[10] Arka lagi, Arka terus

19 2 0
                                        

Mengapa kamu selalu ada di dekatku? Lama-lama aku akan terbiasa dan akan menyulitkan jika kamu tidak ada. -Alterra

*

Arka mendecak kesal. Ia kira akan bertemu dengan Alterra hari ini meskipun terlambat. Nyatanya, jadwal siaran harus diundur karena kesalahan Bimo.

Arka yang terpaksa memboncengi Celine karena perempuan itu tak mau beranjak dari boncengan karena Reya tidak bisa mengantarkannya ke kampus.

"Lu kapan selesai bimbingan sih? Capek juga anter jemput lu macem ojek gini." ujarku sembari membenarkan kaca helm yang longgar ketika sampai di parkiran kampus.

"Diem deh. Kalo dosen pembimbing gue gak rese, gue udah kelar dari kemarin-kemarin."

"Oh.. Dosen lu yang waktu itu ketemu kita pas beli soto? Ganteng juga. Kenapa gak digebet aja sih?"

Kini kami berjalan di pelataran kampus. Celine memaksaku menungguinya bimbingan. Jadi mau tidak mau, ku turuti kemauannya.

"Iya, cowok yang itu. Sumpah, nyebelin banget orangnya. Jangan lu paksa gue buat jadian sama dia. Ogah!"

Ucapan asal yang keluar dari mulut Celine membuat Arka tertawa keras. Arka merangkul pundak Celine yang lebih pendek darinya.

"Iya juga sih. Selain lo pake susuk, keknya tu dosen juga gak mau sama lu."

Dan, akhirnya sebuah tamparan keras mampir di belakang kepala Arka.

"Kalo gue sampe geger otak, berarti salah lu, ye." ancam Arka sembari menekan kepala Celine dengan sikunya.

"Sikap lu itu yang bikin gue kasar. Ngeselin banget sih. Gini-gini gue cantik lagi. Udah ah. Gue masuk dulu."

Tanpa sadar mereka sudah sampai di depan ruang bimbingannya Celine. Arka menunggui gadis itu sembari bersandar di pilar. Suasana kampus masih familiar baginya. Banyak kenangan yang tercipta di kampus ini. Salah satunya, ketika dirinya harus merasakan ospek terkampret sepanjang hidupnya.

"Arka!"

Arka menoleh ketika namanya dipanggil dari ujung lorong. Matanya menyipit memperhatikan sosok yang memanggil dirinya. Setelah benar-benar melihat dan tidak mengenali seseorang tersebut itu, Arka pun bertanya.

"Lu siapa, ya? Gue lupa dah." tanya Arka yang dijawab dengan kekehan dari seseorang yang tadi memanggilnya.

"Masih aja kelakuan lu. Sok gak kenal ama orang lain."

"Beneran. Gue lupa sama lu. Siapa sih? Ingetan gue burem." ujar Arka dengan memberikan tanda 'v' dengan kedua jarinya.

"Dhimas, anak Kimia. Seangkatan sama lu. Kita juga pernah sekelompok pas ospek."

Seketika ingatan Arka melintas ke masa ospek yang menurutnya terkampret sepanjang sejarah hidupnya.

"Ah, sialan. Gue kira siapa. Gue sampe gak ngenalin gini. Dulu lu cupu gak jelas gitu, kan. Ditambah pake behel pula. Kemana tuh Dhimas yang begitu? Gimana kagak lupa coba."

Dhimas tertawa mendengar penjelasan Arka tentang dirinya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Arka. Dirinya dulu culun dan berbehel. Ditambah dengan poni yang dulu dijuluki sebagai 'poni lempar ala kak Seto' semakin membuatnya sering diolok oleh teman seangkatannya.

"Karena seseorang, gue memutuskan berubah. Lagian, malu juga kalo asisten dosen tapi penampilan culun."

Jawaban Dhimas membuat dahi Arka berkerut. "Lu asisten dosen? Woah! Sebenernya udah berapa lama kita gak ketemu, ya? Kok gue gak tau perkembangan dunia gini." ujar Arka heboh. Dhimas menimpalinya dengan tertawa.

Arka's ValentineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang