05 - Wani Ajur
Urip kui senajan abot tetep kudu dilakoni. Ojo sambat lan ojo ngeluh. Ojo mandeg senajan dengkul wis ndredek.
🍭🍭🍭
Bukan masalah percintaan saja yang membuat kepala Dava mau pecah. Masalah perekonomian keluarganya juga selalu ia pikirkan. Terlebih lagi Dava adalah anak lelaki satu-satunya, menjadi tumpuan harapan bagi orang tua dan juga kedua adik perempuannya sejak ayahnya sakit-sakitan.
Adik yang pertama baru lulus SMA, sedangkan yang satunya baru lulus SMP. Tentu saja butuh biaya yang sangat besar untuk menghidupi keduanya. Dava sebagai kakak tak mau adik-adiknya kesulitan. Pria itu mengalah. Setelah lulus SMA, Dava tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih mencari pekerjaan.
Kadang jalan hidup memang tidak selamanya simetris. Selama Dava mencari pekerjaan itu ada saja tantangannya. Seperti gaji sedikit setelah bekerja berjam-jam, naik turun bukit sambil membawa karung berisi teh, tidak diberi makan sesuap pun, bahkan pernah ditinggal di kebun sendirian. Setahun kemudian Dava mendapat panggilan kerja di Solo.
Satu tahun tinggal di Solo, Dava mendapatkan pengalaman kerja yang luar biasa. Untuk pertama kalinya ia memperoleh gaji yang besar. Saat itu juga gaji tersebut ia kirim ke orang tuanya. Lalu ketika kontrak kerja sudah habis, Dava dipanggil oleh pakdenya ke Yogyakarta untuk membantu menjaga toko yang pada saat itu sedang pasang surut. Selama dua bulan Dava mencoba membangkitkannya lagi. Ketika sudah berjalan lancar, Dava diangkat menjadi supervisor.
Seharusnya pada saat itu, Dava ingin menceritakan pengalaman kerjanya sampai diangkat jadi supervisor kepada Asha. Namun, Asha malah lebih dulu memutuskan hubungannya.
"Dalam percintaan kita itu harus wani ajur. Tidak mesti yang kamu anggap baik, akan baik selamanya. Selain berani hancur, kamu juga harus berani sabar. Sabarnya itu bukan sekadar 'iya, aku sabar', sabar yang beneran itu ya dia benar-benar paham posisi kamu, paham situasi sekarang. Lha wong wadon kok wis kesusu jaluk rabi, wis selak pengen kawin opo piye? (Lha perempuan kok sudah buru-buru minta nikah, udah keburu pengen kawin apa gimana?)"
Itu ucapan Pakde Gino saat Dava menceritakan tentang hubungannya yang kandas. Adik laki-laki dari ibunya itu memang orang baik, dialah yang mencoba membangkitkan semangatnya lagi.
"Kodratnya wanita iku ngenteni, gudu kesusu. Sabaro sitik pas lanange susah. Kamu bersyukur Gusti Pangeran membuka mata kamu sekarang. Kalau nanti pas kamu sudah nikah sama dia, tambah ambyar kamu. Mending ambyar saiki to nimbang sok mben?"
"Nggih, Pakde."
"Njaluk o karo Gusti Allah. Mugo-mogo sampean ketemu wadon sing ayu parase lan ayu atine. Tak jamin nek ketemu, uripmu ayem. (Mintalah sama Allah. Mudah-mudahan kamu ketemu perempuan yang cantik wajahnya serta cantik hatinya. Saya jamin kalau ketemu, hidupmu damai). Sekarang saatnya kamu membenahi diri, fokus ke pekerjaan kamu."
Maka sejak saat itu, Dava mulai melupakan Asha meski sesekali masih ingat. Hingga kemudian bertemu dengan Nina di Facebook.
🍭🍭🍭
Pernikahan bukan sekadar makan cinta saja. Dava menyadari itu. Meski bayangan nikah memang masih jauh, tentu saja Dava sudah mempersiapkan segala sesuatunya jika jodohnya tiba. Yang terpenting dia harus mapan dulu secara materi agar wanita yang menjadi istrinya tidak susah.
Mapan versi Dava tidaklah sama dengan versi orang-orang. Mapan bagi Dava adalah, ketika dalam satu hari ia sudah merasa kenyang, ketika selama satu bulan kebutuhan sandang, papan, pangannya bisa terpenuhi, dan ketika selama satu tahun salah satu mimpinya tercapai. Tahun ini mimpi kecil Dava belum tercapai, dan dia sedang mencoba mewujudkannya. Mimpi Dava adalah renovasi rumah untuk kedua orangtuanya. Rumah yang sekarang sudah tidak layak dihuni. Setiap musim hujan atap-atapnya bocor. Kasian kalau malam-malam. Temboknya sudah mulai terkelupas dan ada yang retak.
Material sudah mulai dicicil sedikit demi sedikit. Dari semen, batako, kayu-kayu untuk atap, pada gaji berikutnya Dava berniat untuk membeli genteng, supaya bisa langsung segera dikerjakan oleh tukang.
"Asha sekarang pasti nyesel udah ninggalin kamu."
Itu kata Bimo. Dava malas menanggapinya. Sejak pertemuannya dengan bapaknya Asha, Dava jadi mengerti. Seandainya kemarin ia menerima, maka sama saja Dava nyebur dua kali ke dalam lubang yang sama. Kendati Dava masih ada rasa, menjadi pengganti calon suami Asha tentu bukan keputusan yang tepat.
Setidaknya Dava masih waras.
Asha berhak bahagia tapi bukan dengan Dava.
Tugas Dava sekarang adalah, membahagiakan orang tuanya dan mencari pasangan yang mau bersama meski waktu terbatas.
Dava menatap layar ponselnya. Satu nama terlintas di benak pria itu. Bibirnya terangkat ke atas mengingat ekspresi pemilik nama tersebut saat mengetahui kalau bukan dirinya yang menjadi mempelai pria temannya. Lucu. Pasti di rumah Nina sudah mikirin kalau Dava yang akan menikahi Asha.
Tunggu. Kenapa Dava jadi mikirin Nina?
Nina sekarang jomlo, apa salahnya? Kenal dengan Nina lebih jauh mungkin Dava akan menemukan sosok perempuan yang ia cari. Namun, berani jatuh cinta lagi berarti harus berani hancur. Berani berkomitmen dengan seorang perempuan berarti harus berani kecewa lagi. Hatinya cuma satu, semoga kuat menghadapi kenyataan.
Tapi, apa salahnya kalau tidak mencoba? Kalau tidak jadi pasangan, bisa jadi teman. Bukannya begitu?
[Nina]
Hanya centang satu. Padahal masih pagi. Mungkin Nina lagi sibuk kerja atau kuotanya habis.
🍭🍭🍭
"Dasar HP tua! Ngambeknya kebangetan!"
Sudah hampir setengah jam Nina mencoba men-charger ponselnya, tetapi logo ponselnya tidak muncul juga. Sejak pulang dari Bandung benda itu mati karena kehabisan daya dan Nina baru ingat saat pagi harinya.
"Mbak! Riana udah nyamperin tuh!" Suara ibunya terdengar dari kejauhan. Secepat kilat Nina menyambar jilbab rawis yang sudah dilipat jadi segitiga. Kemudian menyematkannya dengan jarum pentul di bawah leher. Setelah itu ia mencabut ponsel dari colokan chargernya, barangkali kalau pakai charger Mas Agus hpnya akan hidup.
Nina menutup pintu kamarnya. Sebelum itu, ia sudah melipat kasur dan ditaruh di pinggir, kemudian di atas dipan diletakkannya ember-ember sebagai penadah air yang merembas dari atas. Takut hujan turun dan emak lupa, bisa-bisa kamar Nina banjir bandang. Nina tidak mau kasur kesayangannya jadi rusak.
"Sarapan sek," kata Emak seraya meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan. Nina kemudian duduk dan mulai menyantap makanan itu.
"Sebentar ya, Ri. Aku semalem nggak makan," ujar Nina yang mulutnya masih penuh nasi goreng.
"Santai aja, Nin. Lagian jam segini Mas Agus masih tidur."
"Sembarangan! Yang ada dia udah nungguin kita di depan toko, matanya merah, hidungnya kembang-kempis."
"Huss nek ngomong ojo sok ngawur!" sergah Riana.
Sarapan selesai. Nina meminum air putih segelas. Tidak ada susu atau sirup di meja. Bukan tidak mampu, tapi Nina yang tidak terlalu suka minuman manis. Baginya, air putih is the best.
🍭🍭🍭
A/N:
Translate quotes di atas: Hidup itu walaupun berat tetapi harus dijalani. Jangan protes dan jangan ngeluh. Jangan berhenti meski lutut gemetaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Menteri - [Terbit]
RomansaDava Dewantara namanya. Diputusin pacar gara-gara nggak ngasih kepastian. Parahnya lagi diselingkuhi sebelum putus. Sudah jomlo, koleksi mantannya nambah jadi 199. Di saat Dava masih gamon alias gagal move on, muncul sosok Karanina Nina di akun Face...
![Calon Menteri - [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/235011849-64-k467511.jpg)