Menuang imajinasi dalam bentuk tulisan memang mengasyikan.
Tapi jangan lupa bahwa fiksi ditulis dengan cakupan realita yang benar-benar terjadi di sekitar kita.
Oleh sebab itu, riset sangatlah diperlukan.
Supaya tulisan kita lebih menarik dan relate...
Jawa Timur terkenal sebagai surganya makanan khas dan unik yang jarang ditrmukan di daerah lain. Salah satunya ialah tahu campur yang berasal dari Kota Lamongan.
Yup! Kudapan satu ini berasal dari Lamongan dan merupakan sop dengan berbagai macam isian seperti daging sapi, tahu, mie kuning atau mie bihun, perkedel singkong, taoge, selada, serta kerupuk udang. Rasa manis bercampur gurih dari sop ini berasal dari kecap dan juga saus hitam pekat yang biasa disebut dengan petis.
Petis sendiri merupakan pasta yang biasa digunakan sebagai campuran makanan—umumnya khas dari Jawa Timur seperti tahu campur, rujak cingur, lontong balap, tahu tek-tek, dan lain sebagainya. Petis terbuat dari kaldu kepala udang, ikan, atau kerang bambu yang direbus dengan bumbu hingga menjadi pasta.
Proses pembuatan petis juga cukup mudah. Kaldu dari bahan seperti udang, ikan, atau kerang bambu dicampurkan dengan gula merah dan garam kemudian dimasak hingga mengental dan pekat. Maka dari itu tidak heran jika pasta petis ini berbau cukup tajam.
Menu tahu campur lahir dari kisah seorang petani yang juga merangkap sebagai penjual soto di waktu senggangnya setelah bercocok tanam. Suatu ketika si petani merasa lapar setelah bekerja di sawah. Dia memutuskan untuk pulang dan makan siang. Sesampainya di rumah dia tidak menemukan makanan yang bisa disantap. Hanya ada beberapa bahan seperti kubis, taoge, tahu, serta semangkok petis yang bertengger di atas meja.
Atas desakan perutnya yang kian bergejolak, petani tersebut memutuskan untuk menciptakan makanan seadanya untuk meredam rasa lapar.
Melihat adanya sisa kuah soto dari dagangannya di hari lalu, dia berinisiatif untuk mencampurkan kubis, taoge, dan tahu dengan kuah soto tersebut. Namun yang didapat ialah rasa yang tidak pas di lidah. Sehingga ia memutuskan untuk menambahkan sedikit petis pada racikannya tersebut. Di luar dugaan, hasil eksperimen tersebut berhasil. Rasanya yang gurih dan nikmat membuat sang petani puas dengan hasil kreasinya.
Penemuan ini menyebar dari mulut ke mulut hingga menjadi popular seperti sekarang.
Kembali pada sajian tahu campur itu sendiri. Makanan ini memiliki beberapa keistimewaan yang membuat ia tampak berbeda dengan makanan-makanan tradisional lainnya. Salah satunya ialah perkedel yang terbuat dari singkong yang sudah dihaluskan dan dicampur dengan kuah yang terbuat dari aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, daun jeruk, jinten, laos dan garam yang dihaluskan, lalu di goreng.
Di Malang sendiri perkedel jenis ini sering disebut dengan nama lentho. Selain rasanya yang khas, perkedel ini juga bisa membuat perut kenyang karena bahan yang digunakan memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi. Jadi, jangan khawatir merasa masih lapar saat menyantap tahu campur tanpa nasi atau lontong, ya.
Selain itu, kenikmatan dari tahu campur itu sendiri juga terletak pada kuah hitamnya yang gurih dan lezat. Penggunaan petisnya pun tidak berlebihan. Sehingga membuat rasa pada kuah terasa pas di lidah saat dinikmati.
Tekstur daging sapinya juga terasa kenyal dan empuk, sehingga memberikan sensasi tersendiri saat kita menyantapnya bersama dengan isian lain seperti tahu atau mie. Di beberapa rumah makan, biasanya pedagang juga menambahkan kikil, tetelan dan bagian dari sapi lainnya sebagai variasi rasa agar para penikmat tahu campur tidak bosan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.