Bersitatap

106 11 0
                                        

Rayya mulai merasa ragu, apakah ia akan tetap membiarkan dirinya terhanyut dalam romansa ilusif di hadapannya, atau segera membangunkan kedua sahabatnya yang nampak semakin pulas dalam dekapan malam.

Sepasang kekasih itu terus berdansa dengan gerak memutar ke segala arah, tapi kini seakan setengah melompat dan melayang di ketinggian. Terkadang mereka kembali hanya berputar pelan mengitari lantai dansa dalam posisi berdekap semakin erat.

Di antara dekapan erat itu mereka saling menatap, dan di antara gerak memutar itu mereka terkadang membuang pandang ke sisi tertentu.

Kali ini pandangan mereka jatuh tepat ke posisi dimana Rayya duduk menyaksikan tarian mereka sejak tadi!

Tapi Rayya yang duduk di lantai merasa pandangan sepasang kekasih itu lebih tinggi di atasnya. "Mereka tak mungkin menatapku," bisik bathinnya.

Hanya berselang tiga putaran setelah itu, mereka mulai bergerak mendekat ke arah Rayya sambil tetap berputar berdekapan, lalu menatap tepat ke arah dua bola mata Rayya!

Jantung Rayya berdegup keras melepas adrenalin yang memberi sinyal adanya ancaman eksternal di luar sistem biologisnya.

Setelah itu setiap kali berada pada sudut yang sama, mereka berdua selalu melemparkan pandang dan menatap tajam pada Rayya.

"Akhh ... mereka sadar akan kehadiranku!" bathin Rayya semakin bergejolak.

"Tapi aku yang lebih dulu menyadari kehadiran mereka," logika Rayya tak ingin mengalah begitu saja.

"Atau jangan-jangan ... mereka sengaja ingin hadir tampil di hadapanku?" rasa takut mulai mendekap logika Rayya.

"Jo ... Jojo ... Yussss ... Yus!" Rayya mulai berteriak membangunkan kedua sahabatnya.

Jojo dan Yusa tak sedikitpun bereaksi!

Gerakan melayang sepasang kekasih itu sungguh membuat Rayya merasa tak nyaman ... 

"Mereka pasti bukan manusia atau residual manusia ... mereka hanya rekaman visual ingatan masa lalu!" bathinnya berdilema.

"Tapi masa lalu siapa?" bathinnya lagi.

"Aku bahkan tak pernah hidup di abad lalu!" perang bathin semakin menjadi.

"Tak ada adegan film yang pernah kulihat seperti ini," bathin Rayya menggali ingatan terdekat.

Mereka semakin sering saling menatap. Intensitas tatapan yang semakin meningkat, tapi tak ada intimidasi dalam pandangan sepasang kekasih itu.

"Tapi mereka siapa?" gejolak imanensi bathinnya kembali bertanya lugu, bergerak dari pertanyaan "mereka apa" ke arah penerimaan manusiawi "mereka siapa".

"Hantu penjajah kah mereka?" 

"Tentara sekutu asal Inggris baru datang ke sini sekitar tahun 1945-an ... tapi atribut viktoria begitu kental menghiasi kehadiran mereka," argumentasi fisik mengalir begitu saja di benak Rayya.

"Mereka bukan dari kelas prajurit tempur ... aroma bangsawan terlalu melekat dari gerak tubuh dalam tarian dan gaun mewah mereka ... tapi mana ada bangsawan Inggris era viktoria yang menetap di sini," pikiran Rayya menggali setiap cerug pengetahuan yang ada dalam benaknya.

Mereka bersitatap di antara himpitan alam yang berbeda. 

Sepasang kekasih itu semakin meniadakan nalar fisika, mereka melayang terbebas dari cengkraman gravitasi. Ruang, waktu, energi, dan materi bak menyatu, tak terdefinisikan dalam semesta makna yang pernah terekam di satu petabyte benak Rayya.

"Jo ... Jojo ... Yussss ... Yus!" Rayya kembali berteriak membangunkan kedua sahabatnya.

"Joooooo ... Yusssssss ..!"

TARIAN BERDARAHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang