STEP FIFTEEN.

90 12 0
                                        

Judul lagu multimedia : World Without End.

**************************

Ketika tersadar, aku rupanya sudah  berada di  kabin persembunyian kami. Agen Kim Seung Hee yang duduk di tepian ranjang segera membantuku untuk datang. Kemudian pintu kamar membuka dari luar, seluruh anggota tim masuk secara satu persatu.

Agen Kim segera menyingkir, memberikan tempat pada Razor. Wakil Kapten ku duduk di sebelahku. Tubuhnya menghadap ke arahku.

*"Kamu baik-baik saja kan? Ada yang terasa sakit?"* Ia meletakkan tangannya ke atas dahi ku. *"Syukurlah demam mu sudah turun".*

Agen Kim mengulurkan segelas cangkir berisi teh hangat manis. Cairan berwarna coklat tersebut segera menghangatkan tubuh tepat beberapa detik setelah masuk ke dalam tenggorokanku dan membilas salurannya yang terasa amat kering juga perih.

*"Berapa lama aku pingsan?"* tanyaku.

*"Sekitar enam jam"* Viana yang menjawab. Duduk di sofa, depan ranjang.

*"Itu Iris. Dia telah membunuh Mattaic serta menculik Bognan"* tanpa sadar tangan kanan menyentuh dahi sebelah kanan. Rasa pening mulai melanda.

*"Kami tahu. Tim lapangan telah mengejar kendaraan mereka, namun MOON membawa Bognan keluar dari perbatasan. Kami kehilangan mereka. Maaf"* suara Firman dipenuhi penyesalan.

Mendongak, kutatap satu persatu wajah rekan satu timku. *"Kalian semua telah melakukan pekerjaan dengan baik. Aku yang seharusnya minta maaf, kalau bukan karena aku lengah, Iris pasti sudah berhasil kita tangkap".*

*"Jangan salahkan dirimu sendiri, Kapten. Aku rasa ada yang membantunya bukan? Seseorang pasti menyerang mu dari belakang"* tukas Agen Lee memakai bahasa Inggris sambil bersedekap. Berdiri menjulang di dekat ranjang.

Aku mendelik. *" Iya kamu benar. Dari mana kamu bisa tahu sementara tak ada di sana?"* tanyaku spontan.

*"Ada luka memar bekas pukulan di area leher juga bahu anda Kapten. Itu sebabnya kami bisa menyimpulkan demikian"*.

Bibirku seketika mengerucut, membentuk huruf 'O'. *"Sekali lagi terima kasih karena telah menolongku Agen Lee. Kamu bukan yang menemukanku di ruangan itu?"*.

Hening sejenak. Semua orang saling berpandangan satu sama lain. Merasa aneh.

*"Ada apa?"* tanyaku curiga.

Razor menatapku lekat. Sepasang iris amber nya menyorotkan kegelisahan. *"Di mana lokasi tepatnya kamu dan Iris berkelahi?"*.

*" Sebuah ruang kosong, mirip tempat seminar di gedung sayap kiri. Ada apa memangnya?"*.

Netra ku seketika menyipit. Meminta penjelasan melalui tatapan tajam. *"Razor??"*.

*"Agen Lee menemukanmu tak sadarkan diri di lobi utama"* jawab lelaki itu. Bahkan tanpa menatapku.

Aku memandangi Razor dan Agen Lee bergantian. Seakan meminta penjelasan.

*"Itu mustahil, aku merasa yakin kalau....."* Kalimat ku seketika terhenti.

Lantas samar-samar aku sedikit mengingatnya.

Ketika tubuhku diangkat dari ubin keramik dingin, kemudian aroma familiar memenuhi indra penciuman ku. Diantara sadar dan tidak.

Namun, mustahil bukan?.

Mengenyahkan pikiran aneh-aneh dari dalam benakku. Aku berkata lagi. "Kurasa aku memang sedikit mabuk, karena kondisi saat ini sehingga tak bisa mengingat dengan baik. Maaf"* kataku. Mencoba berbohong.

Akan tetapi Razor tahu, dia bisa mencium sesuatu dariku. Dan aku menolak berinteraksi mata dengannya.

Kemudian Viana memberitahuku sesuatu. Soal Diska lepas USB berwarna hitam yang tergenggam erat di tanganku saat aku pingsan. Aku sendiri tak mampu mengingat apapun, jadi terpaksa diam saja ketika mereka meyakini itu adalah milik Iris yang berhasil ku rebut.

"Data rahasianya terenkripsi serta terkunci dengan cermat. Kabar baiknya, artinya ada bukti penting di dalam sini. Sedangkan buruknya, butuh waktu hingga aku bisa membukanya. Sedikit agak lama namun aku pasti bisa" Viana berdiri. Mendekat ke ujung ranjang. Menunjukkan diska lepas berwarna merah tua yang tidak kuingat sama sekali, pernah ku rebut dari Iris.

Aku hanya mampu terdiam. Apa benar aku yang sudah mengambil bukti penting tersebut? Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun selain fakta pertarungan ku dengan Iris.

"Kapten, saran saya beristirahatlah dulu sampai kondisi anda membaik. Kami sudah melaporkan segalanya pada Direktur. Bantuan akan dikirim besok pagi sambil kita menunggu Agen Viana yang manis ini membuka isi diska lepasnya" tukas Irwan.

Diikuti tatapan jengkel dari Viana.

"Baiklah, terima kasih atas kerja keras kalian" kataku sungguh-sungguh.

Satu persatu dari anggota tim ku keluar dari kamar. Saat Agen Kim juga pergi sementara Razor tetap tinggal, aku sudah tahu ada yang  ingin dia sampaikan.

*"Mattaic ternyata anggota regu khusus CIA"*.

Aku melotot mendengar keterangan Razor barusan.

*"MOON tahu dan memancingnya menggunakan Bognan. Lagi-lagi mereka selangkah lebih maju dari kita. Dan dengan lolosnya Iris serta pertarungan kalian, besar kemungkinan mereka tahu kita di sini. Sepertinya besok kita harus berpindah lokasi"* kata Razor. Tangannya meraih tanganku lantas menggenggamnya tanpa ragu.

Hatiku mencelos. Aku membuka mulut siap menyampaikan sesuatu. Akan tetapi Razor menyahut lebih dulu.

*"Jangan. Salahkan dirimu sendiri. Kamu dikalahkan dengan curang. Aku berkata begini bukan untuk menyudutkan mu, justru sebaliknya aku sangat mengkhawatirkan kondisimu. Agen Lee bilang kamu sempat bertingkah aneh di dalam Teater. Ada apa sebetulnya Bree?"*.

Dasar Lee Seung Hun ember bocor!.

Razor mengurungku dalam tatapan intensnya. Aku kesulitan menjawab pertanyaannya. Memang apa yang harus kukatakan?

Aku mendengarkan suara mantan pacar yang sudah mati di sambungan?.

Kalau itu jawabanku, bisa jadi aku segera dibawa pulang kembali ke Indonesia dan dibawa ke Psikiater untuk diperiksakan.

*"Maaf, aku hanya salah dengar. Sepertinya kamu benar, semua ini agak sedikit berlebihan buatku"* akhirnya, aku berbohong. Dan mencoba tersenyum tipis.

Aku yakin Razor tak sepenuhnya percaya pada jawabanku, akan tetapi dia tak memiliki pilihan lain.

Memajukan tubuh. Lagi-lagi secara impulsif Razor mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibirku.

Aku membalasnya, mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Sementara dia menarik badanku hingga tubuh kami saling berhimpitan.

Panas dari badannya seakan bisa membakar ku.

Tangannya menyusup masuk ke dalam kaus ku. Ketika jemarinya menyentuh perutku, satu desahan lolos dari bibir tanpa bisa kutahan.

Namun hanya sesaat. Detik berikutnya dia melepaskan diri. Membuatku terkejut.

Kedua mataku  mengerjap beberapa kali. Meminta penjelasan padanya.

*"Maafkan aku Bree, tapi tidak sekarang. Kondisimu butuh pemulihan dan....kurasa kamu harus benar-benar yakin dulu jika ingin melakukan 'hal-hal lain' bersamaku"*.

Bahuku merosot. Hatiku mencelos. Dia benar. Dan aku merasa sangat malu.

Pada akhirnya Razor memilih mencium puncak kepalaku dalam-dalam. Aku dapat menghirup aroma maskulinnya ketika dia melakukan itu. Mengucapkan selamat malam (atau lebih tepatnya dini hari). Menyebrangi ruangan lalu keluar dari kamarku.

Selepas kepergiannya aku hanya mampu mendesah panjang. Menutup wajah memakai bantal lalu berteriak di dalam sana.

Mengutuki ketololan ku.

Saat ini aku dalam misi penting, tanggung jawabku pada banyak nyawa dan aku malah memikirkan hal remeh seperti keintiman dengan lawan jenis.

Kalau Bryan ada di sini, dia pasti bakal mentertawakan kebodohan ku barusan!. 

[COMPLETED] CONTRAMANDE MAN!:#02.CONTRAMANDE SERIES (BRITANIA STORY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang