STEP TWENTY ONE.

87 13 0
                                        

Judul lagu multimedia : Monster by Katie Sky.

############

"Jadi selama ini kamu mengamati ku bukan?".

Ada keheningan sejenak menggantung, sebelum akhirnya Alfa menjawab.

"Ya".

"Berapa lama".

"Sejak aku sudah tiba di Indonesia lagi".

"Dan kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali?".

Hening lagi.

Dia tidak menatapku sama sekali.

Kami berdua duduk berdampingan dalam pesawat, kembali menuju Hungaria. Alat pelacak yang ditanam dalam punggung Alfa oleh MOON telah dikeluarkan tadi. Dan harusnya Alfa bisa beristirahat karena efek obat penghilang nyeri. Namun dia tidak melakukannya. Mungkin sudah kebal. Aku sendiri juga tak bisa.

Setelah mengetahui penderitaannya selama ini, rasanya akan sangat egois juga terdengar manja kalau aku terus-menerus menuntutnya dengan jawaban yang ingin ku dengar.

"Lupakanlah. Sebaiknya kita beristirahat" tukas ku.

Aku tak perlu mendengar jawaban apapun darinya. Awal pertemuan pertama kami beberapa waktu lalu yang terbilang epik sudah membuktikan. Dia mungkin berubah, tapi tidak dengan hatinya.

Atau, setidaknya itulah yang ingin kuakui.

Aku sudah akan merebahkan kepala ke sisi berlawan dari Alfa. Wajahnya adalah magnet yang bisa mengalihkan fokusku. Dan saat ini aku tidak bisa ter distraksi oleh hal apapun, meski itu dirinya.

"Aku tidak tahu kapan ini akan berakhir. Monster dalam diriku....".

"Kita akan menyembuhkannya. Anti virus sudah di tangan kita, jangan cemas" jawabku. Masih berusaha memejamkan mata.

"Kamu tak paham. Ini bukan seperti kanker yang setelah dioperasi dan diangkat bisa sepenuhnya sembuh".

"Tak semua kanker bisa disembuhkan meski sudah di operasi sekalipun" jawab ku ketus.

Hening lagi.

Tak tahan lagi. Aku membalikkan badan, memajukan tubuh. Menatapnya. Alfa sedikit terkejut melihat tindakanku barusan.

"Jangan berpikir aneh-aneh, aku tidak pernah membencimu. Sebaiknya pikirkan saja soal kesembuhan mu".

"Bree..." kini kulihat matanya berkaca-kaca. Namun dia menahan dirinya. Tentu saja.

"Aku sudah bukan diriku yang dulu".

"Benarkah. Karena menurutku tidak begitu. Kamu tetap seorang Alfa Xian yang berjuang dengan keras untuk bertahan pada seutas tali kebenaran. Sebab jika tidak, maka di malam itu harusnya kamu sudah bisa membunuh Direktur Jalal. Bahkan, menembak ku tepat di jantung".

Alfa tercengang. Tak menyangka akan mendengar kalimat yang begitu blak-blakan dariku.

"Aku monster".

"Semua orang punya sisi itu dalam dirinya. Anggap saja kamu sedang proses pencarian jati diri ulang. Yang menentukan siapa dirimu adalah kamu sendiri, sebuah suntikan berisi cairan tak akan bisa mengontrol hidupmu".

"Mudah kalau berbicara".

"Benarkah. Mungkin iya? Tapi yang jelas lebih sulit dari merupakan bayangan orang yang kita cintai, mati di depan kita kemudian muncul lagi tanpa pemberitahuan" sahutku dingin.

Alfa membeku.

Pandanganku turun ke bawah. Ke arah lehernya. Dengan berani menjulurkan lenganku, meraih sesuatu dari balik sweater.  Aku bisa merasakan Alfa sedikit tegang ketika aku melakukannya, namun dia tidak memprotes.

Itu adalah kalung bandul merpati, pasangan dari yang ku kenakan. Pemberiannya sebelum ledakan kapal itu terjadi.

Mengangkat wajah. Netra kami bertemu.

"Ini membuktikan kalau kamu tidak akan dan pernah menjadi seperti yang kamu takutkan. Jangan cemas. Mulai sekarang kalau kamu mulai tak percaya pada diri sendiri, maka beralihlah padaku. Aku akan jadi orang pertama yang bakal selalu mengingatkanmu, akan siapa, seorang Alfa Xian sesungguhnya".

Kedua irisnya seakan mencari-cari kebohongan dalam sepasang mataku. Namun sayangnya dia tak akan pernah bisa menemukannya.

"Kamu bisa memilih orang lain yang jauh lebih baik dariku, kenapa harus mengambil jalan sulit".

"Karena orang yang kucintai berada dalam jalan sulit ini".

Aku bisa mendengar deru nafasnya yang memburu. Juga degup jantungnya serupa kuda pacu, sama persis seperti milikku.

Secara impulsif, ia memajukan badannya, satu tangannya menarik tanganku, meletakkannya di atas pangkuannya, yang satu lagi melingkari leherku. Berhenti dibelakang tengkukku.

Sedikit memiringkan kepala ke sisi kanan. Lantas, ia mulai mencium ku.

Memejamkan kedua netra. Aku membiarkan dia membimbingku dalam ciuman kedua kami setelah sekian lama ini.

Semua perasaan yang ku rasa terbang dan terkubur bersama Alfa, ketika aku mengira dia  sudah meninggal, perlahan kembali hidup.

Lalu. Aku baru menyadari.

Jika desiran di dalam diriku hanya secepat ini jika bersamanya.

Degup jantungku seakan ingin melompat dari dalam rongga. Hanya ketika aku melakukan keintiman ini bersama Alfa.

Aku menjadi lebih bahagia serta tanpa sadar tersenyum dalam ciuman kami.

Melepaskan diri bersamaan. Satu tangannya berada di belakang punggungku, mengelus lembut rambutku.

Tangan kami yang lain saling mengamit di atas pangkuannya.

"Kali ini, biarkan aku yang membimbing mu. Alfa Xian, berjanjilah padaku. Jangan pernah pergi lagi. Apapun alasannya".

Alfa mengangguk. Terlalu cepat.

Dan malam itu, kami melewati penerbangan dalam kebisuan menenangkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya aku dapat terlelap tanpa dihantui mimpi buruk ataupun merasa gelisah. Juga tanpa bantuan obat tidur.

Menyandarkan kepalaku pada bahunya. Rasanya aku tertidur sambil tersenyum. Dan dalam mimpi, aku bertemu keluargaku lagi.

#########

[COMPLETED] CONTRAMANDE MAN!:#02.CONTRAMANDE SERIES (BRITANIA STORY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang