1.1

6.1K 138 1
                                        

"Emang udah sifat naturalnya murahan, mau bersikap sebaik apapun tetep aja keliatan sisi jalangnya"
***

Ketika pulang dari kampus, elvar tidak langsung pulang kerumahnya. Kemudian elvar bertanya tanya pada dirinya, apa ia akan ikut bersama teman temannya?

*flashback on*

Yuli, teman elvar mendatanginya dengan cepat lalu tanpa aba aba langsung merangkul tangan elvar dengan manja. Elvar tidak melarangnya karna ia tau yuli sudah mempunya pacar dan ia tidak mungkin menyukai elvar.

"Var, malam ini join ga bareng kita?" Tanya yuli sembara memainkan dagu elvar 

"Kemana? Bareng siapa aja?" Elvar menyingkirkan tangan yuli sambil menyipitkan matanya menegur yuli bahwa pacarnya ada disampingnya.

"Eh, bagas. Hehe, ajak elvar ya? Rumah andrew temennya bagas. dia belom perna kesana kan?" Ya, yuli itu pacarnya bagas. Sahabat elvar tapi tidak sedekat dengan areka yang bersahabat dengannya sejak kecil.

"Belom mungkin, bareng gue sama temen SMA kita dulu var, bawa aja cewe lo kalo mau" ucap bagas

Elvar manggut manggut, mungkin ia bisa mengajak verla pergi setelah memarahinya tanpa sebab, ia menjadi agak merasa bersalah.

"Oke, gue dateng. Gue ajak areka tapi?" Tanya elvar

"Ajak aja, makin rame makin bagus, nanti kita sekalian ada permainan disana" ujar bagas lalu pergi bersama yuli.

'Mending ajak, atau engga?' Batin elvar

*flashback off*

"Ah udahlah! Yang penting gue mandi dulu" sebelum naik ke kamarnya elvar memastikan dulu bahwa lian sudah kembali ke rumahnya.

"Lian?" Panggil elvar di kamar aliandra.

"I iya bang?" Lian terkejut melihag kehadiran elvar yang terlalu mendadak.

"Kamu ngapain?" Tanya elvar

"Ga, ga ngapa ngapain" seperti orang yang takut ketahuan, itulah yang elvar bisa lihat dari raut wajah lian.

"Terus kamu kenapa berdiri tegap disitu? Ga makan?"

"Udah kok lian dah makan"

Elvar menyipitkan matanya melihat ke arah gorden yang sejak tadi wanti wanti lian sembunyikan.

Dengan perlahan elvar berjalan mendekati arah gorden itu hendak menyibaknya. 

Prang!

Kegiatannya terhenti tatkala suara piring pecah terdengar dibawah, dengan cepat elvar berlari untuk memastikan siapa oknum yang baru saja menjatuhkan piring tersebut.

Ketika ia sudah sampai bawah, betapa kesalnya elvar saat dilihat bahwa itu adalah elvandya yang hendak mengambil nasi.

"Lo-- kalo ngambil piring tuh yang bener jangan sampe jatoh" elvar menjitak  kepala vandya dengan lumayan keras.

"Aw! Thats hurt! Gue kan ga sengaja, lagian kaya ga biasa aja ngeliat gue mecahin barang" ujar vandya tetap santay mengambil nasi.

Sedangkan elvar menggelengkan kepalanya, lalu ia membersihkan pecahan kaca yang tadi sempat jatuh.

"Heran gue, punya adik yang satu gabisa boong yang satu hobi banget nambahin kerjaan gue, tunggu.. gabisa boong? Shit--" elvar kembali naik tangga untuk mengecek kamar lian.

Dan tanpa basa basi langsung menyibak gorden yang ia curigai terdapat seseorang disana, namun hasilnya nihil. Tidak ada siapa siapa.

"Lian, kamu ga nyoba bawa laki laki kesini kan?" Tanya elvar curiga

"Engga bang, lian ga kenal laki laki di daerah sini" ucap lian

"Bisa aja didaerah lain" sambung elvar

"E engga, daerah sini aja gakenal apalagi daerah lain bang lian an--" belum lagi lian menyelesaikan ucapannya, sudah dicela terlebih dahulu oleh kedatangan vandya.

"Boong tuh, tuh barusan ada mobil sport melaju pergi" ujar vandya memanas manasi, tentu saja mendengar itu elvar langsung menatap tajam kearah lian.

"Lian? Who's that?" Tanya elvar.

Lian menelan salivanya susah payah 'awas aja kak vandya, aku kasi tau juga kalo dia lagi deket sama temennya bang elvar' batin lian

"Di dia guru lian! Dia Nawarin buat les private, terus katanya guru itu udah bicara sama mama buat ngijinin dia jadi tutor lian" jelas lian berbohong.

"Lo percaya kata dia var?" Tanya vandya semakin memanas manasi elvar.

"Untuk kali ini percaya aja dulu, kalo sampai kamu ngecewain kepercayaan yang udah abang kasih--" elvar menggelengkan kepalanya kemudian keluar dari kamar lian.

Ketika ia berada di kamarnya sambil membuka bajunya ia menelpon verla.
"Halo?"

'Kenapa var?'

"ekhem.. gue, ck itu.. gue.."

'Gue? Gue apa?'

"Gue mau minta maaf karna udah marah marah gajelas sama lo"

Verla terdiam sejenak, tidak menyangka bahwa elvar akan meminta maaf padanya. Apakah ia sedang bermimpi?

'Yang lagi telfonan sama aku.. elvar kan?'

"Ya iya, ini gue"

'Kok tumben mau minta maaf?'

"Jadi ga mau maafin? Yaudah gue tutu--"

'EH IYA IYA AKU MAAFIN KOK' verla berteriak sehingga elvar merasakan gendang telinganya seperti mau pecah.

"Satu lagi.. lo, mau pergi bareng gue ga kumpul sama temen SMA gue?"

'Temen SMA kamu? Nanti aku dicuekin ga?'

"Gabakal, gue cuma minta satu kalau lo ikut. Jangan. Pake. Pakaian. Yang terbuka. Ngerti?"

Verla tersenyum malu, jadi seperti ini rasanya dipossesifin? He's so cute...

'Iya, aku ngerti'

"Good girl. Gue jemput jam 8 nanti"

'Oke'

Tut

Elvar tersenyum samar, ia mungkin bisa membayangkan bagaimana wajah malu verla saat ia melarangnya memakai pakaian terbuka tadi.

Seperti inilah elvar sekarang, moodnya mudah sekali berubah ubah, terkadang menjadi sangat bahagia, dan terkadang juga menjadi sangat emosi apabila melihat miliknya diganggu orang lain. Ya, verla miliknya sekarang.




























Hanya miliknya seorang.. milik Elvarsya Gardesta.

****

See you soon


MY BITCHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang