Dua minggu sudah berlalu sejak hari Ulang Tahunku. Segalanya berjalan 'normal'. Aku berkerja seperti biasa. Sibuk dengan agenda kantor seperti biasa. Pulang dan bermain bersama triplet seperti biasa. Sesekali me time bersama Kania dan Rosita. Seperti biasa.
Lucunya, sejak malam itu aku dan Razor tidak pernah berkontak lagi. Padahal jarak tempat tinggal kami cukup dekat. Aku justru tahu kabarnya dari Rosita, yang tentu saja nyaris tahu segala hal mengingat dia Istri Direktur kami (oke, mantan Direkturku).
Bukannya aku mencari tahu atau apa hanya saja, kadang aku rindu mengobrol dengannya. Tapi kuurungkan niatku untuk menghubunginya lebih dulu. Aku tidak ingin melakukan hal yang nantinya bisa kusesali. Saat ini hidupku sudah 'tenang'. Itu cukup bagiku.
Namun, beberapa hari terakhir aku mulai merasa aneh.
Tahu kan, perasaan sedang berjalan di tempat sepi saat malam dan merasa seolah ada yang menguntitmu dari belakang?
Nah, itulah yang kurasakan selama beberapa waktu terakhir.
Katakan aku paranoid. Namun sebagai mantan Agen Rahasia terlatih dan berkerja di lapangan sejak berumur 19 tahun, biasanya kekhawatiranku adalah sebuah kebenaran.
Semalam kusampaikan rasa cemasku ini pada William. Dan tahu jawaban Kakakku itu?.
"Astaga Bree. Tentu saja kamu selalu merasa diikuti setiap waktu. Kamu lupa, kita kan punya Bodyguard"
Membuatku memutar bola mata. "Will, kalau itu aku juga tahu. Tapi ini berbeda. Seperti ada yang mengawasimu secara diam-diam dari kejauhan. Dengan sepasang mata menatap tajam di dalam sebuah tempat tersembunyi. Apa kamu tidak menyadarinya?"
William kini melepaskan kacamata bacanya. Melipat kedua tangan depan dada seraya duduk bersandar pada kursi kayu berpelitur emas. Kami sedang berada di dalam ruang kerjanya di lantai dua rumah kami.
"Bree. Apa itu yang selalu kamu lakukan dulu? Selama menjadi Agen rahasia?" ekspresinya serius. Namun sorotnya sedikit mengejek.
Astaga.
"Baiklah. Terserah kamu saja kalau tidak mau menanggapi ucapanku dengan serius. Aku sudah memperingatkan, kalau sampai ada apa-apa jangan salahkan aku" berdiri dari sofa.
Aku sudah akan beranjak pergi ketika William terkekeh pelan dan berkata. "Sori Bree. Sungguh aku tidak ada maksud untuk mengejekmu. Tapi, oh come on. Masa-masa gelap kita sudah berakhir. Kamu harus mengakui itu"
Aku memutar badan. Seraya berkacak pinggang. Aku menunggu di tempatku. Membiarkan Kakakku menyelesaikan ucapannya.
"Kamu mendapatkan kesempatan kedua Bree. Lagi. Mulai sekarang tolong hiduplah dengan perasaan positif serta gembira saja" pintanya. Kali ini terdengar sungguh-sungguh.
Aku menangkap sorot cemas yang dia tujukan padaku.
"Begini tuan William Contramande. Tolong bedakan antara berhati-hati dengan selalu berfikir negatif. Memangnya aku bersikap seperti sekarang sejak dulu? Tidak kan? Kemarin-kemarin aku masih biasa saja. Dan sejujurnya aku tidak membutuhkan penghakiman darimu. Aku cuma memintamu memperketat penjagaan. Tambah personil kalau perlu. Karena kalau sampai terjadi sesuatu, bukan aku yang harus kamu cemaskan, melainkan Kania dan si kembar" kataku. Berusaha terdengar logis.
William menghela nafas panjang. Akhirnya dia beranjak berdiri dari kursinya. Menghampiriku.
"Baiklah aku paham. Akan kulakukan saranmu. Tapi tolong jangan beranggapan kalau aku meremehkanmu oke. Aku hanya tidak mau kamu menjadi salah satu......."
KAMU SEDANG MEMBACA
[COMPLETED] CONTRAMANDE MAN!:#02.CONTRAMANDE SERIES (BRITANIA STORY)
AcciónNew Adult story. Britania Contramande (23) Seorang Agen rahasia dalam organisasi bernama Mata Garuda. Sebuah kasus membawanya ke dalam misi berbahaya yang melibatkan dirinya terseret dalam konspirasi tingkat tinggi. Terjebak di antara dua cinta. Alf...
![[COMPLETED] CONTRAMANDE MAN!:#02.CONTRAMANDE SERIES (BRITANIA STORY)](https://img.wattpad.com/cover/25122826-64-k294766.jpg)