8. pasangan

1.4K 140 9
                                        

Traffic sudah tertidur sejak wave meninggalkannya selesai makan siang tadi, dan kini ia baru terbangun di pukul 6 sore. tidur sehabis makan itu memang menyenangkan pikir traffic.

traffic mengusap usap kedua matanya, ia mengeratkan pelukannya pada guling yang ia gunakan untuk tidur tadi. ntah kenapa harus wave orang pertama yang melintas dipikiraanya saat membuka mata. traffic baru saja bangun dari tidur siang nya, dan sekarang ia malah merindukan wave. sejak kapan ia menjadi sekonyol ini.

traffic akhirnya keluar dari kamar tidur wave tetapi ia tidak bisa menemukan wave dimanapun, pdahal ini bukan lagi jam sekolah. ia merindukan penyihir itu dan ini membuatnya sedikit kesal.

"ck wave sialan" traffic mengumpat. ia menuangkan air pada sebuah gelas kaca kemudian meneguknya dengan cepat. traffic meletakkan kembali gelas itu dengan kasar, ia berkeliling ruangan untuk mencari ponselnya.

setelah berhasil menemukan ponselnya ia langsung menekan kontak wave untuk mengomeli nya. tut tut.. ponsel pintar milik traffic berhasil menghubungi nomor wave. tetapi yang disebrang tak kunjung memberi jawaban.

"sedang apa sih manusia ini?! dasar anak gifted sok sibuk!" traffic melempar ponsel nya ke sofa. lalu membanting tubuhnya duduk di tempat yang sama tempat ia melempar ponselnya. "aargh!" alhasil bokongnya sakit karena menduduki ponselnya sendiri.

traffic reflek kembali berdiri, ia mengambil ponselnya dengan kasar. "ponsel sialan tidak berguna! menelfon wave tidak bisa malah membuat bokong sakit !" traffic memaki maki ponselnya seperti benda ini akan mengerti saja.

"traff?" panggil sesorang.

traffic spontan menoleh ke arah suara. "wave? sejak kapan kau disana?" wajah traffic agak memerah akibat menahan malu.

"belum lama" wave menutup pintu kemudian melepaskan alas kaki nya. "jangan memaki ponsel mu traff, benda itu masih berguna. lihat panggilan dari mu masuk kok" ujar wave santai, ia menunjukan layar ponselnya untuk memperlihatkan panggilan terlewat dari traffic.

lagi lagi wave membuat traffic naik pitam. "begitu hmm? dan kenapa kau tidak mengangkatnya" traffic memberi wave ekspresi mengintimidasi.

"untuk apa ? aku juga sudah akan sampai ke dorm ku"

"okee.. satu hal lagi, kenapa kau baru kembali jam 6 sore ?" traffic kembali meng interogasi

"apa masalahnya ?"

"jam pulang sekolah itu jam 2 siang dan kau kembali ke dorm jam 6 apakah itu cukup menjelaskan masalahnya ?" traffic mengikuti arah jalan wave kemanapun ia berjalan. mulai dari meletakkan jaket di gantungan kamar tidur sampai ke meja belajar untuk menaruh tas.

"aku tidak merasa itu masalah" wave akhirnya berhenti berkeliling dan menatap traffic langsung."jangan berlebihan traffic, kau bukan pacar ku" ujar wave lagi.

yang dikatakan wave seratus persen fakta dan benar adanya. traffic pun akhirnya menutup mulutnya, ia kehabisan kata dan menutuskan untuk menerimanya saja. traffic menatap wave berbalik arah meninggalkannya menuju kamar mandi, untungnya traffic masih cukup waras untuk tidak mengikuti wave ke kamar mandi.

Traffic hanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sampai wave selesai mandi. Setelah sekitar lima menit berada di posisi itu akhirnya wave keluar dari kamar mandi. Ia keluar menggunakan kaos putih polos dan boxer, handuk nya menggantung di lehernya dan rambut nya masih basah kuyup.

"ai wave! Kenapa tidak pakai celana sih" ujar traffic malu malu.

"kenapa? Lagi pula kita sama sama laki-laki, apa ini membuat mu tidak nyaman?"

wave menggosok rambutnya menggunakan handuk yang menggantung dilehernya, perlahan ia mendekat kearah traffic dengan wajah mencurigakan. Wave semakin mendekat sampai jarak diantara mereka hampir habis, traffic pun perlu sedikit menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak . " apa jangan jangan kau ini gay ya ?" ujar wave dengan sedikit menyipitkan matanya.

hate or love? [ NanonChimon ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang