Malu

13 0 0
                                    

Author lanjut lagi gaess, wkwk harus ngumpulin niat ini:v

###

Haina pov

Yaps pada akhirnya si bengis itu tepatnya si pemilik nama Sayang Putra—Dia bersekolah di sekolah yang sama dengan kami, aku juga tak tahu dia siapa dan berada di kelas mana, bahkan aku tak pernah melihatnya.

Sayang ke kelasku dengan penampilannya yang amburadul, aku anak baru disini, baru beberapa bulan.

"Hei kenapa kau kesini?" Bisikku melihatnya duduk di atas mejaku.

Di sebelahku Fanista dan teman kelas lainnya menatap ke arah kami aneh kecuali si triplek, tatapan yang penuh dengan tanda tanya besar.

"Kenapa?" Dia malah bertanya balik.

Aku memberinya kode agar keluar dari kelas, dalam hati aku berkata "awas saja kau, sampai rumah, ku cincang-cincang badanmu."

Sebelum pergi Sayang mengedipkan kedua matanya padaku, ih pengen banget geprek tuh anak kayak ayam goreng.

"Mungkin dia suka sama kamu," perkataan Fahri terdengar jelas di pendengaranku. Impossible banget dah, baru aja kenal.

"Jangan sembarangan anjir" aku menatapnya sebal.

Fahri tak menggubrisku ia melanjutkan membaca bukunya yang super tebal itu.

Fanista menyikut lenganku, temanku yang super kepo ini mulai menyerbu dengan macam-macam pertanyaan yang ada di benaknya, bisa dikatakan dia bertanya dengan baik, menggunakan 5w+1h.

"Fanista dia orang asing, aku saja tak mengenalnya." Aku mengidikkan bahu, enak saja dia menuduhku berpacaran dengannya.

"Lalu apa? Kalian tampak dekat sekali, ah kamu bukannya mau cerita denganku."

Fanista lagi-lagi membuat pemikiran baru, kalau punya sudah jauh-jauh hari aku kenalkan padanya. Bel jam pertama berbunyi, guru-guru yang mengajar mulai bergerak ke kelas jadwal kerja mereka masing-masing.

Hari ini kelasku diajar oleh pak Riki, guru sejarah Indonesia. Bab ini dia menjelaskan tentang sejarah singkat bagaimana islam masuk ke Indonesia, aku sesekali, perlu di garis bawahi SESEKALI menyimak penjelasan pak Riki, mataku memang memandang ke depan tapi pikiranku kemana-mana, murid yang lain mungkin juga ada yang sama sepertiku.

2 jam sudah pak Riki menjelaskan panjang lebar materi tadi, sebelum menutup pembelajaran seperti biasa dia akan bertanya pada salah satu murid di kelas untuk membuat kesimpulan dari materi yang diajarkan.

Aku santai saja karena minggu lalu sudah ditunjuk untuk memberikan kesimpulan sejarah singkat kerajaan hindu-budha. Kebetulan minggu lalu aku paham betul pelajaran itu karena menyimak dari awal hingga akhir dengan pikiran yang benar-benar lurus memperhatikan wkwk.

"Haina" aku yang saat itu sedang melihat keluar kelas karena kakak kelas 12 Ips 1 tengah lewat di depan kelas kami lalu menoleh heran ke arah pak Riki.

"Kok saya lagi pak? Minggu lalu saya kan—"

"Bapak cuman minta bawakan buku-buku ini, minggu lalu bapak rasa tidak ada menyuruh." Pak Riki menatapku dari balik kacamatanya heran.

Aku termangu, jelas salah sangka. Aku salting sembari tersenyum menggeleng, aku melangkah ke depan.

"Eh kemana?" Bapak bertanya lagi saat aku ingin mengambil tumpukan buku.

"Bawa buku, pak."

"Nanti... Bapak aja belum bertanya dengan teman kelasmu kesimpulan materi tadi," kalimat pak Riki menggantung. "Apa kamu mau menjawab lagi?"

Aku langsung menggeleng, sudah jelas aku tak memperhatikan penjelasan tadi malah bertanya hal itu padaku.

Teman kelasku menahan tawanya di belakang, malu banget sumpah, semua guru tampaknya punya dendam kusumat sama aku, apes mulu.

"Yasudah kamu berdiri saja disana tunggu bapak,"

Aku menggeleng lagi, secepat mungkin melesat ke bangku dan duduk manis memperhatikan ke depan.

"Pak Riki kayaknya suka kamu" bisik Fanista yang duduk di belakangku.

Aku menatapnya sinis, udah tua punya istri dan anak satu mau ditawarin segala ke temannya, dasar Fanista gaada akhlak.

"Yakali kamu mau," balasnya tertawa.

"Nggak mungkin"

***

Aku mengikuti pak Riki dari belakang, tumpukan buku ini terlalu berat jadi kini aku dibantu oleh sang ketua kelas, ia membawa lebih banyak buku daripada aku.

"Simpan disini" bapak menunjuk ke mejanya yang sudah ada dua tumpukan buku berwarna hijau dan merah.

Kami berdua pun keluar dari kantor, kebetulan saat lewat di depan ruang waka kami bertemu bu Arlina yang tampaknya sedang terburu-buru.

"Fahri," panggilnya "ibu mau keluar sebentar, ada urusan penting di luar, jaga kelas sebentar, jangan ribut."

Setelah berkata sedemikian bu Arlina berlalu meninggalkan kami. Aku mulai tersadar, artinya kelasku free dong? Seneng banget ya allah, tiga hari yang lalu ibu bilang jika minggu ini ulangan harian, pastinya tidak jadi.

"Mau kemana?" Tanya Fahri melihatku ingin bergerak menuju kantin.

"Toilet ketua," jawabku.

"Toilet? Di sebelah sana kantin" Fahri menunjuk ke kanan dengan dagunya, "dan disana baru toilet cewek." Kali ini ia menunjuknya dengan jari telunjuk ke bagian kiri.

"Ah lupa," guamamku.

"Kamu pergi saja, aku tunggu disini." Aku mengangguk, eits tapi...

"Hei apa katamu? Menunggu? Duluan saja, aku mau BAB." Cetusku.

Tahu banget siasatku mau menerobos ke kantin.

"Iya aku tunggu"

"Duluan Fahri, gimana sih cewek itu paling lama kalau udah pup." Suaraku agak nyaring membuat sekeliling kami menatapku ngeri.

"Apa? Biasa aja kali" celaku pada mereka, sejak tahu keluargaku memberikan dana setiap bulan ke sekolahku, aku jadi percaya diri, nggak sombong cuman pede doang.

"Duluan," titahku lagi.

Frisca tiba-tiba datang, ia terseyum padaku dan Fahri. "Bisa temani aku ke perpustakaan?"

What? Aku malah mau jauh-jauh dari si triplek ini, sedangkan Frisca dia malah mencari.

Aku tersenyum kecut, bukan karena aku menang kali ini, tapi serta merta Fahri menggeleng dan mengatakan jika harus mengawasi kelas sekarang.

Rasain, ditolak kan:v

"Baiklah kalau begitu, istirahat nanti aku ke kelasmu." Ucap Frisca lagi.

Fahri mengangguk dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Frisca meninggalkan kami, aku langsung menepuk pundak Fahri.

"Jahat banget"

"Kenapa?" Tanya Fahri.

Tuh cewek ada rasa ma kamu, masa nggak peka-peka sih dari kemarin.

Aku menarik napas lalu berjalan ke kelas lebih dulu, niatku ke kantin kubatalkan, sudahlah tidak mood lagi mau kemana-mana. Gabut mending aku tiduran di kelas, akan kupastika kelas 12 nanti kami tidak akan sekelas lagi.

***

Salam Literasi

Jangan lupa tinggalkan komen dan vote ya biar author makin semangat aelah wkwk

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 07, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I, You and HeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang