🍃🍃🍃
Tetes hujan semakin deras dan mendera di luar sana, sementara Seta dan Ayu semakin tenggelam dalam kecupan yang begitu intim dan mesra. Ada banyak kata cinta, ada banyak rasa yang selama ini mereka pendam, kini berada dalam pelampiasan. Ketika rindu menggebu-gebu, jika jatuh cinta itu buta, makan mereka akan tersesat, saling mencari dalam gelap, saling menggapai penuh hasrat.
Seperti Seta yang mendekap semakin erat tubuh mungil Ayu, mengecup semakin dalam, dan jemari mengusap pelan. Seta tau ia tidak akan bertahan. Ayu adalah puan yang dicintainya, yang membuat jantungnya berdebar dan membuat Seta melakukan segalanya demi Ayu, yang juga, oleh karena semua itu, Seta harus menjaga jarak dari Ayu, menenggelamkan perasaannya dalam sepi dan kosong, menatap Ayu dari kejauhan dan dalam diam, mengingkari bahwa cinta telah menusukkan pisaunya dan mengedarkan racunnya di setiap aliran darahnya.
Seta menyudahi kecupannya, dan menatap Ayu yang balas menatap Seta dengan bola mata jernih. Tatapan mata Ayu menyiratkan sebuah kecewa, kecupan manis yang Seta berikan menghilang begitu saja.
"Aku antar kamu pulang." Ucap Seta pelan dan berat. Tubuh Seta bereaksi sangat cepat saat tubuhnya berdekatan dengan tubuh Ayu. Seta menginginkan Ayu, tapi Seta tahu, ia tidak pantas untuk itu. Ayu adalah gadis yang tidak bisa dipersuntingnya sebagai istri, dan dimuliakan hidupnya oleh dirinya, Seta tidak memiliki kemampuan untuk itu, yang bisa dilakukan Seta hanyalah mencintai Ayu dalam diam.
Ayu menggeleng lemah. Ia tidak ingin berpisah dengan Seta begitu cepat. Jantungnya berderu kencang setelah Seta mengecupnya, dan ini adalah mimpi yang teramat indah, Ayu tidak ingin bangun lagi, biarlah ia hidup dalam mimpi ini.
Ayu mengangkat wajahnya, menatap wajah Seta. Begitu tampan, hidung mancung dengan mata kecoklatan, yang sedang menatapnya. Ayu mengulurkan tangannya, mengusap pipi Seta perlahan dan mengangkat tumitnya, mencium bibir Seta, yang lalu dibalas Seta dengan ciuman yang lebih hangat.
Mereka saling mencium lagi, tangan mereka saling menggapai dan meraba, dan Seta mendorong tubuh Ayu masuk ke dalam biliknya. Bilik yang dipenuhi buku-buku roman sampai filsafat, lalu membaringkan Ayu di ranjang kayu, berseprei batik, yang Arjuna pasang kemarin, menghempaskan tubuhnya sendiri di atas tubuh mungil Ayu.
Keduanya tahu, hasrat sudah meletik, menyala dan tak lama lagi berkobar. Seta terengah, mengendalikan dirinya, menatap Ayu.
"Kamu tau aku bisa melakukan sesuatu yang bakalan kamu sesali di kemudian hari. Kalau kamu bilang jangan, aku bakalan berhenti di sini."Tangan Ayu meraih leher Seta.
"Jangan." Bisik Ayu di telinga Seta.
"Jangan berhenti."Seta menatap Ayu, hendak mempertanyakan kata-kata Ayu, tapi Ayu lebih dulu mengecup bibir Seta lagi, dan mengambil tangan Seta, meletakkannya di dadanya, yang hanya ditutup selembar kaos kebesaran milik Seta. Jemari Seta serta merta meremas pelan, merasakan daging kenyal yang begitu pas dalam genggamannya. Seta meruntuhkan pertahanannya, melumat bibir Ayu, menyentuh dan mengecup tiap inchi tubuh Ayu, membawa gadis itu ke dalam kenikmatan duniawi yang pertama Ayu rasakan setelah merasakan sakit yang menghunjam tubuhnya, Ayu merasakan pelepasan yang begitu dalam menyelubungi tubuhnya.
Tampaknya, hujan tidak akan reda malam ini, langit bagai sedang berduka, meneteskan air mata yang tak kunjung henti, seperti mewakili Arjuna.
Arjuna pulang berjalan kaki dari warung kopi Lay, yang ada di sudut kampung, karena sepulang kontrol, Kai yang menurut medis masih perlu beristirahat malah ngotot pergi ke warung kopi Lay yang ada di sudut kampung untuk nongkrong sambil nonton dangdut bersama kawan-kawannya, dan Arjuna dipaksa untuk ikut bersamanya. Arjuna yang merasa bosan berada di warung itu akhirnya memutuskan pulang sendirian, tidak lagi menunggu Rakai. Maka, dengan payung pinjaman milik Umin, Arjuna pulang ke rumah dengan berjalan kaki.

KAMU SEDANG MEMBACA
chiaroscuro
RandomKisah tentang Arjuna, dan dua kakaknya, Rakai dan Seta, yang tidak mengakui Arjuna sebagai adik