15.

6.2K 482 53
                                        

🍁🍁🍁

Hujan mengguyur ibu kota membuat tidur lebih nyaman, suara hujan membuat tenang namun tidak dengan pemuda satu ini. Ia terbangun dari tidurnya, nafas yang tak teratur dan keringat bercucuran dingin dipelipisnya.

Ia melirik kearah jam yang menunjukan angka 01.11 WIB. Tangannya mencengkram erat kepalannya tak peduli banyak rambut yang rontok karena jambakannya sendiri.

"Aarrgg ..." erangannya coba ia tahan tak ingin membangunkan yang lain.

"Hiks ... bun--nda hiks sakit aakkhh!" Tubuh kurus itu meringkuk menahan sakit diseluruh badan. Aska, ia merasa dunianya berputar hebat, tubuhnya seakan dijatuhkan dari atas gedung dan dadanya terasa seperti ditimpa batu besar. Ini bukan yang pertama kali namun rasanya masih saja tetap sakit.

Bruk

"Aarrgg!"

Aska mengerang ia tak tahan lagi, nafasnya memburu tak teratur dan pandangannya mulai kabur. Aska mencoba menarik tubuhnya mendekati meja belajar, ia perlu obatnya.

"Ya Allah tolong beri Aska kekuatan, ini sangat sakit."

Aska terus memaksa tubuhnya bergeser mendekati meja belajar.

"Uhuk ... uhuk ... aakhh uhuk!"

Cukup, Aska tak kuat bergerak lagi. Ia meringkuk diatas marmer dingin, air matanya terus mengalir meluapkan rasa sakit yang mengerogoti tubuhnya. Apa ini akhir hidupnya? Apa Aska harus menyerah dengan rasa sakit? Apa ia akan pergi dengan membawa kebencian mereka?

Apa mereka tetap membencinya jika ia tiada?

Tok

Tok

Tok

"Aska?!"

Aska menatap pintu nanar, seharusnya ia tak mengunci pintu.

"Aska jawab abang!"

Dor

Dor

Ketukan itu berubah menjadi brutal.

"You oke?! Jawab abang Aska!"

Tangan Aska mencoba meraih pintu namun percuma pintu itu sangat jauh dengan Aska sekarang.

"Ba---bang Biru ... tolong hiks sakit," rintih Aska.

Brak

Brak

Brak

"ASKA!"

Biru langsung menggendong Aska dan memindahkannya keatas kasur, ini pertama kalinya ia melihat Aska yang begitu kesakitan. Hatinya sangat hancur melihat adik bungsunya kesakitan.

"Hiks ... sakit bang," lirih Aska.

Biru mengangguk, ia tahu, Biru bisa merasakannya. Biru langsung megambil obat Aska dan memberikannya pada Aska dua butir yang langsung diminum sekaligus.

"Du ... dua lagi bang," rintih Aska.

"Jangan bodoh Aska! Sudah cukup dua, jangan overdosis," bentak Biru.

"Hiks sakit ..."

Biru tak tahu harus berbuat apa, memberikan lagi obat berarti Aska overdosis.

"Kita kerumah sakit," ucap Biru.

"No ... beri---kan obat Aska." Biru yang lengah berhasil membuat Aska merebut tabung obatnya. Dengan tangan yang bergetar Aska mengeluarkan semua obatnya sehingga jatuh bercecer dan tersisa empat butir ditelapak tangannya.

Cerita Aska✔endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang