14

53 3 0
                                        

Siang hari yang terik dengan matahari tepat berada diatas kepala, seorang wanita paruh baya sudah duduk manis di dalam ruangan Grace, sang dokter muda. Ya, Tifanny sudah datang sejak dua jam yang lalu untuk membicarakan operasi Rania. Hatinya berdegup kencang saat Grace membawa setumpuk kertas yang entah apa isinya.

"Aku sudah mengajukan nama Rania untuk dioperasi minggu ini" ucap Grace membuka pembicaraan.

"Kapan?" Tanya Tifanny dengan mata berbinar.

"Kamis ini, jika kondisinya tetap stabil" jawab Grace. Tifanny tersenyum senang mendengar kabar itu setelah menunggu selama dua tahun.

"Oh ya dia harus berpuasa sebelum operasi, nanti akan ada suster yang menjelaskannya"

"Baiklah, aku temui Rania dulu" Tifanny tersenyum hangat sebelum pergi dari ruangan Grace.

Sesampainya di ruang rawat Rania, Tifanny menemukan Lia sedang mengelap dengan perlahan wajah Rania. Tersenyum tipis, Tifanny pun ikut bergabung dengan duduk disebelah Rania.

"Kau tidak kuliah hari ini?" Tanya Tifanny.

"Bibi lupa? Aku sudah mau wisuda bi..." balas Lia mengerucutkan mulutnya.

"Ah benarkah? Bibi tidak ingat ..." Tifanny menahan tawanya saat berhasil menggoda Lia yang semakin cemberut.

"Bun...da" lirih Rania mengambil atensi mereka berdua, dengan kedua alisnya bertaut dan wajahnya yang dipenuhi keringat.

"Dia bermimpi Bunda??" Tanya Lia dibalas dua bahu Tifanny yang terangkat.

"Bunda....jangan pergi...." kali ini airmata juga mengalir dari kedua mata Ran yang terpejam.

"Ran...bangun" ujar Lia mengusap lembut pipi adiknya.

Kedua mata Rania terbuka kaget, disertai nafasnya yang berderu. Bisa dilihat bahwa ia baru saja mengalami mimpi buruk. Melihat itu, Lia mengusap lembut bahu Rania dan memberikannya segelas air.

"Kau mimpi apa tadi?" Tanya Tifanny melihat Rania masih terdiam memandang gelas kosong ditangannya.

"Bunda..., Bunda mengajakku pergi" jawab Rania pelan.

"Pergi?? Kemana??" Bingung Lia.

"Menyusulnya..? Mungkin" balas Rania tanpa menatap dua wanita yang sudah memasang wajah tidak suka.

"Jangan mengucapkan hal-hal seperti itu Ran. Kau akan sembuh, mengerti..?" Tegas Lia.

"Kenapa? Apa kalian sudah berubah pikiran??. Ahh....atau karena ada bibi disini?" Balas Rania tersenyum miring.

"Ran maafkan mereka ya. Bibi tahu mereka salah, tapi mereka sudah minta maaf bukan?" Bujuk Tifanny tapi Rania malah terkekeh.

"Lalu bagaimana dengan ini? Apa sakitnya langsung sembuh dengan ucapan maaf darimu???" Tanya Rania menunjuk dadanya. Tidak menjawab, Lia memilih untuk keluar dari ruang rawat Rania.

"Jangan seperti itu Ran, mereka itu kakakmu dan mereka sudah menyadari kesalahannya" ujar Tifanny mengelus kepala Rania sebelum keluar untuk menyusul Lia.

"Itu terlalu sulit bagiku....." gumam Rania menatap kepergian Tifanny.
.
.
.
.
.

Petang menyapa, Agatha yang baru selesai dengan urusan kantor langsung datang ke rumah sakit untuk melihat si bungsu. Sesampainya di lantai 3, wajahnya terlihat bingung saat menemukan Lia terduduk lesu di luar kamar rawat Rania.

"Kau kenapa?"

"Bad mood" balas Lia singkat, jelas, padat.

"Ya bad mood kenapa..?" Agatha mengambil posisi duduk di sebelah Lia.

"Ran belum memaafkan kita kak..., dan sepertinya tidak akan pernah..." lirih Lia mengusap kasar wajahnya.

"Itu berarti kita harus berusaha lebih keras. Ayo masuk" jawab Agatha menarik Lia masuk.

Didalam mereka melihat Rania sedang melamun menghadap jendela dengan airmata mengalir membasahi pipinya. Rania tidak menyadari kehadiran kedua kakaknya karena posisinya yang membelakangi pintu, juga karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri.

"Hai Ran, sudah makan?" Tanya Agatha. Dengan cepat Rania menghapus airmatanya dan menatap kedua kakaknya.

"Sudah"

"Kudengar operasimu 3 hari lagi, itu berarti kamis ini?" Lanjut Agatha duduk mendekat di sisi ranjang Rania.

"Ya"

"Ehm..Ran, apa kau masih tidak bisa memaafkan kami...?" Tanya Agatha menatap sendu Rania.

Rania menatap mereka berdua bergantian dan tidak mengatakan apapun, namun ia tersenyum tipis setelahnya.

"Maaf ya..., sepertinya kata itu sangat mudah diucapkan orang-orang, benarkan?"

"Sudah kubilang kan, aku tidak perduli lagi, lakukan semau kalian" Rania menatap kedua kakaknya satu persatu.

"Kami sungguh menyesal Ran, tidak bisakah kami mendapat kesempatan kedua??" Tanya Lia mengusap tangan dingin Rania.

"Tidak, pergilah..."

"Setidaknya biarkan kami menemanimu disini sampai Bibi Tif datang" ujar Agatha.

"Tidak perlu. Pergilah sebelum aku membenci kalian lebih dalam"

"Ran-"

"KUBILANG PERGII!!!" Rania membentak mereka disertai wajahnya yang memerah.

"Hah...baiklah, kami ada di depan jika kau butuh sesuatu" setelahnya Agatha menarik Lia untuk keluar dari kamar inap Rania. Dengan langkah berat Lia mengikuti Agatha untuk keluar dari ruangan itu.

.
.
.
.
.

Grace berlari disepanjang koridor rumah sakit menuju kamar rawat Rania dengan wajah cemas. Setibanya disana, sudah ada Agatha dan Lia yang memanggilnya tadi, melalui tombol darurat disamping ranjang Rania.

Beberapa menit setelah membentak kakaknya, Rania kembali merasa sesak untuk bernafas. Wajahnya semakin memerah dengan batuk yang tidak berhenti, hingga terdengar sampai luar. Agatha dan Lia yang panik pun segera menekan tombol darurat yang ada.

Setelah memberikan beberapa obat melalui jarum suntik, Grace membawa Agatha dan Lia keluar, membiarkan Rania beristirahat.

"Apa yang terjadi Grace?"

"Dia kelelahan, tapi sudah lebih baik sekarang" balaa Grace.

"Dia tidak boleh kelelahan, setidaknya sampai operasinya selesai nanti. Aku pergi dulu, beritahu aku jika butuh sesuatu" Grace tersenyum tipis sebelum meninggalkan kedua saudari itu.

.
.
.
.
.

Malam harinya, Rania yang sedang menonton video pertandingan basket Yuta menoleh saat pintu kamar rawatnya terbuka. Dibaliknya, Grace dan seorang suster juga Lia dan Agatha datang bersamaan. Grace dan suster langsung mendekat untuk memeriksa Rania, sedangkan dua gadis lainnya hanya memperhatikan dari jauh.

"Aku tidak tahu kau suka basket" ujar Grace saat melihat video di ponsel Rania dengan tangan sibuk mengarahkan stetoskopnya.

"Temanku hari ini bertanding melawan sekolah lain, jadi aku harus menontonnya" jawab Rania semangat.

"Oh begitu. Nah sudah, jangan terlalu lelah kondisimu harus stabil sampai hari operasi nanti" lanjut Grace dibalas anggukan Rania. Setelahnya Grace dan sang suster meninggalkan ruangan itu.

"Kalian kenapa masih disitu?, keluarlah" Rania berucap kepada Agatha dan Lia.

"Cukup Ran, biarkan kami menjagamu" balas Agatha.

"Aku tidak butuh"

"Kami tidak akan keluar, titik" tegas Lia.

"Cih....terserah" balas Rania lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

Tanpa mereka tahu, Grace yang masih berada di depan pintu menyaksikan pertengkaran mereka. Menghela nafas lelah, ia tidak mau ambil pusing dengan pertengkaran kakak beradik itu dan memilih pergi melihat pasiennya yang lain.

.
.
.
.
.

FAULT  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang