11

1.6K 308 212
                                        



Apa Dimitri suka Edith?

Iya.

Jelas jawabannya iya. Dalam keadaan yang amat-sangat sadar, Dimitri sudah mengakui hal itu, walau cuma dalam hati.

Dimitri tidak cukup lambat untuk tahu perkara hatinya, terlepas dari fakta kalau perasaan semacam ini adalah yang pertama kali baginya. Oh, ayolah. Dia sudah kepala dua. Naif sekali untuk pura-pura kebingungan dengan semua gejolak yang dia rasakan tiap ada Edith di sekitarnya. Debaran jantung yang lebih cepat dari biasanya, temperatur di sekitar yang tahu-tahu melonjak tiap jarak mereka kurang dari sehasta, gelisah yang melanda tiap kabar tidak ada, keinginan untuk sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama yang lama, apalagi namanya kalau dia tidak sedang jatuh cinta?

Idih, geli banget.

Oke. Harus Dimitri akui, semua deskripsi barusan membuat sekujur tubuhnya merinding. Tapi karena sudah terlanjur basah, biarlah. Toh semua orang akan jadi menggelikan kalau sudah perkara perasaan, kan?

Sebelumnya, Dimitri sudah cukup sering mendapat pernyataan suka. Sudah tidak terhitung juga berapa banyak perempuan yang mendekatinya. Tapi selalu, yang dia rasakan adalah risih dan keinginan pergi menjauh. Salah satu permintaan yang selalu dia ucapkan tiap mau tidur pun adalah semoga oknum-oknum itu segera menghilang dari peredaran hidupnya. Pengecualian untuk Edith. Walaupun perempuan itu kerap mengganggu pikirannya akhir-akhir ini, Dimitri sama sekali tidak keberatan. Dan hal itu sudah cukup untuk membuat dia mengerti kalau dia masih tertarik dengan perempuan dan masih ada niat untuk melanjutkan keturunan.

Tapi untuk mengakui hal itu secara langsung, Dimitri masih belum mau. Dia juga tidak begitu peduli apa Edith sadar atau tidak, menganggapnya main-main atau tidak. Karena sejauh ini, yang Dimitri lihat adalah justru perempuan itu yang bermain-main dengan perasaannya. Jadi sebelum Edith juga ikut jatuh, Dimitri tidak akan pernah mengakuinya.

Maka dari itu, ketika ditanya langsung oleh oknum yang bersangkutan, Dimitri lagi-lagi mengeluarkan jawaban yang sama seperti sebelumnya.

"Gue berdebar karena gue hidup."

"Cepat banget?"

"Ya karena gue hidup dengan cepat."

"Emangnya lo Lightning McQueen?"

"Sehari aja nggak ngisengin gue bisa nggak?"

Dan seperti biasa, Edith akan menanggapi dengan tawa. Selanjutnya adalah Dimitri yang mendiamkan Edith, tidak mengajak perempuan itu bicara tapi juga menolak pergi dari sana.

"Mau ngambek sampai kapan deh, Dim? Ini dari kertas gue masih kosong sampai gambar gue udah mau jadi lo belum ngajak gue ngomong, loh. Jangan lama-lama. Gue gemes mau manggil lo Dek Dimi lagi jadinya."

Meski tahu Edith tidak berbicara sambil menatap ke arahnya, Dimitri tetap merotasikan bola mata. "Udah?" tanyanya tanpa bergerak sama sekali dari posisi awalnya.

"Hm?"

"Gambar guenya udah?"

Alih-alih menjawab, Edith malah terkekeh geli. Padahal sejak tadi dia tidak bilang apa-apa, kenapa penjenguknya ini bisa sadar kalau dia sedang jadi objek seninya? Tapi karena itu, Edith mempercepat gerakan tangannya dan tidak berbicara sama sekali sampai akhirnya gambarnya selesai.

"Tadaaa!" seru Edith, membuat Dimitri menoleh dan melihat hasil karyanya. "Sebenarnya kalau dari tadi lo mau gerak juga nggak apa-apa loh, Dim. Gue nggak masalah soalnya image lo udah tertanam di kepala."

"Lo pikir gue pohon." Dimitri berdiri lalu menghampiri Edith. Dia memperhatikan hasil goresan tangan Edith di atas selembar kertas yang tampak sangat menyerupai dirinya. "Bagus," pujinya.

Candle LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang