16

5.8K 481 32
                                        

🍁🍁🍁

Prang

"SIAL! LO APAIN ADEK GW HAH?!"

Tubuh kecil Aska bergetar ketakutan, matanya buram menatap pecahan gelas disampingnya. Ya, Mudra baru saja melempar gelas tepat disamping Aska yang meringkuk memeluk lutut.

Kamarnya yang semula rapih seketika berantakan bak kapal pecah akibat Mudra, semua barang Aska ia banting. Piala, piagam yang dibingkai, laptop, hp, foto-foto didinding, cermin, semua hancur dibanting Mudra.

Dimana yang lain? Tentu saja mereka pergi kerumah sakit membiarkan satu singa mereka lepas menerkam mangsa.

"GA CUKUP LO BUNUH OPA HAH?!"

Bugh

Mudra menendang tepat kepala belakang Aska. Seketika sepatu putih Mudra terumuri darah, Mudra sempat diam melihatnya namun mengingat sang adik yang masih dirumah sakit emosinya semakin membuncak.

"SEKARANG LO MAU BUNUH KEMBARAN LO SENDIRI? HATI LO DIMANA ANJING?!"

Aska hanya bisa pasrah saat Mudra menarik rambutnya kuat, tak guna ia melawan malah akan semakin membuat sang abang semakin marah dan bisa saja detik itu juga ia mati

"Sumpah, gw bener-bener nyesel punya adek psyco kaya lo. Ga punya hati anjing!"

Mudra melepas cengkramannya lalu berdiri dan meletakan kaki kanannya dileher Aska menekannya kuat. Aska mencoba nelepaskan kaki Mudra dari lehernya, sakit sekali bahkan ia tak bisa lagi menghirup oksigen.

"Bang, jangan bunuh dulu anaknya. Kita perlu darah dia buat Aksa."

Mudra menoleh kearah pintu, disana ada Raka yang bersender sambil meminum teh kotak dan menatap mereka santai.

"Om Aldi nyuruh dia buat kerumah sakit, ambil darahnya. Si Aksa kekurangan darah," lanjut Raka setelah menyedot terkotaknya yang habis.

"Oke."

Mudra menarik tangan Aska sekali tarik, Aska yang lemas kembali terjatuh.

"Ck. Nyusahin."

Tak

Setelah menucapkan kalimatnya Raka melempar sampah teh kotaknya ke kepala Aska.

"Berdiri ga lo! Atau mau gw seret?"

Aska menggeleng pelan lalu mencoba berdiri, pikiranya masih kacau ia tak bisa mendengar apapun dengan jelas pandangannya juga memburam rasa sakit disekujur tubuhnya lebih dominan.

Yang Aska tahu tangannya digenggam erat oleh Mudra lalu ditarik agar mengikuti langkahnya.

...

Aldi, Dira, dan oma menatap cemas kearah pintu yang sudah tiga jam tertutup rapat. Entah apa yang para tenaga medis lakukan hingga selama ini.

"Semua ini salah pembunuh itu," ujar Lisa sambil mengepalkan tangan.

"Baru saja kita tinggal sebentar tapi dampak nya sangat luar biasa," lanjut Lisa dengan nada sinisnya.

"Mbak bisa diam dulu? Bukan waktunya untuk mengomel," jengah Aldi yang sudah bosan dengan omongan Lisa.

Sreett ...

Pintu itu bergeser, seorang dokter keluar sambil melepas masker yang ia pakai.

"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Dira.

"Kondisinya masih buruk kami benar-benar membutuhkan donor darah, apa kalian sudah menemukannya? Darah golongan A hanya ada satu kantong, kami memerlukan dua kantong lagi. Pendarahan dikepalanya cukup parah dan kami akan melakukan oprasi," jelasnya.

Cerita Aska✔endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang