“Selamat Menikah, Uni.”
Kami mulai bersulang. Keluarga Yifei meminum bir, sedangkan kami hanya teh hijau buatan keluarga mereka. Mereka memahami kami tak terbiasa meminum alkohol. Padahal kami yang menikah, keluarga Yifei yang memanggil kami untuk makan malam. Aneh, tapi mereka sudah menganggapku keluarga sendiri.
Soal bicara bahasa Indonesia, keluarga Yifei sering belajar dariku dan orang lain. Hanya kata-kata ringan saja. Seperti makan, terima kasih, sama-sama, dan selamat pagi. Uni, atau Juni ialah panggilanku di sini.
“Xièxiè nǐmen dài wǒmen qù chīfàn,” ucapku tulus. Tak hanya itu, keluarga Yifei memberikan dua amplop merah berisi uang untuk kami. “Bùyòng, Māmā.” Aku mendorong tangan mama Yifei. Bukan sombong, aku tidak mau menerima amplop merah itu. Akan malam bersama saja sudah cukup.
(Terima kasih sudah mengundang kami makan malam. // Tidak usah, Mama.)
“Ràng wǒmen jiēshòu zhège hóngbāo, wǒ dài huì shēngqì,” ucap mama Yifei sedikit memaksa.
(Ayo terima amplop merah ini, nanti saya marah.)
Mama Yifei tak tinggal diam. Ia mengambil tanganku, lalu memberikan amplop itu ke tangan. Aku tidak bisa menolaknya, mama Yifei memaksaku untuk mengambil amplop merah itu.
“Māmā, Xièxiè nǐ guānxīn wǒ lǎopó, rúguǒ wǒ bùzài nà bāngmáng zhàogù tā.”
(Mama, terima kasih sudah peduli dengan istri saya. Kalau saya tidak ada, tolong bantu jaga dia.)
Itu suara Baskara. Mama Yifei terkejut, namun Baskara segera menjelaskan, bahwa Baskara bisa berbahasa Mandarin. Bicara sangat lancar seperti sudah lama tinggal di kawasan China, aku dibuat takjub. Pria itu sangat cerdas.
“Bùyòng xiè, Babas, Juni shì wǒ de nǚ’ér.”
(Tidak perlu terima kasih, Babas, Juni itu anak perempuan saya.)
Aku tersenyum hangat. Aku memiliki banyak orang tua di sini. Bos di kantor menganggapku sebagai anak, bahkan rela memberikan apartemen miliknya untuk kutinggali. Lalu mama Yifei yang memperlakukan seperti anaknya.
Kami melanjutkan makan malam. Di atas meja banyak sekali makanan khas chinese. Ada sup ayam yang dikukus menggunakan bahan-bahan alami, rempah khas China, jenis lauk lainnya. Sebenarnya keluarga Yifei vegetarian, tapi hari ini mereka menyiapkan makanan lain untuk kami. Ada tahu yang diolah seperti daging.
“Hào chī ma?” tanya Papa Yifei yang sedari tadi diam saja.
(Enak, nggak?)
Kami mengangguk serempak. “Nín bùshì sùshí zhǔyì zhě, wèishéme yào zhǔ ròu, Pà, Māmā?” (Bukankah kalian vegetarian, mengapa harus memasak daging, Ma, Pa?)
“Méiguānxì, Uni,” jawab mama Yifei.
(Tidak apa-apa, Uni.)
Ah, indahnya toleransi bersama mereka. Tidak semua sama, di sini tergantung bagaimana orang tersebut. Hanya saja aku beruntung, karena bertemu orang-orang baik seperti mereka.
“Jun, makan yang banyak biar nggak kurus,” bisik Baskara sembari terkekeh.
“Nggak, ah. Kalau gendut, kamu pasti berpaling.”
“Kata siapa?” tanyanya.
“Akulah,” jawabku sembari menikmati sup ayam. “Aku nggak bisa gendut, Bas. Mau makan sebanyak apa pun tetap kurus,” ucapku.
“Oh begitu.” Baskara mengangguk-angguk.
“Jun, saya senang mendengar ucapanmu barusan. Takut banget suaminya pergi, Juni?”
Aku menghentikan aktivitas makanku, menoleh ke arah Baskara yang tersenyum jahil ke arahku. “Mimpi! Sana pergi aja,” sahutku.
“Dasar. Masih saja gengsi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Juniara
ChickLitDi usia dua puluh sembilan, Juniara terus didesak keluarga untuk menikah. Kepulangannya dari Taiwan menjadi awal baru bersama duda beranak satu, Baskara. *** Juniara Somali bekerja sebagai penerjemah bahasa Mandarin di Taiwan. Kisah cinta Juni cukup...
Wattpad Original
Ini bab cerita gratis terakhir
