[11] Date (?)

23 2 0
                                        


Hari ini gak ada quotes. Adanya tebak-tebakan. Bebek, bebek apa yang jalannya ke kiri terus?
Coba jawab di kolom comment.
Yang bisa jawab bener, gue follow.

*

Arka terbangun pagi-pagi sekali. Mama dan Papanya mengerutkan dahi ketika anak lelaki mereka satu-satunya sudah dalam keadaan mandi dan duduk di meja makan.

"Kamu gak apa, Ar?"

Arka mengangguk menjawab pertanyaan mamanya sembari menyesap teh hangat buatan mamanya. Tangan Arka menyendok nasi goreng setelah menghabiskan setangkup roti panggang selai nutella.

"Kamu banyak banget makannya, Ar. Pelan-pelan." Galang mulai khawatir dengan kelakuan anak semata wayangnya yang kali ini terlalu ajaib.

Arka hanya menjawabnya dengan cengiran khas, tanpa bicara. Karena sudah menjadi kebiasaannya jika sedang makan, maka ia tidak ingin bicara.

"Menghargai makanan itu penting." ucapnya kala ditanya mengenai kebiasaannya itu.

Setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat, Arka menarik tas selempangnya dan memasang earphone di telinganya lalu memutar lagu Immortal milik Fall Out Boys.

"Arka pergi dulu, Ma, Pa." pamitnya setelah menyalami kedua orangtuanya.

"Kamu mau kemana dulu ini?" tanya sang mama saat Arka memakai sneaker.

"Ke bakery-nya Reya dulu. Abis itu mau ada janji sama temen. Setelahnya ada meeting project baru. Kemungkinan Arka pulang setelah makan malam, ma." jelas Arka. Kini lelaki itu sudah siap dengan helm di kepalanya.

"Hati-hati, Ar!" seru mamanya ketika suara motor Arka sudah perlahan menghilang.

*

Arka meminta ijin pada Reya untuk selesai lebih cepat dan Reya pun mengiyakan setelah meledeknya karena Arka sempat merapikan kemejanya dan memakai cologne.

Arka bersenandung selama perjalanannya ke rumah Alterra. Suara sejuk gadis itu menular pada hati Arka. Bahkan Alterra dengan senang hati mengiyakan ajakannya untuk nonton di bioskop.

Sesekali Arka mengecek alamat Alterra melalui aplikasi maps di ponselnya. Dan ketika ia menemukan gang yang diarahkan menuju ke rumah Alterra.

Arka merasa nyaman dengan daerah pemukiman rumah Alterra. Suasana hangat sangat terasa dari keramahan para warga yang menegur siapapun yang lewat. Tak terkecuali Arka.

Bahkan anak-anak pun dapat berlarian dan bermain sesuka hati mereka. Arka tersenyum dan mengingat kampung eyangnya. Ia merasakan hal yang sama ketika berada disana. Namun, hanya karena masa lalunya yang pahit, ia harus pergi meninggalkan kota yang tenteram itu.

Arka berhenti di rumah berwarna putih dengan cat pagarnya yang senada. Ia kembali memastikan jika alamat yang diberikan Alterra dengan yang ia datangi sama. Setelah dirasa cocok, Arka turun dari motor dan masuk ke dalam pekarangan rumah Alterra.

Tepat ketika ia ingin mengetuk pintu rumah Alterra, pintu sudah terlanjur dibuka dari arah dalam dan menampilkan sosok Alterra yang tampak manis dengan rambut tergerai.

"Malah bengong. Ayok." ajak Alterra yang langsung diiyakan oleh Arka.

Arka memberikan helm yang ia siapkan untuk Alterra lalu naik terlebih dahulu keatas motor.

"Gue sengaja ngajak pergi lebih cepet. Karena motor gue jalannya lama. Jadi, kita harus lebih cepet perginya, biar gak telat." jelas Arka yang dimengerti oleh Alterra.

Arka's ValentineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang