Camen 10 - Masih Cinta

1K 144 6
                                        


10 - Masih Cinta

Baik buruknya mantan biar jadi rahasia negara. Gak usah diumbar sana-sini.

🍭🍭🍭

Riana memperhatikan temannya yang duduk di depan meja kasir. Sejak satu jam yang lalu Nina tidak meletakkan ponselnya. Beruntung suasana toko sedang sepi pembeli. Kalau ramai dan Nina masih berkutat dengan ponselnya, Riana akan melempar benda butut kesayangan temannya itu ke selokan.

Ada yang berbeda dengan Nina akhir-akhir ini. Selalu mengecek ponsel tiap satu menit sekali. Seperti ada yang sedang ditunggu. Riana ingin bertanya lebih lanjut, tetapi ia lebih memilih menunggu Nina menceritakannya sendiri. Dari gelagatnya, Nina seperti sedang dekat dengan seseorang. Jika benar, Riana takut kalau kejadian Nina dan Pras akan terulang lagi. Riana tahu persis bagaimana kacaunya Nina saat itu.

Ponsel berdering. Yang jelas bukan milik Riana. Nina bangkit dari duduknya. Bergegas keluar dan berdiri di dekat box es krim. Diam-diam Riana mendekat, mencoba mendengarkan percakapan antara Nina dengan seseorang.

"Di toko. Lagi sepi. Ada apa emangnya, Mas?"

Mas? Riana jadi curiga. Jangan-jangan Pras yang menelepon Nina. Habis Nina girang setelah melihat layar ponselnya.

"Kalau aku gaji segitu udah cukup, sih. Tapi kembali lagi, kalau kita boros, mau gaji berapa pun kalau nggak bisa mengelolanya ya sama aja, Mas. Bakal cepet habis. Makanya, rajin-rajin nabung. Eh, tapi kok nanyanya begitu?"

Dahi Riana semakin berkerut. Dengan siapa Nina berbicara? Kenapa pembicaraannya soal gaji? Hiiih, Riana semakin penasaran! Ia semakin menajamkan pendengarannya. Namun, beberapa kali motor melintas membuat Riana kesulitan mendengar percakapan Nina.

Nina menurunkan ponselnya. Riana bergegas kembali ke tempat semula, berlagak seperti tidak tahu apa-apa saat Nina duduk di kursi kasir.

"Nin."

"Iya?"

"Kamu tadi ngobrol sama siapa? Maaf tadi sempat kedengaran."

Nina meletakkan ponselnya di meja. Kemudian memutar kursinya agar berhadapan dengan Riana. "Aku lagi deket sama seseorang, Ri?"

Riana mendelik. "Siapa?"

"Mas Dava."

"HEH!" Riana berdiri. "Mantan pacar temenmu yang gatot nikah itu?"

Nina mengangguk.

"Ealah ... Nina ... Nina, kamu ngapain cari penyakit, to?! Eling ... dia itu mantan pacar temen kamu yang orangnya pengen tak hiiih itu!"

"Emangnya kenapa kalau Mas Dava mantan pacarnya Asha?"

"Aduh, Nina ...." Riana menepuk dahinya sendiri. "Ngene, emang kamu udah memastikan kalau urusan mereka udah selesai? Maksudnya gini, Dava itu kan diselingkuhi to sama temenmu itu, eh ternyata temenmu malah jadi selingkuhan juga. Waktunya juga singkat, belum ada sayu tahun ini. Lha kamu udah tanyain belum?"

"Belum."

"Duh, Gusti!" Kali ini bukan dahi saja yang ditepuk, melainkan meja yang berada di dekatnya. "Saranku, mending kamu jauh-jauh dulu deh sama si Dava itu. Aku takut nanti dia masih ada bayang-bayang mantan, terus malah dilampiasin ke kamu."

"Nggak semudah itu, Ri ...."

"Nggak mudah gimana? Jangan-jangan kamu udah mulai suka to sama dia?"

Sebagai jawaban, Nina menganggukkan kepalanya.

"Duh, Nina ... kamu itu berharga. Kamu masih bisa cari laki-laki lain yang lebih baik. Aku udah bilang kamu jangan naruh hati dulu sama laki-laki, nanti lepasnya susah. Nggak inget to kejadian sama Pras dulu?"

Calon Menteri - [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang