Lelah.
Entah mengapa rasanya sangat lelah, dijemur panas-panasan pake peraturan ini itu oleh para osis, sungguh Masa Orientasi yang melelahkan.
Untung saja disekolahku ini tidak ada budaya senioritas, meskipun masih ada beberapa kakak kelas yang sepertinya bertingkah seperti itu, menurutku sangat menjangkelkan dan tentu saja kekanakan!
Kami diberi jam istirahat sebelum jam terakhir yaitu demo ekstrakulikuler, aku sendirih sih masih tidak tahu ingin ikut ekstrakulikuler apa, tapi kurasa pecinta alam asyik juga.
"Hai!" Sapa seseorang berdiri di depanku
Aku menatapnya, berani sekali dia mengajakku berbicara. Padahal kurasa, tidak akan ada yang mendekatiku karena muka sangarku ini.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanyanya menunjuk bangku didepanku.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku acuh membiarkannya duduk didepanku, toh bangku itu juga bukan milikku.
Kurasa ia memang duduk di depanku dan aku membiarkannya, tidak, aku tidak berkenalan dengannya.
Kembali aku meminum Pop ice Strawberry milikku sambil sesekali melihat kiri dan kananku. Entah mengapa perasaanku mulai tidak enak.
Kantin tidak terlalu ramai, karena hanya ada kelas sepuluh saja disini. Tapi... kurasa, tidak.
Aku membulatkan kedua mataku saat melihat cowok sialan alias Kanza menatapku dengan senyuman miringnya. Aku bergidik ngeri kemudian mengalihkan pandanganku kedepan.
"Kenapa?" Tanya perempuan di depanku, mungkin ia melihat ekspresi tak biasaku barusan.
"Kepo!" Jawabku langsung berdiri meninggalkannya.
Sesegera mungkin aku harus menjauh dari Kanza sebelum ia berbuat yang macam-macam padaku. Aku tidak takut, toh hanya menghilangkan kepalanya bukan hal yang sulit bagiku.
"Aaaaaa!"
Aku terkejut saat tanganku ditarik ke belakang. Dengan cepat aku menolehkan kepalaku, sialan! Kanza mengikutiku.
Apa sih maunya Osis sialan itu?
"Lo pikir lo bisa lolos gitu aja setelah ngilangin buku pelanggaran?" Nadanya terdengar menusuk dan datar.
Aku menelan ludah, ditatap Kanza seperti itu membuatku merending, apalagi jarak kita yang dekat, ralat, bukan dekat tetapi sangat dekat!
Kanza mengukungku diantara tembok, kedua tangannya ia tempelkan di tembok disisi kiri dan kanan kepalaku, mau kabur pun susah.
"Jawab!"
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Baiklah Hana tenanglah, ini hanya Kanza tidak ada yang perlu di takutkan. Kanza bukan setan, tetapi lebih menakutkan dari itu.
Aku menghela nafas pelan, "Gak ada bukti kan? Gausah nuduh Kanza!"
Aku mengangkat telunjukku tepat di depan mukanya. Sialan Kanza dikira aku takut apa? Impossible!
"Yang sopan sama kakak kelas, Kanza Kanza dikira gue adek lo apa!?" Sorot matanya menatapku tajam. Aku balas tak kalah bengisnya.
"Suka-suka aku, mulut-mulut aku"
"Terserah!"
Dengan segera Kanza melenggang pergi. Hahh akhirnya pergi juga tuh titisan setan.
"Kanza!" Teriakku memanggilnya.
Ia berbalik menatapku masih dengan tatapan datarnya itu. Aku tersenyum manis, Baiklah Kanza, lihat kau akan terkejut dan pingsan!
Aku mendekati meja disebelahku, kemudian menyentuhnya dengan tangan kananku. Dan tentu saja meja itu menghilang!
Kanza diam.
Apa-apaan dengan ekspresi datarnya itu. Kesal karena Kanza tidak terkejut dan tidak merespon apapun aku pun kenyentuh kursi disebelah meja yang sudah ku hilangkan tadi, tentu saja kursi itu juga menghilang.
Kanza tidak bergeming, masih dengan tatapan datarnya itu menatapku. Ia malah mendekatiku dan mengusap pucuk kepalaku.
Sialan! apa yang dia lakukan!
Lebih parahnya lagi Kanza menyentuh tangan kananku, Tidak-tidak ia bisa menghilang!
Aku menyembunyikan tanganku dibelakang punggungku lalu dengan cepat memakai sarung tanganku kembali.
Kanza mengambil tanganku menggenggamnya kemudian mengecupnya.
Damn it!
«§»
KAMU SEDANG MEMBACA
its MAGIC
FantasyATTENTION: FOLLOW SEBELUM MEMBACA❗❗❗ Tidak yang aneh dalam keluargaku, ayahku bernama Had, ia seorang pandai besi. Ibuku bernama meli, seorang ibu rumah tangga biasa. Dan aku anak tunggal. Kata ibu, sebenarnya aku bukan anaknya, tapi kurasa ibu berc...
