🍃🍃🍃
Hampir seminggu Rakai dirawat di rumah sakit, meski tidak tampak kesakitan sama sekali, hanya kadang Rakai terlihat lelah, apalagi setelah Krystal mengunjunginya, dan kadang Arjuna melihat leher Rakai berbercak merah. Kata Seta, Rakai terlalu banyak dosa, itulah sebabnya lehernya dijilat setan sampai memerah. Tanda merah itu adalah tanda jadi bahwa setan bakalan membawa Rakai ke neraka saat pria itu menemui ajal. Oleh karenanya, Seta berpesan pada Arjuna agar menjadi manusia baik agar tidak dijadikan teman oleh setan.
Tapi, Arjuna tidak sepolos itu, umur Arjuna beranjak 22 tahun, ia tahu bahwa di dalam kamar rawatnya itu Rakai melakukan sesuatu dengan Krystal. Selain pernah memergoki secara langsung, Arjuna juga pernah mendengar suara desahan misterius saat hendak menunggu Rakai. Gara-gara desahan misterius itu, Arjuna batal menunggui Rakai. Arjuna pikir, Rakai tidak perlu ditunggui, pria itu malah akan terganggu jika ditunggu, jadi Arjuna pulang ke rumah, tidur nyenyak di kamar Rakai yang penuh gambar penyanyi dangdut.
Hari ini Rakai kembali ke rumah, pria itu teronggok bermalas-malasan di depan televisi kuno yang masih memiliki antena seperti teletubbies. Sakit, adalah alasan paten bagi Rakai untuk bermalas-malasan.
"Abang mau teh?" Arjuna menawarkan pada Rakai.
"Kopi aja, sama gorengan ya, atau camilan apa kek."
"Abang kan minum obat, nggak boleh minum kopi."
"Minum kopi dan obat nggak bakalan bisa bikin gue mati. Yang bisa bikin gue mati, kehilangan Krystal." Ucap Kai, membuat Arjuna muak. Kakaknya ini seorang budak cinta sejati.
"Ya udah, Juna bikin dulu."
Arjuna ke dapur membuat kopi untuk Rakai dan membawa ke hadapan Rakai.
"Aku beli camilannya dulu ya bang.""Nggak ada camilan di rumah?" Tanya Rakai.
Arjuna menggeleng. Siapa juga yang akan menyiapkan camilan di rumah ini kalau bukan Arjuna. Selama seminggu ini, Arjuna bolak balik ke rumah sakit untuk merawat Rakai, dan juga mencari info lowongan kerja, tidak sempat memikirkan menyiapkan camilan.
"Ya udah sono beli."
"Ya ini baru mau beli." Arjuna berbalik hendak menuju pintu saat Rakai memanggil.
"Heh, Juna, kemari."
"Apalagi? Kalau disuruh beli rokok aku nggak mau. Abang masih sakit, jangan ngerokok."
"Dih, siapa yang nyuruh beli rokok. GR amat. Ini duit buat beli camilan, sama kalau kau mau beli apa terserah." Rakai mengangsurkan uang lima puluh ribu pada Juna.
Arjuna menatap Rakai tidak percaya.
"Cepet ambil, jarang-jarang aku ngasih duit, besok-besok ga bakalan aku kasih duit lagi."
Arjuna dengan cepat mengambil uang dari tangan Rakai.
"Makasih bang." Senyumnya sumringah, dan Rakai merasa hatinya hangat."Rencana kau mau kerja di mana lagi?"
"Belum tahu bang. Kemarin cari lowongan kerja tapi belum ada. Tapi, Ayu bilang ada lowongan kerja di salon Jennie."
"Jennie? Maksudnya salon Junaedi? Yang banci itu kan?"
"Nggak tau. Ayu cuma bilang salon Jennie."
"Ya Junaedi itu. Emangnya kau bisa potong rambut?"
Arjuna menggeleng. Potong kain ia bisa, tapi potong rambut, ia belum pernah melakukannya, tapi kalau untuk melayani keramas, creambath, atau rias, rasa-rasanya ia bisa melakukannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
chiaroscuro
AcakKisah tentang Arjuna, dan dua kakaknya, Rakai dan Seta, yang tidak mengakui Arjuna sebagai adik