Hati yang Menantang

11.9K 360 8
                                    

Kunjungan yang berbuah manis, sepertinya Mrs Winasa mendapat pemulihan dari Echa. Perempuan yang ingin sekali dijadikan menantu itu. Keceriaan terpancar. Apapun tak bisa menutupi rasa itu. Semenjak kedatangan yang pertama sabtu lalu, Echa semakin rajin mengontrol Mrs Winasa. Apa yang kamu pikirkan?? Bukan!!! Echa hanya ingin mengembalikan perempuan itu menjadi wanita yang kuat. Menghadapi kenyataan , tak semua bisa dilalukan dengan materi sebanyak apapun. Axy perempuan belia itu juga sepertinya sudah mulai bersahabat dengan nya. Sepertinya, Echa berasumsi.

Kala itu, sore yang cerah, kediaman Winasa. Echa berada disitu. Ia mengunjungi Mrs Winasa. Perempuan itu dengan telaten memberikan makan Mrs Winasa, badannya masih sangat lemah, hanya saja dengan batin yang sudah berangsung pulih membuat wanita itu menikmati apa yang menjadi kondisinya sekarang. Mrs Winasa menceritakan tentang kegembiraannya, ia tertawa dan menunjukkan kekuatannya bagi siapapun. Ia seperti Ratu yang sedang diurapi. Echa gadis itu mengetahui apa yang menjadi kehendak hatinya, mengerjakan misinya. Memulihkan Mrs Winasa secara total. Hati yang bersukacita dan jiwanya tinggal dalam ketentraman. Ia memberikan harapan dan jalan hidup bagi orang yang membutuhkannya. Echa tak pernah was-was, bertemu dengan Jay, si anak sulung. Hampir 2 minggu ia bolak-balik mengontrol Mrs Winasa, tak pernah ia bertemu dengan Jay. Pria busuk dan bodoh itu, Echa berasumsi.

Rumah Winasa sangat besar, tiga kali rumah Grandt. Sepertinya rumah itu berdiri diatas tanah berukuran ± 2,5 Ha. Sistem penjagaan keamanan yang sangat ketat. Dari gerbang utama , kita akan melihat ada pos keamanan yang memeriksa siapa saja yang masuk. Sebelah kiri dan kanan, disuguhi pandangan banyak jenis bunga yang bergoyang dibawah terik sinar matahari. Ia menari-nari mengikuti irama angin. Angin yang mengajaknya ikut riuk berdansa dengan bebas. Tak hanya sekedar bunga, ada juga tumbuhan lainnya seperti pohon berakar tunggal. Sepertinya semua jenis tumbuhan ada di lahan Winasa. Tak hanya itu beraneka ragam bunga warna-warni di poles dengan bentuk yang tertata dengan baik dan indah. Semuanya menambah pesona siapa saja yang meilihatnya. Menuju perkarangan rumah ada patung perempuan mengenakan pakaian seperti sari untuk menutupi tubuhnya. Ia tersenyum ditengah pancuran air yang mengalir deras. Sepertinya ia bergembira. Ia menyambut siapa saja yang datang. Diujung sebelah kanan kediaman Winasa ada sepasang burung merak yang dilepas bebas. Sepertinya itu sengaja. Untuk menambah kealamian halaman Winasa yang luas. Ubin jalan peghubung masuk menuju pintu rumah diberi gaya klasik. Berwarna hitam dan disisi kiri-kanan akan kita dapati banyak bunga berwarna kuning, hijau ,merah dan warna lain. Kamboja, Jasmine, Bongsai, bougenville beraneka ragam warna, Jambu air cangkokan, Cattleya, Mawar, dan banyak tumbuhan pakis dan paku-pakuan Melihat luasnya perkarangan ini, tentu ada orang yang khusus merawat dan menjaga keasrian halaman ini. Siapa? Entahlah... Yang pasti ia bertangan dingin dan cekatan dalam merias tanaman.

"Cha... Tante sudah sehat, dan tante semakin sehat jika kamu terus berada disamping tante. Maaf ya sayang jika sudah merepotkan mu"

Mata itu teduh, mencari kenyamanan dari Echa. Matanya seakan berbicara.

"Ia tante. Apa yang Echa lakukan tidak berat hanya untuk menyenangkan hati tante"

Wanita berumur 23 tahun itu masih memendam hasratnya. Menimbun beban hatinya. Ia tak ingin jeritan hatinya terbongkar oleh siapapun. Perempuan yang berani menolak pinangan keluarga terhormat dan berkelas seperti Winasa.

"Bagaimana dengan Papa dan mama mu? Apakah mereka tahu kamu kemari? Tante takut mereka merasa kalau tante membuat putrinya menjadi pengasuh wanita tua seperti Tante"

"Jangan ada pikiran seperti itu. Keluarga ku mendukung apa yang slalu ku kerjakan "

Mrs Winasa mencari kebenaran dari wajah Echa. Ia sepertinya menangkap keraguan Mrs Winasa.

"Tak ada yang perlu tante khawatirkan, Echa menyayangi tante apapun keadaannya"

Mulut itu menutupi keluhan-keluhan , tanganya meraih tubuh Mrs Winasa, dengan memeluk , Echa sudah memberi kekuatan.

CommitmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang