Isekai For my brother I'll become a demon lord - Ch.11

57 5 1
                                    


Chapter 11

"Armein!", panggil Pilgrim.

Mendengar suara itu Armein berhenti sejenak lalu kembali mempercepat langkah kakinya untuk pergi menjauh.

"Pilgrim!", panggil seseorang di belakang Pilgrim.

Pilgrim berhenti dan membiarkan Armein pergi sendiri. Tear di belakangnya menunggu dengan wajah masam. Pilgrim menghampiri Tear dengan kepala tertunduk dan wajah yang memelas.

"Kenapa kau memasang wajah seperti itu?", tanya Tear masih dengan nada yang tegas.

"Pasti Tear akan memarahiku kan?", jawab Pilgrim mengalihkan pandangannya dengan bibir terpaut.

"Tentu saja aku akan memarahimu", kata Tear menegaskan.

Pilgrim hanya diam saja sambil tertunduk.

"Aku tahu rasa keingintahuanmu sangat besar, tapi bukankah ayah sudah bilang jika kamu terlalu penasaran dan mencampuri urusan orang lain, Kamu akan terbawa dalam suatu masalah yang rumit", lanjut Tear.

Pilgrim masih diam saja dengan wajah cemberutnya yang kekanakan.

"Haa...", Tear menghela nafas.

"Ikut ke ruanganku, akan aku pastikan kau tidak mengulanginya lagi"

"A-Aku sudah mengerti!! Karena itu sudah tidak perlu lagi!!", jawab Pilgrim panik.

"Aku sudah minta izin ayah untuk mendidikmu lebih baik lagi, karena itu kau tidak perlu mencari alasan untuk menolaknya", jawab Tear dengan wajah dingin.

"Apa yang mereka lakukan?", tanya Yuusha.

Maou dan Yuusha melihat dari kejauhan adegan Tear yang menarik telinga Pilgrim untuk mengikutinya.

"Ahahahah... tugas Tear sebagai seorang kakak sudah pasti harus mengajari adiknya dengan baik", jawab Maou.

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau ayah mereka?"

"Hm... aku hanya ingin anak-anakku mandiri, jadi saat aku harus meninggalkan mereka, mereka sudah bisa menjaga diri mereka sendiri"

Saat Maou berkata seperti itu Yuusha mengingat dengan jelas apa yang dia katakan saat Yuusha baru tiba di sini.

'Bisakah kau tidak melibatkan anak-anakku dan rakyatku dalam hal ini?'

Maou sudah bersiap untuk segala yang akan terjadi dengan mengorbankan dirinya sendiri. Di saat harusnya raja duduk tenang di atas singasananya dan dilindungi pasukannya, kenapa semuanya berbanding terbalik disini. Pikir Yuusha dalam hati.

"Maou, kenapa kau tahu bahwa kami akan datang?"

Pertanyaan Yuusha itu sedikit membuat Maou tersentak dan tersenyum tidak nyaman.

"Hmm... insting?", jawab Maou santai.

"Sudahlah tidak perlu membicarakan masalah itu, tugasmu sekarang adalah menyusul sahabatmu", kata Maou sambil mengusap-usap kepala Yuusha membuat rambutnya berantakan.

Yuusha terdiam dan akhirnya berjalan kearah Armein pergi sebelumnya.

"Maaf ya, aku tidak mungkin mengatakannya sekarang, bahwa kau adikku di kehidupan sebelumnya, dan di dunia ini aku ditakdirkan untuk bertemu denganmu saat ini, walau harus jadi pihak yang bersebrangan denganmu", bisik Maou pada dirinya sendiri.

***

Armein terduduk ditaman tengah istana, sambil memeluk kedua lututnya dia membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya. Dalam diam Yuusha duduk di sebelahnya.

"Armein", panggil Yuusha perlahan.

Tidak ada nada marah ataupun khawatir, hanya Yuusha memanggil Armein seperti biasa. Namun Armein yang sedikit mendelik tetap membenamkan wajahnya di pangkuannya sendiri.

"Armein, aku tidak marah ataupun kecewa...", kata Yuusha perlahan.

"Aku juga tidak keberatan jika kau memendam rahasia dari kami", lanjutnya.

"Tapi jika hanya itu akan membuatmu berwajah seperti itu lebih baik kau ceritakan saja padaku. Kau membuat yang lain khawatir", kata Yuusha masih dengan nada yang biasa saja.

"Maafkan aku...", bisik Armein.

Perlahan dia mengangkat kepalanya dan memandang Yuusha dengan ekspresi sedih.

"Untuk saat ini... untuk saat ini saja bisakah kau melupakannya...", katanya hampir menangis.

"Aku pasti akan menceritakannya padamu suatu saat, karena itu... untuk saat ini..."

Yuusha paling lemah saat melihat temannya memohon padanya, karena itu dia hanya menghela nafas panjang dan menepuk-nepuk punggung Armein untuk menenangkannya.

"Armein, apapun yang terjadi kau tetaplah sahabatku yang berharga, karena itu kau tidak perlu memasang wajah seperti itu", tambahnya.

Armein mengangguk dengan air mata yang jatuh di pangkuannya. Baru kali ini Yuusha melihat Armein yang biasanya santai menangis seperti ini.

"Armein aku tahu ini berat, tapi aku ingin kau bertahan sebentar lagi. Aku ingin mengetahui kebenaran yang ada dan aku ingin tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi dan misteri apa yang ada di balik semua ini"

Armein menghapus airmatanya dengan lengan bajunya. Lalu menatap Yuusha dengan pasti, lalu mengangguk mantap.

"Aku sudah pasti akan membantumu. Apapun yang terjadi aku ada dipihakmu", katanya dengan wajah serius.

***

(ಥ﹏ಥ)

Maaf ya untuk saat ini segini dulu....
Gak enak badan bikin gak selera ngetik.... 

Sampai ketemu minggu depan ヽ(-Д-◎

Isekai For my brother I'll become a demon lordTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang