hanya semalam

101 28 30
                                        

🍃🍃🍃

Arjuna membawa sebuah ember dan menyirami rumpun bunga yang ditanamnya di depan halaman. Sudah satu minggu hujan tidak turun, membuat tanaman bunganya mulai layu. Hujan terakhir adalah hujan di malam itu. Hujan yang mengguyurkan kenangan pahit untuk Juna.

Satu minggu sejak kejadian itu, Arjuna sama sekali tidak lagi bicara pada Seta. Ia merasa marah pada Seta, meski berulangkali saat ia sendiri, Juna berusaha memahami bahwa sebenarnya tidak ada yang salah jika Ayu memilih Seta dibanding dirinya. Tapi, di sisi lain, ego Arjuna berteriak bahwa, seharusnya Ayu tidak bersama Seta, karena kakaknya itu hanya berpotensi memberikan luka pada Ayu.

Jelas-jelas Seta bukanlah lelaki baik untuk Ayu. Seta itu fuckboy. Arjuna merasa bisa menjamin hal itu, bahkan Seta adalah lelaki simpanan wanita beristri, belum lagi Seta juga berpacaran dengan anak SMA centil yang dibawa ke rumah mereka tempo hari. Arjuna mendesah kesal. Seta begitu maruk. Apa tidak cukup Seta memiliki Camelia? Juga Sonya. Mengapa Seta masih harus merebut Ayu?

Sebenarnya ini bukan merebut. Arjuna sadar ia tidak pernah memiliki Ayu. Ayu hanya menganggapnya sahabat, berhenti sampai di situ. Tapi, tetap saja mengapa harus seperti ini jalannya. Mengapa harus Seta, kenapa tidak bisa dirinya yang dicinta.

Setiap kali bertemu Ayu, Arjuna hanya bisa berpura-pura tersenyum dan ceria,  padahal dalam hatinya terasa sakit, Entah sejak kapan luka itu ada setiap kali melihat Ayu.

"Bang Juna!"

Arjuna menoleh, dan menemukan Ayu, tersenyum berlari kecil menghampirinya. Arjuna berkata dalam hati, baru saja ia memikirkan Ayu, gadis itu sudah ada di hadapannya. Andai takdir semudah ini. Baru saja ia menyatakan cinta dalam hati, dan Ayu menyambutnya.

Mimpi. Itu adalah mimpi yang bahkan tidak akan terjadi seratus tahun sekali. Ayu menyerahkan hatinya pada Seta. Kakaknya yang tampan tapi brengsek. Oh! Berkali-kali Arjuna merutuk, menyesali nasib mengapa bukan dirinya yang mendapatkan cinta Ayu. Mengapa harus Seta dan Arjuna benci Seta.

Arjuna tersenyum tipis. Kehadiran Ayu kini bagaikan kopi pahit yang membuatnya terjaga. Terjaga dari mimpi indah angan perasaannya pada Ayu.

Ayu mendekat, bibir mungilnya tersenyum, tidak ada yang berubah pada Ayu, gadis itu selalu tersenyum setiap kali bertemu Arjuna, lalu mengajak Arjuna mengobrol tentang berbagai hal, tapi Arjuna merasa kini perjumpaannya dengan Ayu menjadi sebuah sembilu yang selalu menyayat hatinya.

"Sudah pulang?" Tanya Arjuna sambil merapikan deretan bunga.

"Iya." Ayu mendekati Arjuna, dan membuat Arjuna merasakan desiran halus di jantungnya. Cinta, itu seperti ini. Tidak peduli betapa terlukanya, masih saja berdiri di tempat yang sama.

"Abang, bisa jait kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Boleh minta tolong?"

"Untuk?"

"Den bagus Chandra mau lamaran, aku nggak punya baju yang bagus. Boleh enggak aku minta tolong jaitin baju?"

"Boleh." Arjuna tanpa berpikir menjawab. Bisa membuatkan baju yang bagus untuk dikenakan Ayu dan membuat Ayu senang, membuat Arjuna bahagia. Sesederhana itu kebahagiaan Juna. Awan mendung menggelayut di hatinya seminggu ini perlahan sirna.
"Kamu mau baju yang kayak apa?"

"Yang biasa aja bang."
"Aku gak punya uang banyak buat beli kainnya dan bayar jasa jahit abang."

"Gratis nggak usah bayar."

Mata Ayu membulat.
"Beneran?"

Arjuna mengangguk.
"Kamu mau model baju kayak apa?"

"Kebaya aja bang."

chiaroscuroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang