto berat dan setenang lapisan danau.
Dengan matanya yang berair, Krist melihat ke dalam mata Singto. Lihat? Bahkan kau tidak mempertahankannya, pikir Krist. Sejak diam tadi, Krist mulai menyesali perkataannya. Mungkin ia sudah berlebihan, tetapi melihat reaksi Singto sekarang Krist merasa tidak ada gunanya untuk menyesal.
Singto bergerak maju, ia menghapus aliran air di pipi Krist. Mengecup bibir Krist lembut dan memeluknya erat. Singto hanya ingin menikmati saat-saat terakhir. Mungkin memang perpisahan ini harus terjadi.
Singto mengusap matanya yang memanas. Ia melepas pelukannya pada Krist. Singto mengambil kunci mobil dan jaketnya lantas menghilang dari balik pintu. Tidak kunjung kembali bahkan saat matahari sudah terbit.
***
Sea memerhatikan Krist yang sejak tadi sedikit sekali berbicara. Krist hanya bertanya padanya ingin sarapan apa lalu bergegas menuju dapur. Sekarang pun Krist memakan makanannya dengan kepala yang ditundukkan.
Jelas ini ada hubungannya dengan Singto, pikir Sea. Kakaknya itu entah sekarang ada di mana. Dan kalau tidak salah lihat, mata Krist sangat bengkak dan memerah.
"P'Krist, kemarin ingin memberi apa?" tanya Sea, seingatnya Krist tempo hari berkata ingin memberikan sesuatu padanya.
Krist menepuk jidatnya, teringat pada kalung yang sudah ia belikan untuk Sea. Krist menyuruh Sea menunggu selagi dirinya mengambil kalung di kamar. Krist kembali beberapa detik kemudian dan segeta memakaikannya pada Sea.
"Wah! Cantik sekali, P'Krist!" teriak Sea sambil memeluk Krist. Sea begitu bahagia. Kalung itu sangat indah walaupun sederhana. Terlebih lagi yang memberikannya adalah Krist.
Desakan air mata di pelupuk Krist semakin kuat. Ia ingin sekali menangis, tapi tidak. Krist harus tegar, menangis di hadapan Sea adalah hal yang paling tidak ingin ia lakukan. Sea akan khawatir dan berujung akan ikut menangis juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga Terakhir
Teen Fiction"Aku menyayangi adikku dengan sepenuh hati. Apapun akan kulakukan demi membuatnya bahagia, termasuk mendapatkanmu." - Singto. "Aku akan selalu melindungi kakak tercintaku. Siapapun yang berani melukainya, akan berhadapan denganku." - Sea. "Aku tida...
