STEP TEN.

109 16 0
                                        

Pas ngetik bab ini saya super capek.
Sebetulnya ada keinginan rehat dulu dari cerita ini karena super menguras energi. Tapi, kalau ntar2 kapan kelarnya.
.
Maaf kalau masih banyak typo.
Maaf jg kalau masih kurang kerasa feelnya (ಥ_ಥ)
.
Have a great day everyone.💜💗
*************************

Depan gerbang rumahku sudah dipenuhi mobil Polisi hingga ambulans. Warga sekitar mulai berjejalan. Garis kuning Polisi juga telah dipasang. Seorang Satpam kompleks yang mengenaliku segera memberikan jalan agar kendaraan kami bisa masuk ke dalam halaman depan.

Jantungku berdetak sangat keras hingga rasanya sakit sekali. Darahku berdesir kencang. Perutku seakan ditarik dari dalam. Lututku terasa lemas saat aku melompat turun dari mobil, dan Razor menemaniku disampingku.

Aku mulai berlari menaiki undakan tangga, tepat saat itulah Vianna muncul bersama orang Forensik. Wajahnya pucat pasi, dan buru-buru menahan lenganku serta membawaku ke bagian lain teras yang sepi.

“ Bree jangan…..”

Aku menepis tangannya dariku. “ Jangan bercanda. Ini rumahku….apa yang….” Sebuah kesadaran menghantamku. “ Apa yang terjadi….”

Viana kesulitan menjawab pertanyaanku. Dia memandangiku dan Razor secara bergantian.

“ Viana apa yang terjadi?!” Kedua tanganku sedikit mengguncang pelan kedua bahunya.

“ Maaf….” Tukasnya seraya memalingkan wajah. Berusaha menahan isakannya.

Oh…tidak….

Tidak….

Demi Tuhan jangan…..

Aku berlari melewati Viana, mengindahkan teriakan gadis itu. Rumahku sudah tak seperti sebuah tempat tinggal lagi.

Semua benda berjatuhan, pecahannya ke mana-mana. Bisa kulihat bahkan sofa dan bangku kapuk isinya berhamburan keluar. Reka ulang kejadian dalam tempat ini seketika terputar dalam benakku.

Ledakan peluru. Hanya itu jawaban paling masuk akal.

Kemudian.

Ada banyak darah.

Terlalu banyak.

Dimana-mana.

Kepolisian. Tim Medis. Forensik.

Kepalaku mulai terasa berat.

Insting mengarahkanku menaiki undakan tangga marmer melingkar menuju lantai dua. Pintu ruang kerja Kakakku terbuka lebar, dijejali dan dipenuhi banyak orang.

Seorang petugas Polisi menghampiriku, namun sebuah suara serak muncul di belakangku untuk memberitahu. “ Dia anggota keluarga”

Aku menoleh melewati bahu. Itu Direktur Jalal.

“Siapa?” tanyaku terbata-bata. Sepasang tanganku terkepal erat disamping tubuh. “ Siapa yang….” Aku bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatku.

Jalal menghembuskan nafas panjang. Ekspresinya dipenuhi kecemasan juga kesedihan.

Tidak menunggu dia menjawab pertanyaanku, aku segera masuk ke dalam ruang kerja William.

Satu kata untuk menggambarkan kondisi di dalamnya.

Kehancuran.

Badanku terhuyung ke belakang dan aku mundur beberapa langkah tatkala melihat darah tergenang di tempat yang baru saja kupijak. Lalu bersamaan dengan itu, seseorang diangkat naik ke atas tandu oleh beberapa petugas medis.

Pria itu memejamkan mata. Ada jarum VI dan selang infus tertancap pada punggung tangannya. Separuh wajahnya dipenuhi oleh darah. Lalu kudengar suara tangisan memilukan keluar dari mulut seorang perempuan, berdiri di samping tandu. Mereka melewatiku begitu saja seakan keberadaanku disana kasat mata.

  Kyurara Aragaki.

   Bagaimana dia bisa di sini?

Ketika kesadaranku perlahan pulih, kulemparkan pandangan ke berbagai penjuru. Jalal berjalan ke samping kananku. Aku mendongak, menemukan rasa simpati tersorot dari sepasang netranya untuk diriku.

“ Bagaimana bisa….dia….ada di sini… dimana Kakakku dan  Kania? Dan ketiga keponakanku…”

“ Mereka semua selamat. Berkat kedatangan Bryan yang memanggil Polisi tepat waktu. Namun sepupumu itu terkena peluru. Ada dua. Satu bersarang di perut sebelah kiri dan satu lagi bahunya” Jalal mencoba menjelaskan secara singkat dan tenang.

Oh. Astaga. Astaga.

Aku hampir saja terjatuh jika sebuah lengan kuat tidak menyangga punggungku.
Menoleh ke belakang, itu Razor.
Meraup wajahku secara kasar memakai satu tangan, aku bertanya lagi. “ Dimana mereka sekarang?”

“ Sudah di safe house. Presdir bersama mereka”

“ Maksud anda, Tante Cindy Indrapura?” aku menyebutkan nama Ibu kandung Kania.

Jalal mengangguk. “ Beliau datang hanya selang beberapa menit setelah Bryan menerobos masuk. Jika terlambat sedikit saja, maka…..”

“ Dan Bryan apa dia…..”

“ Tim Medis yang datang telah memastikan kalau luka di bahu hanya terserempet saja, tapi kemungkinan tembakan di perut sedikit dalam” Adam muncul. Memberikan keterangan sambil mematikan ponselnya. Sepertinya dia baru saja berkomunikasi dengan tim Medis.

“ Dia akan baik-baik saja. Bryan pernah melalui ini sebelumnya, dan kali ini juga pasti bisa” Jalal meletakkan satu tangannya di atas bahu kiriku. Sedikit meremasnya seakan memberi kekuatan padaku.

“ Ada hal lebih penting yang harus kita lakukan. Tim lapangan yang tengah bertugas mengejar para tersangka menemukan kemungkinan mereka telah melewati jalur tol ke utara” ucap Adam. Lalu melirikku. “ Tapi sepertinya kita harus membicarakan hal teknis diluar bukan”

Aku sudah membuka mulut, ingin bicara. Namun Jalal mendahuluiku. “ Mulai sekarang Britania Contramande adalah Agen Lapangan MATA GARUDA lagi” mengalihkan perhatiannya padaku. “ Tapi sebagai Non Aktif, hingga pelantikanmu dilaksanakan ulang. Selama itu, berkerjalah pada kami sebagai tentara bayangan. Kamu paham?”

Menelan saliva. Aku mengangguk. “ Terima kasih banyak. Direktur”

“ Sekarang berganti bajulah, ambil semua barang yang kamu butuhkan. Kita harus bergerak malam ini juga” kata Jalal.

“ Ke mana? Bukankah saya harusnya ke Safe House?”

“ Ibu Presdir dan tim terorisme terlatih dan terpercaya sudah berada di sana. Tak hanya itu, beberapa Agen NIS juga bersedia membantu menjaga mereka. Percayalah padaku, William dan keluarganya sudah sangat aman sekarang. Tapi tidak denganmu”

“ Memangnya ada apa denganku?”

“ Bree….” Razor yang sejak tadi diam seribu bahasa akhirnya angkat suara.

Aku menoleh. Baru menyadari kalau sejak tadi dia masih memelukku dari samping.

“ Irish dan anak buah MOON lain adalah pelaku penyerangan terhadap keluargamu malam ini. Namun berbeda dari sebelumnya, dia tidak mengincar William Contramande saja. Target utamanya adalah dirimu”

Deg.

“ Razor benar. Target operasi mereka kali ini adalah dirimu. Itu sebabnya, satu-satunya tempat teraman bagimu adalah kembali bersama kami. Menjadi Tim bayangan akan memastikan keselamatanmu. Meski itu artinya, besar kemungkinan kamu tidak akan bisa bertemu lagi dengan keluargamu dalam waktu dekat. Kamu tahu sendiri apa akibatnya jika memaksa bersama mereka dalam kondisi seperti sekarang”

Ucapan Jalal barusan sangat logis. Dan mereka benar. Berada disekitar William serta keluarganya justru akan semakin membahayakan mereka.

“ Baiklah. Aku paham. Akan tetapi” mendongak. Menatap ke wajah si Direktur aku berkata dengan suara memohon. “ ….tolong. Lindungi mereka. Jangan sampai hal buruk menimpa mereka lagi. Juga Bryan”

Jalal mengangguk. “ Pegang janjiku, Bree…”

Setelah itu aku melepaskan diri dari mereka. Langkahku sedikit terhuyung saat keluar dari ruang kerja William menuju kamarku. Razor mencoba membantu namun aku menolaknya secara halus.

   Aku mendengar ucapan beberapa Polisi saat menyebrangi balkon, menuju sayap kiri rumah. Tempat kamarku berada. Mereka menyebutkan jumlah korban tewas yang tidak dikatakan oleh Direkturku tadi.

Delapan orang.

Delapan nyawa sudah melayang malam ini.

Lima orang merupakan Bodyguard yang menjaga Kania.

Tiga orang lain adalah Asisten Rumah Tangga yang biasa kutemui.

Setibanya di dalam kamar, aku langsung jatuh berlutut di atas lantai berubin keramik merah. Rasa dingin bercampur kemarahan menjadi lautan yang siap menenggelamkanku. Satu isakanku berhasil lolos.

Bayangan trauma masa kecilku. Bercampur kenangan kematian Alfa. Lalu gambaran sosok lemah tak berdaya Bryan Contramande bermandikan darah yang diangkut ke atas tandu barusan. Semuanya berputar bagai lubang keputus asaan. Dan seakan tiada akhirnya.

Kulempar sepasang sepatu berhak tinggi dari kakiku ke sembarang arah. Melampiaskan semua amarah yang kupendam.

    Aku memekik keras satu kali sambil menundukkan kepala. Ketika kesedihanku surut, hanya ada kebencian menggumpal, menyesaki dada.

MOON masih ada, selama ini mereka hanya ‘berpura-pura’ hancur. Dan Irish.

Dia…..

Aku bersumpah, akan membalas berkali-kali lipat semua perbuatannya pada keluargaku hari ini.

Aku juga berjanji. Tak akan pulang serta menemui keluargaku sebelum Irish berhasil kutangkap. Dan MOON berhasil kuhancurkan.

Melalui tanganku sendiri.




[COMPLETED] CONTRAMANDE MAN!:#02.CONTRAMANDE SERIES (BRITANIA STORY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang