indah bagai asmara

201 33 77
                                    

🍃🍃🍃








Hujan rintik mengguyur Kedaton Wanara sore itu, saat alam mulai menggelap, mentari sudah sejak siang tenggelam dalam peraduan karena mendung menggelayut.

Ayu keluar dari rumah keluarga Dananjaya, tanpa payung, gadis itu berlari kecil, menyusuri jalan setapak sampai di depan rumah Arjuna yang semak bunganya basah oleh air hujan. Ayu berdiri menggigil di depan rumah Arjuna. Ia kehujanan dan kedinginan, seharusnya ia pulang, tapi, tadi sudah berjanji untuk bertemu Arjuna. Ayu pikir mungkin ia bisa mampir sebentar bertemu Arjuna, lalu pulang sekalian meminjam payung kalau ada, meski mungkin tiada guna, bajunya sudah basah kuyup.

Ayu mengetuk pintu perlahan, namun sepi tidak ada suara.

"Apa bang Juna sudah tidur?" Gumam Ayu.

Ayu mengetuk pintu sekali lagi, tetap saja tidak ada suara. Ayu menghela nafas, Arjuna yang akan ditemuinya entah di mana, Ayu membalikkan badan, meletakkan telapak tangannya di atas kepala, bersiap untuk berlari menerobos hujan saat terdengar pintu dibuka.

Ayu membalikkan badan.
"Abang Jun..." Ayu mengerjap saat melihat sosok pemuda tinggi berdiri di pintu menatapnya. Wajah yang Ayu rindukan, dan selalu membuat jantung Ayu berdesir.

Bukan Arjuna yang berdiri di pintu, tapi Seta. Pemuda itu menatap Ayu dengan rindu, sudah lama Seta mengabaikan Ayu, tapi Seta harus melakukannya, jika tidak, ia akan terhanyut perasaan cinta yang tidak akan bermuara.

"Abang Seta." Ayu menyapa Seta.

"Ehm...." Seta hanya menggumam, lidahnya terasa kelu.

Cinta, kata orang begitu mencandu, itu benar bagi Seta, dan cinta begitu manis, tapi tidak bagi Seta. Cinta itu pahit, saat Seta merasakannya pada Ayu tapi tidak mungkin mengungkapkan perasaannya yang tumbuh dan berkembang, bertahun-tahun lamanya, sejak ia masih muda dan belum memahami apa itu cinta.

"Abang Juna ada?" Tanya Ayu.

"Juna pergi sama Rakai, nganter Rakai kontrol." Jawab Seta dengan nada dingin. Seta tidak suka Ayu bersama Arjuna, meskia ia tahu, ia tidak memiliki hak untuk itu. Ayu bebas bersama siapapun yang ia suka, dan Seta merasa begitu tersiksa dengan kenyataan ini. Dia adalah satu-satunya pria, yang terikat, yang tidak bisa mendekati Ayu.

"Oh...." Ayu mengangguk tanda mengerti.
"Kalau begitu Ayu pamit." Ucap Ayu, tidak ada yang bisa Ayu lakukan karena Arjuna tidak di rumah, dan lagi Seta nampak tidak menyukai kehadirannya. Ayu tahu, Seta sudah memiliki kekasih yang cantik, kaya dan tentu saja berpendidikan tinggi, bukan seperti dirinya yang hanya tamat sekolah menengah pertama, jika dibandingkan, dirinya dengan gadis yang bersama Seta waktu itu, tentu tidak akan pernah sebanding. Ibarat, serbuk berlian dan butiran debu, nyata benar bedanya.

Ayu berbalik, dengan hati yang terasa sedih. Ia jatuh cinta pada Seta, tapi Seta adalah pria yang tak dapat dijangkau oleh tangannya. Kadang, dalam malam sepi di bilik sempitnya, Ayu merindukan Seta, dan menyesali, mengapa Seta dipertemukan dengannya, harus masuk ke dalam hidupnya, hingga Ayu terjerumus ke dalam perasaan bernama cinta. Cinta bertepuk sebelah tangan yang menyesakkan, sejauh apapun Ayu ingin melupakan, namun bayangan Seta selalu kembali.

"Ayu..." Telinga Ayu mendengar Seta memanggil.

"Iya bang?"

"Masuk dulu, di luar hujan, kamu bisa sakit, bajumu basah." Ucap Seta pelan. Sekuat tenaga Seta mencegah dirinya untuk memberi perhatian pada Ayu, namun akhirnya, gagal juga. Seta tidak bisa melihat tubuh mungil Ayu berjalan di bawah derai hujan dengan baju basah. Seta akan merasa bersalah, membiarkan hujan merajam tubuh Ayu yang dicintainya.

chiaroscuroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang