Suara jam yang berdenting menemani seorang wanita di dalam ruangan yang didominasi warna putih. Tangannya tak lelah mengelus surai rambut gadis dihadapannya, terlelap dengan damai. Sesekali tangannya mengusap pipi si gadis yang masih terdapat sisa-sisa airmatanya.
"Permisi saya ingin memberitahu kondisi pasien"
"Bagaimana kondisinya dok?"
"Saya sudah pernah bilang bukan jangan buat dia terkejut? kelainan pada jantungnya bisa sangat membahayakan. " jelas dokter itu menyerahkan amplop putih berisi hasil lab.
Lengah...kali ini Tifanny lengah. Ia bahkan lupa bahwa Rania terlahir berbeda dari kedua kakaknya, dengan kondisi jantungnya yang abnormal. Sejak kecil ia sangat sering keluat masuk rumah sakit hanya karena kondisi jantungnya itu.
Bahkan saat mengetahui kedua orang tuanya kecelakaan, Rania yang sedang dirawat langsung mengalami gagal jantung mendadak. Beruntung ia masih bisa diselamatkan setelah melalui prosedur panjang.
Sejak kejadian itu, Tifanny selalu menghindari memberitahu hal buruk kepada Rania. Ia juga melarang Agatha dan Lia untuk membahas kecelakaan itu untuk menghindari jantung lemahnya yang bisa kambuh kapanpun.
"Saya beritahu sekali lagi, jangan buat dia shock dan kelelahan, itu bisa menambah kerja jantungnya."
"Tidak bisakah kau menyembuhkannya?" Tifanny menatap harap pada dokter muda dihadapannya. Sedangkan dokter muda itu hanya menggeleng pelan, menggugurkan harapan Tifanny.
"Tapi kita bisa mengendalikannya. Saya permisi dulu, anda bisa menghubungi suster jika perlu sesuatu"
Setelah dokter muda itu pamit diri, Tifanny mencoba untuk menghubungi Agatha tentang kondisi Rania.
.
.
.
.
.
"Kau masih tidak mau cerita?"
"Aish iya aku akan cerita, berhenti mendesakku" kesal Lia memutar tubuhnya untuk menghadap kakaknya yang menyebalkan itu. Agatha hanya tersenyum tipis melihat adiknya yang masih kekanakan diusianya yang sudah beranjak 23 tahun.
"Aku memberitahunya"
"Tentang?"
"Alasan kematian Ayah dan Bunda.."
Senyum tipis itu langsung menghilang dari wajah Agatha, diganti dengan tatapan terkejut. Ia langsung mengetuk kepala Lia dengan pulpen yang ada ditangannya.
Tuk
"Yak kak!! Kenapa kau memukulku?!" Kesal Lia mengusap dahinya tepat dimana pulpen itu mendarat.
"Kau bodoh hah? Sudah kukatakan jangan memberitahunya bukan? Kau lupa dengan penyakitnya?"
"Justru bagus, dia akan pergi dengan lebih cepat bukan?" Jawab Lia acuh tapi malah mendapat pukulan lagi di kepalanya.
"Kak kau akan membuatku bodoh!!"
"Kau memang bodoh. Jangan terlalu cepat membunuhnya, paling tidak kita harus bermain dulu dengannya" balas Agatha tersenyum mengerikan. Lia bahkan sampai tidak mengenali siapa gadis dihadapannya ini.
"Bermain bagaimana?"
"........................"
"Ckckck...kau lebih buruk dariku kak" ucap Lia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Drtt...Drtt...
"Halo Aga, kerumah sakit sekarang, dan ajak Lia juga"
"Kenapa memangnya bi?"
"Rania dirawat, cepatlah datang. Aku tidak terima penolakan"
Tut
"Cepat bersiap kita ke rumah sakit sekarang. Anak itu dirawat"
"Ck...selalu saja menyusahkan" dengan malas Lia mengikuti perintah kakaknya. Dalam 10 menit mereka sudah siap dan langsung menuju rumah sakit.
.
.
.
.
.
Ditempat yang berbeda, Rania yang sudah terbangun dari tidur singkatnya masih menikmati setiap usapan yang diberikan Tifanny pada kepalanya. Mengingat sesuatu, ia langsung bangkit terduduk dan memeluk Tifanny erat.
"E-eh...kenapa? Berbaringlah dulu, kau baru siuman"
"Apa itu benar bi? Apa benar yang Kak Lia katakan?"
Dengan cepat Tifanny menggeleng lalu menangkup kedua pipi Rania dengan tangannya.
"Bibi sudah pernah bilang kan, mereka kecelakaan, jadi ini bukan salahmu"
"Lalu kenapa mereka membenciku sejak kecelakaan itu? Dan kenapa Kak Lia bisa berbicara seperti itu?"
Skak. Pertanyaan Rania membungkam Tifanny. Ia bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Bisa-bisa Rania kembali pingsan setelah mendengarnya. Disaat ia kebingungan, pintu ruangan terbuka menampilkan kedua sosok yang baru saja dihubungi.
"Pas sekali, kalian temani Rania dulu bibi mau menemui dokter"
"Jangan melakukan hal aneh selamaku pergi" bisik Tifanny diantara mereka berdua, sebelum pergi keluar.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu? Masih sakit?" Tanya Agatha dengan suara lembutnya, lalu duduk disebelah Rania. Rania sendiri dibuat heran dengan sikap kakak sulungnya ini, begitupun dengan Lia.
"Y-ya..ya masih sakit sedikit..."
"Apa kau lapar? Kau belum makan siang kan?" Lanjut Agatha. Rania hanya mengangguk kaku saat kakaknya itu bersikap diluar biasanya.
"Tunggu sebentar, aku akan membeli makanan. Lia kau ikut aku"
.
.
.
.
.
Sekeluarnya dari kamar rawat Rania, Lia langsung menarik kakaknya itu menuju ujung koridor rumah sakit. Tatapan meminta penjelasan sudah dilayangkannya membuat Agatha menahan tawa melihatnya.
"Pfftt... jangan menatapku begitu"
"Apa kau juga sakit kak? Perlu kupanggilkan dokter?" Ujar Lia meletakkan punggung tangannya didahi dan leher Agatha.
"Tidak, aku sehat-sehat saja"
"Lalu apa itu tadi? Sikapmu yang berbeda itu...?"
"Kau tidak ingat ucapanku tadi? Ckckck...salah apa aku bisa punya adik sebodoh dirimu" Agatha menggelengkan kepalanya sembari bersedekap dada.
"Yak aku tidak bodoh!! Langsung ke intinya saja, jangan berbelit-belit" kesal Lia.
"Kau bertanya alasannya? Itu caraku bermain dengannya" jelas Agatha, namun Lia masih dalam kebingungannya.
"Kita dekati dia, buat seolah-olah kita menerimanya kembali. Lalu setelah dia kembali bahagia.....BOOM kita buat dia kembali menderita" Agatha tersenyum mengerikan saat menjelaskan rencananya itu.
"Astaga kak...kau sungguh mengerikan. Kau benar-benar akan menyakitinya dari dalam.." Lia mengusap kedua tangannya yang merinding saat membayangkan rencana kakaknya itu.
"Permainan baru saja dimulai Rania...."-
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAULT [END]
Художественная прозаOrangtua adalah sosok yang sangat berarti bagi setiap orang didalam kehidupan mereka. Namun, bagaimana jika sosok itu harus pergi lebih cepat dari yang seharusnya? Menorehkan luka mendalam bagi yang ditinggalkan. Rania Akcaya, si bungsu dari keluarg...
![FAULT [END]](https://img.wattpad.com/cover/229234332-64-k102748.jpg)