I'm back everyone 🤗🤗
.
.
.
"Pagi kak"
"Pagi Ran, ayo sarapan dulu" ucap Lia menarik kursi disebelahnya. Rania diam diam melirik Agatha yang sepertinya masih marah padanya, pikirnya.
"Kau pulang jam berapa nanti? Biar ku jemput" Lia berbasa basi menawarkan diri.
"Tidak perlu kak, aku pulang sendiri saja. Lagipula ada latihan hari ini"
"Yakin?" Rania menjawab dengan anggukan mantap.
"Kalau sudah, segera masuk kedalam mobil" ujar Agatha yang sudah selesai dengan sarapannya.
.
.
.
.
.
"Agatha, Bu Tifanny memanggilmu" ujar seorang staf yang merupakan rekan kerja Agatha.
"Aku? Ada apa?" Tanya Agatha, namun rekannya hanya menggeleng tak tahu.
Tok..tok..tok
"Permisi, bibi memanggilku?"
"Ah iya, kemarilah"
"Aku ingin kau menggantikan tugasku selama aku pergi nanti" lanjut Tifanny.
"Bibi mau kemana?"
"Aku harus ke Belanda untuk meresmikan cabang perusahaan yang baru. Mungkin selama satu bulan" jawab Tifanny tersenyum tipis.
"Ah iya...kudengar kalian sudah berbaikan dengan Rania, benarkah?" Lanjutnya. Dirinya sibuk membaca beberapa laporan yang harus diselesaikan sebelum dia pergi.
"Hm...ya bisa dibilang begitu, kami sedang berusaha menerimanya" balas Agatha dengan senyum dipaksakan.
"Keputusanmu sudah tepat nak. Tolong jaga Rania selama aku pergi nanti" Agatha hanya mengangguk dengan senyum tipis.
.
.
.
.
.
Seorang gadis sedang duduk termenung dipinggir lapangan, menyaksikan anak-anak seusianya dengan gembira saling melempar dan merebut bola. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya, diikuti tangan yang mengusap dada kirinya.
"Hei Ran!" Gadis itu terlonjak kaget saat seseorang dengan seenaknya menepuk pundaknya.
"Jangan mengagetkanku Dea...kau bisa membuatku mati muda" cibir Rania menatap malas temannya itu.
"Hehe..maaf, kenapa ikut ke lapangan? Biasanya kau akan ke perpustakaan"
"Bosan"
"Mau ikut denganku ke atap?, aku mau menunjukkan sesuatu" Deana menggenggam tangan Rania dan membawanya beranjak dari lapangan.
.
.
.
.
.
"Tunggu disini, aku mau mengambilnya dulu" titah Deana sebelum pergi.
"Tada..!! Lihat ini lucu kan??"
Deana datang dengan seekor anak kucing digendongannya. Rania seakan terhipnotis melihat keimutan anak kucing yang sudah berada di dalam gendongannya sekarang.
"Kau mendapatkannya darimana?"
"Aku menemukannya di dekat gudang belakang kemarin, jadi kubawa saja kesini."
"Kenapa tidak dibawa pulang? Dia akan kedinginan saat malam" ujar Rania yang sudah memasukan anak kucing itu kedalam rompinya, agar tetap hangat.
"Ibuku alergi kucing. Bagaimana kalau kau membawanya?" Balas Deana. Rania berpikir sebentar sebelum menganggukan kepalanya.
"Baiklah, akan kubawa pulang nanti. Kau sudah memberinya nama?"
Deana menepuk pelan dahinya, sebelum menggeleng dengan senyum lebar tanpa rasa bersalahnya. Rania hanya mendengus kecil melihat tingkah bodoh temannya ini.
"Bagaimana kalau Louis? Kurasa nama itu cocok dengannya" Rania menimbang saran yang diberikan Deana sembari mengerutkan alisnya.
"Louis ya..? Tidak buruk, nama apapun cocok dengannya" balas Rania mencium Louis yang sudah tertidur didalam rompinya.
"Sebaiknya kita segera turun, kau akan kedinginan jika terlalu lama disini" Deana menarik tangan Rania untuk turun dari stap dan kembali ke kelas.
.
.
.
.
.
Sepulang sekolah, Rania yang tidak membawa sepedanya sedang menunggu di halte bis dekat sekolahnya. Dengan tangan kanan memegang tas biola dan tangan kiri menggendong Louis. Sedari tadi ia tiada henti bermain dengan Louis yang sekarang sudah akrab dengannya. Tidak lama bis yang ditunggu datang. Rania segera masuk dan duduk di dekat jendela.
Sesampainya di rumah, Rania dibuat bingung dengan sepasang sepatu yang berada di depan rumahnya. Setelah meletakkan sepatunya di rak, ia langsung masuk kedalam, melihat siapa yang datang berkunjung.
"Ah Ran, sudah pulang?"
"Bibi!!" Rania langsung memeluk Tifanny erat, melupakan bahwa ia meletakan Louis didalam rompinya.
Meow...
"Suara apa itu? Apa kau mendengarnya?" Tanya Tifanny.
"Itu suara Louis bi," Rania mengeluarkan Louis dari dalam rompinya, lalu menunjukannya pada Tifanny juga kedua kakaknya.
"Anak kucing? Kau memungutnya darimana?!" Tanya Lia dengan nada cukup tinggi, membuat Agatha mencubit lengannya.
"Temanku memberikannya. Dia menemukan Louis sendirian di dekat gudang sekolah"
"Oh begitu. Oh ya Ran, bibi akan pergi jauh selama sebulan, kamu baik-baik ya dirumah" ujar Tifanny disambut wajah sedih Rania.
"Kemana?, Bibi pergi sendiri? Atau kak Aga ikut?? Bi-"
Tiffany langsung menutup mulut Rania yang tidak lelah terus melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Aku ke Belanda mengurus cabang perusahaan baru, dan Agatha yang mengurus kantor selama bibi pergi" Tiffany melepas tangannya kembali dari mulut Rania.
"Lama sekali... aku akan merindukan bibi" Rania memeluk Tiffany erat. Dua gadis lainnya menatap jengah drama dihadapan mereka.
"Akan bibi usahakan lebih cepat, bibi harus pergi sekarang, jaga diri kalian"
"Kalau ada perlu sesuatu hubungi saja Bram, dia tidak ikut denganku" ucap Tiffany menunjuk salah satu anak buah kepercayaannya.
"Baiklah, hati-hati bi" ucap Agatha sebelum Tiffany benar-benar menghilang dibalik pintu.
Meow...meow...
"Ada apa Louis? Apa kau lapar?" Rania mengelus kepala Louis yang menyembul keluar.
"Kak aku ke kamar ya" Agatha dan Lia mengangguk membiarkan Rania berlalu ke kamarnya.
"Jadi...apa rencanamu selanjutnya kak?"
"Entahlah aku belum tahu. Kita biarkan saja dulu" jawab Agatha acuh.
.
.
.
.
.
"Kau tidak lapar? Lalu kenapa?" Rania menatap bingung hewan berbulu dihadapannya yang sedang berguling ke kiri dan ke kanan.
"Kau ingin bermain? Kenapa tidak bilang"
Rania berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil sebuah boneka kecil berbentuk wortel yang bisa berbunyi jika ditekan. Louis merubah posisinya menjadi duduk saat mendengar suara yang dikeluarkan boneka itu.
"Ini bermainlah, aku mengantuk" Rania meletakan boneka itu dihadapan Louis sebelum berbaring di kasurnya.
Cukup lama Louis bermain sendiri dengan boneka barunya, sebelum beranjak ke atas kasur dan ikut berbaring diatas Rania.
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAULT [END]
Fiksi UmumOrangtua adalah sosok yang sangat berarti bagi setiap orang didalam kehidupan mereka. Namun, bagaimana jika sosok itu harus pergi lebih cepat dari yang seharusnya? Menorehkan luka mendalam bagi yang ditinggalkan. Rania Akcaya, si bungsu dari keluarg...
![FAULT [END]](https://img.wattpad.com/cover/229234332-64-k102748.jpg)