Ketika membuka matanya, Yeji dikagetkan dengan suasana yang sangat berbeda. Ia seperti kembali ke masa penjajahan, di mana semua rakyat Indonesia masih hidup berdampingan dengan Belanda.
Ditambah daerah tempatnya sekarang, penuh oleh pohon-pohon besar nan rindang. Juga banyaknya area persawahan yang sangat luas. Apakah ini perumahan Haechan dan Seungmin di masa lampau?
Sampai ketika ia berjalan agak jauh ke dalam, Yeji berjumpa kembali dengan rumah Madam yang masih kokoh dan banyak sekali tanaman cantik di halaman depannya.
Karena penasaran, Yeji masuk ke halaman depan dan masuk ke dalam rumah. Kebetulan, karena dirinya berwujud arwah jadi bisa menembus pintu.
"Wahhh..." Setelah masuk, Yeji kagum dengan desain interior yang sangat mewah dan megah. Bahkan ia tidak percaya kalau ini tahun 1940-an. Gadis itu berjalan berkeliling rumah mengagumi setiap kemewahan khas Eropa zaman dulu.
Sampai tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang perempuan Belanda yang duduk di sebuah sofa sambil meminum secangkir teh. Ditemani oleh seorang nenek berwajah pribumi.
PRANGGG
"Te Lief!!! (Terlalu manis!!!)" Perempuan itu melempar cangkirnya ke arah nenek itu. Dengan telaten, nenek pribumi tersebut membereskan pecahan cangkir sambil tersenyum.
"Maaf."
"WALGELIJK! (Menjijikan!)"
Tidak peduli jeritan minta maaf nenek tersebut, perempuan Belanda itu menariknya ke suatu tempat.
Yeji yang sudah mengumpat berkali-kali melihat kejadian itu, mengikuti perempuan Belanda itu. Dia tidak tega melihat seorang nenek disiksa dan diperlakukan semena-mena. Sekalipun nenek itu orang asing atau bukan.
Gadis itu terus mengikuti hingga tiba di ruang penjara bawah tanah tempatnya bersembunyi tadi.
Dengan mata kepalanya sendiri, Yeji melihat nenek itu disiksa menggunakan pecut dan disayat-sayat dengan kejam.
Karena tidak kuat, Yeji menutup mata dan telinganya mendengar jeritan kesakitan nenek itu. Ia tidak bisa membayangkan kalau neneknya sendiri yang diperlakukan seperti ini. Pasti dia akan menghajar perempuan Belanda itu kalau bisa sampai membunuhnya juga.
Hingga tiba-tiba, telinganya mendengar sebuah kalimat panggilan yang tidak asing.
"Madam."
Perempuan Belanda itu tadi menghentikan aksinya dan menoleh ke warga pribumi yang lain.
"Persiapannya sudah selesai."
Yeji melotot ketika tahu siapa perempuan Belanda keji itu. Dia adalah Madam. Perempuan kurang ajar yang menbuat Seungmin dan Haechan hampir gila karena kelakuannya.
Gadis itu makin kaget waktu melihat nenek tadi diseret seperti binatang dan dirantai seperti hewan. Di sekitar sana ada banyak lilin menyala dengan berbagai simbol penyembahan setan.
Hingga kurang dari semenit, nenek itu meninggal ditusuk pisau di bagian dada dan perut. Darah segar yang mengucur deras, langsung Madam tadahi dengan bak mandi besar.
Yeji makin mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar ketika Madam dengan santai masuk ke dalam genangan darah dan mandi di sana.
"Gila!"
"Gila!"
"Psikopat!"
"Aaaaaaa...!!!"
"YEJI!!!"
Yeji tiba-tiba bangun dan dihadapannya ada Seungmin yang menampilkan ekspresi panik. Sedangkan Haechan di belakang berjaga kalau Madam bangun.
"Lo udah sadar?" tanya Seungmin panik kemudian memeluk Yeji yang shock. Sedangkan Haechan mengelus punggung perempuan itu agar tenang.
"Madam gila, dia bunuh nenek-nenek biar abadi. Gue liat, dia mandi di genangan darah, gue liat ada tempat penyembahan setan, gue..."
"Ssttt, udah-udah..."
Haechan rasanya ingin sekali mengejek Seungmin dan Yeji. Tapi karena situasinya tidak tepat, ia mengurungkannya.
"Terus kita harus ngapain?" Haechan benar-benar muak dan ingin sekali menghentikan semua ini. Seungmin masih menenangkan Yeji, dan Yeji yang sesunggukan.
"Jawabannya ada di buku ini. Gue tahu kalau ini kitab sihirnya Madam. Waktu kekunci, random aja gue baca satu kalimat. Eh, ternyata kebuka."
Haechan diam mendengar penjelasan Seungmin sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Ji, lo masih inget tempat penyembahan itu kan? Kalo kita bakar ini buku, apa yang bakal terjadi?"
Seungmin dan Yeji terdiam kemudian larut ke dalam pikiran masing-masing.
"Slechte jongens moet worden gestraft! (Anak-anak nakal harus dihukum!)"
Mereka bertiga terkejut ketika mendengar teriakan Madam. Dengan kecepatan penuh berlari, Yeji dan Seungmin saling bertukar pikiran juga pendapat, sedangkan Haechan berusaha menghalau beberapa mayat yang tiba-tiba hidup.
"KITA BAKAR BUKUNYA. GUE MASIH INGET TEMPAT PENYEMBAHANNYA!!!"
Haechan hanya iya-iya saja mendengar ucapan Yeji karena sibuk melawan mayat, dan Seungmin berusaha melindungi buku itu agar tidak diambil oleh Madam.
***
[A/N]
Maaf ya aku baru upload sekarang. Seminggu kemarin aku baru ditolak sbm jadi masih gak ada mood buat nulis. Terus waktu itu aku sempet bilang mau rest bentar ya? Hehehe sebenarnya waktu itu aku lagi bad mood jadi sempet pikir mau rest.
Tapi kalo dipikir-pikir, mending aku semi-rest aja deh. Soalnya aku sendiri juga gabut nungguin pengumuman mandiri Uin Surabaya 😭 Doakan aku keterima ya? Itu harapanku yang terakhir soalnya 😭
Oke, sekian terima kasih dari Lica untuk para readers ku yang mau baca curhatan gak guna ini huhuhu
Thank you, stay healthy guys ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Madam ✔️
KorkuTentang Haechan dan Seungmin yang diganggu oleh sosok madam. Hingga suatu hari mereka mendapatkan bantuan dari Yeji, teman sekelas Haechan untuk menghentikan semua gangguan ini.
