Part 135 [Walk to the Star]

10 1 0
                                        

Pertama kali aku bermimpi untuk menulis adalah pada saat kelas 5 SD,  bayangkan saja aku yang sekarang ini dulunya pernah merengek meminta di belikan buku anak anak. Aku berfikir orang tua aku tak mungkin memberikan buku yang tidak memiliki ilmu aka.  Buku mata pelajaran.

Ternyata dugaan salah pada saat itu.

Orang tua ku dengan senang membelikanku buku cerita anak anak yang sempat fenomenal pada masanya, selain membaca kisah anak, pada saat kelas 5 SD aku juga suka banget baca baca majalah, lagi lagi yang banyak gambarnya, yang kisahnya ringan saja untuk di cerna.

Mulai saat itu aku rajin menulis apa saja yang udah aku lakuin di buku jurnal.

Lagi lagi, aku merengek kepada orang tua ku untuk di belikan buku buku diary yang motif nya lucu lucu, karena pada saat itu buku diary termasuk barang yang bernilai mahal bagiku, Alhamdulillah mereka tak bosan mengabulkan rengekan putrinya.

Kabar baiknya saat kelas 6 SD aku mulai menulis naskah kisah anak anak, sepertinya aku sudah lupa kisah apa yang aku tuliskan pada saat itu di buku sidu.  Zaman dahulu masih belum ada laptop ringan yang biasa di gunakan setiap hari, handphone yang canggihnya kayak sekarang? Mimpi dulu baru beli.

Setelah masuk bangku menengah pertama, aku mulai fokus mengembangkan nilai akademik, pokoknya harus peringkat 5 besar, batin ku saat itu. Baiknya Tuhan mengabulkan sehingga aku tak lagi fokus dengan skill menulisku.

Aku juga tak pandai mempertahankan nilai nilai akademisi ku, suatu ketika nilai ku benar benar jatuh, kecewa, marah terhadap diri sendiri, sedih, terpukul melihat satu semester ini hanya di kungkung oleh rasa malas.  Aku mencoba membuat puisi bucin pada masanya dan coba aku kirimkan ke redaksi majalah yang cukup fenomenal, lagi lagi pada masanya ya. Aku hidup sudah cukup lama ternyata.

Voila, Tuhan mengabulkan jerih payahku dan karya ku di terbitkan di rubrik majalah tersebut, sebagai gantinya aku sering mendapatkan bingkisan berupa buletin perusahaan majalahnya.

Baru setengah jalan, ku kira 300 kata sudah cukup mewakili seluruh kisah hidupku yang cita cita nya sebagai seorang penulis.

Alhasil, aku lanjut besok aja ya :)
Kalau kalian suka, silahkan vote dan komen, enaknya kita bincang apalagi...
Teman curhatmu, Hilda

KATAQUotes Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang