Surat

1.6K 183 4
                                        

Dengan jawaban seperti itu pastinya Bokuto tak bisa berbuat banyak, Akaashi sepenuhnya telah berubah. Tatapan, gaya bicara, bahkan sikap semuanya tak seperti dulu.

Akaashi kini lebih dingin dan cuek terlebih lagi saat berhadapan dengan Bokuto, semuanya hanya berupa penolakan.

Bokuto memaklumi perilaku penolakan yang diberikan Akaashi, wajar saja Bokuto medapat perlakuan tersebut karna kejadiannya di masa lalu pikirnya.

Tapi ada satu hal yang membuat Bokuto tidak tenang, ada satu sikap Akaashi yang membuatnya sedikit tak suka yaitu perilaku Akaashi yang seakan masih mendambakan sosok Osamu.

Bokuto memang sedikit kesal mengenai hal itu tapi apa boleh buat, karna 'melupakan tak semudah jatuh cinta.'

Banyaknya kenangan yang melekat dalam diri Akaashi juga merupakan salah satu faktor. Meskipun tau hal itu Bokuto tetap tak menyerah ingin mendapat Akaashi kembali, setidaknya Bokuto juga ingin menyelamatkan Akaashi yang tenggelam  dalam dasar laut perasaannya sendiri.

Bokuto juga tak seperti dulu yang terburu-buru dalam memutuskan sesuatu, sekarang Bokuto bisa lebih sabar dan memahami semuanya.

Sudah beberapa hari berlalu, Akaashi masih sama seperti biasanya. Akaashi selalu menyibukkan diri pada pekerjaannya, jika lapar Akaashi hanya makan beberapa onigiri, dan terkadang Akaashi juga meringkuk sambil menangis menyadari ada sesuatu yang hilang darinya.

Bokuto yang melihat itu tak bisa hanya memunggu lagi, perlahan Bokuto juga ingin mendapatkan posisinya kembali dalam hidup Akaashi.

Bokuto selalu memperhatikan Akaashi dari segala aspek, setiap hari selalu memberi atau menanyakan keadaan Akaashi melalui pesan atau pertemuan langsung. Lalu saat Akaashi menangis Bokuto juga mulai memberanikkan diri untuk menenangkan Akaashi, hanya mengelus punggung soalnya nanti kalau dipeluk Akaashi pasti menolak.

Akaashi masih memberikkan respon yang biasa-biasa saja pada Bokuto, sebenarnya beberapa kali Akaashi juga membuka pesan dari Bokuto. Hanya membaca Akaashi tak mau menjawab pesan itu.

'Aku tak ingin terbuai dan tertipu lagi dengan hal yang seperti ini, ujung-ujungnya hanya rasa sakit dan pengkhianatan yang kudapat, hanya Osamu yang bisa kupercayai.'  -Akaashi

Sudah lewat 1 bulan, Akaashi yang awalnya merasa risih dengan Bokuto lama kelamaan sudah terbiasa. Hanya terbiasa bukan berarti menaruh perasaan.

Bokuto setiap hari selalu berkunjung ke rumah Akaashi, menanyakan beberapa pertanyaan dan mengurus Akaashi.

Akaashi suka tertidur di meja Bokuto yang akan memindahkan Akaashi ke atas kasur dan memberinya usapan lembut di kepala.

Selain itu Bokuto juga kerap membersihkan meja tempat Akaashi bekerja, disana terpampang jelas berdirinya foto figura Osamu disebelahnya ada satu botol kaca berisi surat.

Botol kaca itu menarik perhatian Bokuto, karna Akaashi tertidur mungkin ini aman. Bokuto sebisa mungkin tak membuat suara berisik untuk mengambil botol tersebut.

Botol itu dibuka lalu Bokuto mengambil isi surat didalamnya, mata Bokuto menelusuri setiap kata yang ada di surat itu mencari sebuah arti dan makna dalam setiap paragraf yang terpampang jelas disana dari goresan tangan seseorang.

Semuanya jelas disana bila surat itu berisi penyataan cinta sekaligus pernyataan perpisahan Osamu pada Akaashi, Bokuto sedikit meremat surat yang ada di genggamannya.

Pikiran dan hati Bokuto berperang, Bokuto berpikir sebaiknya jika mulai sekarang untuk berani mengambil langkah, bila tidak semuanya akan sia-sia. Selama beberapa bulan ini juga tak ada perubahan.

Sedang asiknya berpikir tiba-tiba Akaashi datang dari belakang dan langsung merebut surat yang ada di tangan Bokuto, Bokuto sontak kaget dan langsung menghadap Akaashi.

Akaashi menatap Bokuto, "Kenapa kamu buka barang orang tanpa izin, kan udah kubilang berkali-kali jangan buka botol ini."

"M- maaf Keiji, tadi aku cuma-"

"Cuman apa? Apa kamu segitu ga bisanya nahan diri buat ga buka privasi orang." -Akaashi

Bokuto terdiam, sedangkan Akaashi tangannya berupaya mengambil sebuah botol kaca yang ada di meja.

Baru beberapa detik berniat ingin memasuki surat itu ke dalam botol, tubuh Akaashi tiba-tiba terhuyung kehilangan keseimbangan.

Botol kaca yang ada ditangan Akaashi sampai terjatuh dan pecah. Bokuto sendiri dengan sigap membantu Akaashi.

"Keiji kamu gapapa?" Tanya Bokuto.

Akaashi menepis tangan Bokuto, "Aku gapapa."

Apanya yang gapapa jelas raut wajah Akaashi menjadi agak pucat sekarang, sesuai dengan niatnya tadi Bokuto ingin memberanikam diri.

Tangan Bokuto langsung ke arah perpotongan kali belakang Akaashi kemudian mengangkat tubuh Akaashi, memdekap dan menggendongnya.

Akaashi kaget meminta untuk diturunkan tapi Bokuto menolak. Bokuto lalu membawa dan menidurkan Akaashi di atas kasur kemudian memberinya selimut.

"Udah kamu diem disini, istirahat, biar aku yang beresin." -Bokuto

Don't Go || BokuAkaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang