Arkana Meivio adalah lelaki yang menghabiskan masa mudanya bersahabat dengan 4 perempuan. Ia sudah terbiasa menghadapi mereka karena kebersamaan mereka sejak kelas 10 SMA.
Namun , siapa sangka jika Arka harus bertemu perempuan yang jutek melebihi s...
'Hai gadisbermatacokelat, kamubertemudengan orang yang tepat.' – Arkana.
*
"ARKANA MEIVIO! MAMA HITUNG SAMPAI TIGA! KALO KAMU GAK MAU BANGUN, MAMA PANGGIL PAK RUSLAN BUAT BAWA BUAYANYA KE KAMAR KAMU SEKARANG!"
Lagi dan lagi. Setiap pagi milik Arkana harus dimulai dengan teriakan sang Mama yang super seperti itu.
entah Mamanya memiliki kekuatan dari mana. Hanya saja, ketika sang Mama berteriak, otomatis tubuh Arkana tergerak untuk bangun, meski matanya masih terpejam.
Arkana Meivio Kurniawan, atau yang biasa dipanggil Arka. Anak tunggal dari Mama dan Papa yang bekerja di bidang penerbitan. Sebagai anak tunggal, biasanya orangtua akan membebankan anaknya untuk mengurusi warisan keluarga.
Nyatanya, Arka tidak demikian. Arka tidak ingin mewarisi perusahaan miliki orangtuanya. Ia justru membanting setirnya ke bidang siaran.
Sebelum ia menempuh jalur itu, Arka sudah secara diam-diam menamatkan pendidikannya di jurusan komunikasi. Beruntung, ia dapat lulus tepat waktu.
Karena jika tidak, entah apa yang akan dihadapi olehnya saat ini. mungkin saja, amarah Mamanya dan juga kekecewaan Papanya yang melihat anak semata wayangnya harus melenceng jauh dari passion orangtuanya.
"Makan sarapanmu. Mama dan Papa harus pergi ke Jogja pagi ini. Eyang uti-mu sakit lagi. Sekali-kali, kamu ikutlah kesana. Jenguk beliau."
Suara Papanya hanya terdengar seperti angin lalu bagi Arka. Jogjakarta adalah tempat yang berada di list paling akhir untuk ia kunjungi.
Kota itu memicu ingatan yang sangat ia benci dan sayangnya, eyang uti tersayangnya masih tinggal disana. ia rindu belaian sayang milik eyangnya, namun ia membenci kota tempat tinggal milik eyang. Menyedihkan.
Sebuah usapan lembut mampir di pundaknya. Arka menoleh dan mendapati Mama tersenyum lembut padanya.
Di hadapannya terhidang sepiring roti dengan irisan daging. Mama tahu makanan favorit milik Arka. Maka, tanpa banyak bicara, ia memakan sarapannya sembari mengecek gawainya.
"Radio gimana, Ka? Lancar?"
Arka menjawab pertanyaan Mamanya dengan gelengan, "semakin canggih dunia, semakin canggih pula bidang siaran. Dan, sayangnya, tidak banyak orang yang ingin mendengarkan radio."
"Apalagi, sekarang sudah ada aplikasi music seperti joox, spotify, dan lain sebagainya. radio akan semakin tersingkirkan seiring berjalannya waktu. Arka mau minta sama Pak Safari buat nambahin spot baru disana. misalnya, pojok karya. Atau apapun itu. masalahnya, Pak Saf lagi jarang di kantor dan justru nyuruh Bimo yang jadi pengawas dadakan. Ck."
"Papa akan coba menghubungi Pak Saf. Setahu Papa, Rania sedang dalam perjalanan pulang kesini. Mungkin saja, itulah alasan mengapa Pak Saf terlihat sibuk." kini, Papanya ikut mengecek gawai.
"Rania?" tanya Arka sembari mengingat alasan mengapa nama itu familier,
"Oh.. manager penyiaran yang jarang di tempat itu. kenapa harus dia yang jadi manager penyiaran dan malah Bimo yang manager pemasaran? Gak sesuai bidang banget."
Ia melirik Mama yang sibuk menyiapkan makanan untuk ditaruh di kulkas. Padahal, itu adalah hal mubazir. Arka jarang makan di rumah.
Dan karena itu, ia juga jarang ingin tinggal di rumah selain orangtuanya sedang ada.
Gawainya bergetar dan Arka melihat pengirim pesan. Senyumannya tersungging saat ia melihat kiriman foto di dalam obrolan yang diterimanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.