Mereka Bercerita

14.6K 383 2
                                    

Echa POV

Betapa dinginnya hari ini. Dari pukul 12 siang sampai sekarang pukul 19.00 hujan masih mengguyur deras. Betapa senangnya bangsawan cacing keluar membasahi tubuh mereka. Tempat dan keadaan yang menjadi favorite mereka. Didepan rumah, aku melihat bunga-bunga mawar yang sangat segar dan menawan. Tetesan air yang ada di setiap sudut tangkai, batang dan daunnya sangat memikat hati. Ada ketenangan. Ku pandangi mobil Caca yang basah terguyur air hujan . Setengah. Bagian buntut belakang honda Jazz merah itu. Sangat menawan. Butiran air itu membuat sensasi yang menarik hatiku. Seakan menari-nari menemani setiap benda yang disinggahinya. Memberi kesan bahwa ia hidup, sangat menawan. Masalah yang terjadi seakan terbawa air yang mengalir. Setiap tetesan air hujan membawa cerita bersama dengan ritme dan emosi yang hanyut berkelompok bersama dengan kawanan air lainnya. Aku membuka jendela. Merasakan hangatnya hembusan angin yang terbawa derasnya air hujan. Aku suka hujan. Ia bukan becek, hanya saja sangat memukau. Lihatlah ketika  ia menari dengan berjuta gaya.

Mbak Sari memanggilku dari luar kamar. Mengganggu perasaanku yang sedang dekat dengan tetesan air hujan.

" Ya..

Pintu terbuka

" Non, Bapak menyuruh non kebawah"

" Ada apa Bude?"

Sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu. Aku menuruni anak tangga. Setiap tangga mempercepat jantungku berdetak. Ada apa gerangan??

Betapa terkejut , Mr dan Mrs Winasa ada diruang tamu . Ada apa ini? Batin ku memekik. Aku sangat takut. Takut untuk membayangkan yang tidak baik dari kedatangan mereka. Mataku berputar lirih memandangi mereka. Meski tetap tak ku tinggalkan tata krama yang sopan untuk  menyapa mereka sebelum bokongku mendarat di kursi.

" Ada apa Bunda?"

Sepertinya Bunda enggan membuka mulutnya. Kemudian ku alihkan pandangan pada Papa. Tak ku temukan juga aksi dari reaksi yang ku beri. Tanpa basa basi, Mrs Winasa meraih dan menggenggam tangan ku.

" Echa.. Tante mohon kamu menerima permohonan kami"

Apaa???? Aku semakin tak karuan. Permohonan apa yang sangat penting pada akhirnya mereka datang membicarakannya langsung. Aku takut. Jay!! Laki-laki scandal itu.

" Cha.. Tante mohon kamu menerima pinangan keluarga tante. Betapa inginnya tante memiliki seorang menantu sehat rohani dan jasmani. Sudah lama tante memperhatikanmu. Echa sangat berbeda dengan putri-putri pengusaha lainnya. Kamu yang tante cari untuk menjadi menantu."

Tubuhku berguncang. Shock! Permintaan konyol apa itu?? Aku tidak mau. Pernikahan bukan hanya sekedar menikah "sah" tapi komitmen dari sepasang suami istri. Batinku bergelora. Kata apa yang harus ku lontarkan? Aku mencari pembelaan dari sorotan mata Papa. Tak ku dapati sesuatu.

"Papa.. Bukannya kita sudah sepakat?"

Mr. Winasa menatapku!! Aku menangkap sinyal menyelidik dari tatapan kilatnya itu.

" Ia , Papamu sudah mendatangi saya. Ia memberi surat kebun dan rumah. Tapi tidak kami terima. Kami menginginkan mu dengan iklas Echa. Bukan dengan 2,5 T. Hargamu lebih tinggi dari bantuan yang diberikan oleh keluarga om.  Seharusnya kamilah yang hendak mengucapkan terima kasih kepada Mr Grandt melahirkan anak yang luar biasa cantik sepertimu."

" Maaf Om ,tante aku tidak bisa. Tolong lepaskan aku dari permohonan ini. Ini tidak segampang yang om dan semua katakan. Aku tidak pantas mendampingi Jay. Dia perlu mendapatkan yang terbaik"

Aku berusaha menolak dengan halus.

" Tante memohon Cha.. Tante membutuhkanmu. Kami sangat tahu Jay seperti apa. Kamu sangat sempurna bagi dia."

"Tidak tante.. Echa mohon"

Aku menahan tangis di sudut hatiku. Tak ingin menjadi lemah didepan siapapun. Mereka tak berhak mengetahui kelemahan ku. Sedikit kelemahan akan membuat kita jatuh.

" Maaf om, tante, Echa tidak bisa! Aku tidak menyukai pria seperti Jay. Dia laki-laki yang tidak baik dimata Echa" betapa beraninya aku mengatakan hal yang tidak berkenan itu. Mrs Winasa menangis didepan kami semua. Aku tak melihat sosok anggun dan berprinsip seperti yang terlihat dimedia. Ia menangis sangat menyedihkan. Mr. Winasa memeluk erat istrinya, seakan memberi kekuatan.

Papa dan bunda memejamkan mata mereka. Mereka menyimpan penolakan. Aku harus bertarung sendiri.

" Sepertinya pembicaraan ini kita sudahi om, tante. Kalau masalah itu saya menjawab Tidak. 2,5 T akan saya bayar meskipun tak tahu kapan pastinya"

Saat Aku melangkah, tanganku digenggam oleh sepasang tangan yang sangat dingin. Aku menoleh. Mrs. winasa!!!

"Tante akan berlutut dihadapanmu Cha. Tante mohon jadilah menantu dikeluarga kami. Kamu adalah perempuan hebat dan dari keluarga yang luar biasa. Pertolongan kami kemarin memang iklas. Saat itu kami tidak tahu masalah kalian. Suami saya hanya memberi dengan sukarela."

"Mama.. Sudahlah! Jangan dipaksakan. Jangan menyudutkan Echa"

" Berikan tante cucu. Tante terkena kanker rahim."

Tangan yang menggenggam itu mengendor. Tubuh Mrs Winasa berselonjor tepat di kakiku. Isak tangis membanjir. Bunda menangis, Mrs. Winasa tersendak-sendak ditengah tangis yang sudah dari tadi dikeluarkannya. !!

"Biarkan aku berpikir dulu"

Aku meninggalkan mereka dengan air mata yang sudah mengalir. Membawa kerapuhanku!!! Kenapa nasib begitu kejam padaku?? Mungkinkah aku akan melawan komitmenku dan hatiku?? Atau malah jatuh dan kalah pada kemauan mereka?

Aku mengurung diri semenjak kedatangan keluarga Winasa. Terpendalam dalam lara, menangis dalam kesunyian malam. Malam pun tak mendengarkan nyanyian sedihku saat itu. Aku menghentakkan kaki dan tubuh yang sudah sangat lemah. Melampiaskan kemarahan pada dunia ini kepada tubuhku sendiri.  Menjambak rambut , menghantamkan sekujur tubuh kedinding tembok putih itu. Menggigit jari ,mencubit- cubit kulit, semua ku lakukan didalam kesadaran ku. Menangis , menangis itu sajalah yang terjadi didalam kamar dengan arsitektur yang klasik. Mimpiku telah sirna. Apa gunanya aku berdoa dalam keyakinan dengan Mu Tuhan? Dimanakah Kau sebenarnya? Sungguhkah kehidupanku yang kelam ini terlepas dalam perhatianMu?
Pesetan dengan mimpi, aku membenci dunia ini. Mengapa banyak orang dengan usaha minimal mampu berpijak diatas bumi ini? Dunia yang tidak adil!! Bagamana dunia ini bisa ku ijinkan mentertawakan aku? Tidak akan!!! Semua akan hilang dengan sekejap. Hidupku akan segera berakhir!! Berakhir ditangan laki-laki gila yang akan menjadi suamiku!!

Haruskah ku ijinkan hidupku berakhir di dalam kemauan mereka? atau aku harus menantang balik semua kemauan dunia dan menghentakkan mimpi mereka?

CommitmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang