Hari ini Kalu pulang dengan Ojek online, bukan dengan sepedahnya. Sebab Andi melarangnya untuk tidak banyak beraktifitas dulu, Andi merasa bahwa Kalu masih kurang sehat, namun dirinya memilih diam dan merasakannya sendiri. Andi tau, Kalu bukan tipikal anak yang lebih mementingkan urusannya sendiri. Itulah yang membuat Andi kagum pada anak angkatnya, Kaluela.
...
Kalu membaringkan tubuhnya begitu saja, ia merasa bahwa hari ini hari yang cukup melelahkan. Ditambah lagi dengan ocehan-ocehan Meira serta April yang mengatakan bahwa sekolah heboh dengan perkataan yang dilontarkan oleh Bima malam itu yang sempat membuat dirinya bungkam.
Kalu meraba-raba tasnya mencari benda pipih yang sedari tadi berbunyi. Drettt..drettt.. Dan... Yah, Kalu menemukan satu nama yang sudah membuat harinya cukup lelah.
"Hal-hallo" ucap seseorang di sebrang sana.
"Hmm? Kenapee?" Jawab Kalu sekenanya.
"Gue minta maaf. Gue gak bermaksud kayak tadi. Maafin gue ya Kal."
"He'eh"
"Gue pengen ngajak lo keluar, bisa?"
"Bisa-bisa aja sii."
"Gue jemput jam 07.30 Gimana?"
"Boleh." jawabnya tanpa berfikir panjang.
"Oke Kal, siap-siap yang cantik ya hehehe."
Kalu malas menanggapi perkataan orang di sebrang sana. Kalu hanya menurut dengan apa yang di katakan orang tersebut.
Ia kembali bergeming tanpa disadari matanya menutup rapat, nafasnya berhembus dengan halus, dan kini sedang berdamai dengan alam mimpinya.
***
"Mbak siti, kalo papa pulang, bilang Kalu ijin keluar ya sama temen," ucap Kalu pada salah satu mbak yang membantu pekerjaan rumah di sana.
"Siap neng. Itu neng Kali udah cantik mau kencan sama pacarnya ya? cantik banget neng hehe," puji mbak Siti sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Ah mbak bisa aja. Yaudah Kalu berangkat ya mbak.. Dadaaah." Pamit Kalu terburu-buru karena waktu yang dijanjikan sudah hampir terlewat.
Dan di dalam sana mbak Siti berteriak, "hati-hatiiii neng." Kalu menanggapinya dengan senyuman.
Kalu menghampiri tempat di mana sudah terparkir motor besar berwarna hitam. Ia tersenyum saat sudah berada di depannya.
Berbeda dengan yang ada di hadapannya. Cowok itu terbengong-bengong saat melihat Kalu dari atas hingga bawah. Matanya sedikit memicing menatap seorang Kaluela di hadapannya, dan langkahnya dimajukan sedikit, hingga jarak di antaranya sedikit menipis.
"Ngap-" belum sempat Kalu bertanya apa yang di lakukan cowok di hadapannya, cowok itu lerlebih dahulu menutup mulut Kalu. Dan Kalu hanya bisa diam.
Saat mereka berdua sedang berada dalam kesibukannya. Mereka menoleh ke sumber suara yang didengarnya seperti sebuah barang jatuh.
"Bim?"
Ya Itu Bima. Bima sudah berada sebelum sesuatu yang dilihatnya tadi terjadi, yang di anggap sangat menyebalkan, dan sedikit menyakitkan perasaannya.
"Bim. Ini gak kayak yang lo liat," jelas Kalu, meyakinkan Bima.
Bima mundur beberapa langkah lalu berbalik sambil berlari. Kalu yang melihat itu mencoba mengejar Bima, namun sebuah tangan kekar mencegah lengan Kalu agar mengurungkan niatnya.
Kalu menghempas dengan kasar tangan itu.
"Jangan cegah gue Kak, Bima lebih berharga dari apapun buat gue!!" Ucapnya lalu meninggalkan cowok itu sendirian. Dan lebih tepatnya Harry. HARRY VIRZA ANGGARA, kakak dari sahabat Kalu sendiri, Bima.
Flassback..
Bima sengaja untuk datang ke rumah Kalu dengan sedikit membawa makanan kesukaannya. Martabak keju. Bima lebih memilih memarkirkan mobilnya jauh dari halaman rumah Kalu. Bima melangkahkan kakinya dengan senang hati.
Namun saat ia melangkahkan kakinya menuju pagar rumah Kalu. Bima tak sengaja melihat adegan yang di rasanya bahwa itu tidaklah mungkin!! Martabak keju bawaannya terjatuh begitu saja. dadanya terasa sesak.
"Bim?" Panggil Kalu saat mendengar suara sesuatu yang jatuh, lalu mendapati Bima yang sedang mematung di sana.
"Bim. Ini gak kayak yang lo liat," jelas Kalu panik.
Namun saat itu juga, bima memilih untuk pergi meninggalkan Kalu serta Harry yang masih diam tak menyangka.
"Biiimm!!!" Panggil Kalu yang sudah merasa lelah mengejar langkah Bima yang terlalu cepat.
"It-itu gak ka-yak yang lo li-at bim!!" ujar Kalu dengan suara yang terbata bata mencoba menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Sepatu nya ia tenteng dengan kedua tanga, Kini ia terduduk lemas.
"Lo-salah-li-at biimm," katanya kini dengan sedikit tangisan yang di dengar Bima.
Bima memilih diam mendengarkan semua yang di katakan Kalu tanpa berbalik menatap Kalu.
Kalu berusaha berdiri untuk menghampiri Bima, dan ditariknya baju Bima agar lebih dekat.
"Lo kenapa si kayak gini? Emang salah ya?" Tanya Kalu jail.
"Ya-ya salah lah," jawab Bima dengan nada sedikit meninggi.
"Salahnya di mana?" Tanya Kalu lagi, dan kini sudah berdiri disebelah Bima.
"Lo udah nyakitin perasaan gue secara gak langsung!!" Ucapnya, membuat Kalu mengernyitkan dahinya.
"Nyakitin? Dalam hal apa gue sampe nyakitin lo?" Kalu sedikit terkekeh dengan jawaban Bima.
Nyakitin katanya? nyakitin apanya? emang gue apain dia sampe dia bilang gue nyakitin dia? Monolog Velin.
Bima hanya diam. Dia begitu malu saat mengatakan hal yang tanpa Bima sendiri sadari perasaannya telah terungkapkan.
"Yaudah. Gue minta maaf, Kak Rendi cuma ngajak gue jalan doang. Gara-gara tadi gak sengaja ngebasahin rambut gue," jelas Kalu yang menurut dirinya sudah cukup detail.
"Terus?"
"Nabrak," Bima yang mendengar jawaban Kalu manatap sinis seperti rasa kesalnya yang sudah tingkat dewa.
"Terus kenapa tadi lo kiss kissan di depan sama dia?" Tanya Bima dengan beraninya.
"Kiss?" Tanya Kalu dan Bima hanya berdeham.
"Kiss? buset, Dia tuh tadi benerin anting gue, tadi tuh anting gue nyangkut di rambut." kini tawa Kalu meledak dengan cepat.
"Gak usah ketawa!! Gak ada yang lucu Kal. Udahlah, gue balik." ucap nya lalu pergi meninggalkan Kalu sendirian yang masih berdiri mematung sambil menatap kepergian Bima yang mulai menghilang dari pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Velin
Teen FictionGak ada spoiler, kalo penasaran tinggal baca aja. -author cantik.
