Sial.
Sial sial sial. Ini hari pertama aku masuk sekolah menengah tapi karena kita atau lebih tepatnya Kak Geo yang sedang mengantarku dan aku terjebak macet.
Hari libur sudah akhir, kini semua aktivitas kembali seperti semua. Mungkin karena itu hari ini jalanan tampak ramai, apalagi ini hari senin.
Baiklah sepertinya aku harus berusaha meredakan emosiku. Ini juga salahku yang tidak berangkat begitu pagi. Maklum, setelah semalaman aku menghabiskan waktu menonton film dengan Kak Geo sampe larut, paginya aku jadi susah bangun.
Jadi wajar aku telat oke aku tidak boleh marah karena bukan sepenuhnya ini salah orang-orang yang juga ingin beraktivitas tapi salahku juga mengiyakan ajakan Kak Geo menonton film, lagian kapan lagi bukan? Kak Geo hanya kesini seminggu.
Gerbang tertutup. Aku menghela nafas pasrah.
"Na" Panggil Kak Geo
Aku menoleh, "ayo dong semangaattt!" Ujarnya sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya di udara.
Itu tidak cukup membantu, aku mengangguk lesu. Oke hari pertama sekolah tidak seasyik seperti yang ku bayangkan sebelumya.
Aku turun dari mobil tepat di depan gerbang, tatapan kakak osis itu melihatku seolah ingin membunuhku. Tapi aku tak gentar, kulangkahkan kakiku menuju gerbang
"Siapa suruh lo boleh masuk"
Aku terdiam, tidak melanjutkan langkahku saat mendengar suara datar dari osis menyebalkan itu.
Kuangkat kepalaku untuk melihat wajahnya, ugh wajah menyebalkan itu ingin ku cabik-cabik saja.
"Tulis nama lo disini" Ujarnya menunjuk sebuah buku. Sepertinya itu buku keterlambatan. Oh tidak-tidak aku tidak ingin di hari pertama sekolahku namaku sudah masuk ke dalam buku bersampul coklat itu.
"Cepet!" Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba dia menyentakku.
Kulihat name tag di bajunya, Kanza Xavieran, baiklah Kanza perbuatanmu hari ini tidak akan ku maafkan. Aku tidak takut meskipun kau kakak kelas dan osis sekaligus.
"Kanza dipanggil tuh!" Ujar ku tiba-tiba sambil menunjuk ke arah belakang.
Dengan cepat kupegang buku keterlambatan itu dan... menghilang.
Dengan tergesa ku pakai kembali sarung tanganku sebelum kakak osis sialan itu melihatku.
"Ck! Lo bohongin gue" Kanza menoleh kembali kearahku sambil menatap tajam. Tatapannya... meskipun menusuk aku tidak takut!
Aku menatapnya tak kalah tajam, enak aja Kanza melihatku seperti itu, dipikir aku anak kecil yang takut dengan sorot tajamnya itu? cih tidak mungkin seorang Hana takut!
"Cepet tulis nama lo baru lo bisa masuk!" Ujarnya ketus.
"Mana bukunyaa!"
Kanza melihat ke tempat terkahir dia meletakkan buku yang sudah kuhilangkan itu.
Aku tertawa dalan hati. Rasain tuh Kanza menyebalkan! Ilangkan bukunya, hahaha Hana kok dilawan.
"Lo ambil buku itu ya?" Tanyanya dengan sigap langsung mngambil ransel biu muda milikku.
Dengan cepat langsung ku rebut tas ku kembali. Enak aja tangan kotornya mententuh tas mahalku ini.
"Heh jangan asal nuduh ya Kanza, Aku gak ngambil ya, lihat nih gaada kan!" Ujarku mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas ku.
"Kanza kanza! Gue ini kakak kelas lo ya!"
"Bodo amat"
Aku langsung berlari melewati gerbang, masa bodo dengan Kanza sialan yang meneriaki ku. Haha rasain tuh!
Tidak mungkin Kanza mengejarku karena masih ada lagi siswa baru yang telat dibelakangku tadi. Kanza tidak akan memilih mengejarku dan membiarkan dua buronannya lepas begitu saja.
Tepuk tangan untuk otak cerdas dan tangan ajaibku!
«§»
KAMU SEDANG MEMBACA
its MAGIC
FantasyATTENTION: FOLLOW SEBELUM MEMBACA❗❗❗ Tidak yang aneh dalam keluargaku, ayahku bernama Had, ia seorang pandai besi. Ibuku bernama meli, seorang ibu rumah tangga biasa. Dan aku anak tunggal. Kata ibu, sebenarnya aku bukan anaknya, tapi kurasa ibu berc...
