8. Cemburu buta

7.4K 1.4K 257
                                        

Vote dulu yuks✨
Jangan lupa komen yaah 🔥

Sepanjang makan malam berlangsung, Luna berusaha untuk menikmatinya seperti awal kedatangannya tadi. Namun, sulit. Itu karena setiap ia melirik ke arah kanannya, Adnan masih saja memperhatikan gerak-geriknya. Padahal, pada empat kursi yang ada di meja Adnan, semuanya sudah terisi oleh masing-masing pria muda bersetelan jas seperti Adnan sendiri. Mungkin mereka adalah teman-teman Adnan. Luna tidak tahu pasti.

"Kamu kenapa?"

Ah, kegelisahannya dapat ditangkap oleh Barra. Luna membenarkan posisi duduknya, mencari kenyamanan padahal yang tidak nyaman adalah hatinya.

"Kekenyangan," bohongnya, namun membuat pria itu tertawa. Pasalnya, piring lebar yang mereka hadapi, isinya tidak seberapa banyak meski harganya mahal. Tidak akan membuat kekenyangan, tapi terasa cukup untuk makan malam karena nanti pun ditambah dengan makanan penutup.

"Porsi makan kamu sedikit banget, yah."

"Sebelum ke sini udah nyemil dulu di rumah." Kalau itu memang fakta. Kedatangan sahabatnya tadi sore, membuat Luna ikut memakan semua yang mereka bawa ke kamar.

"Pantesan. Tapi aku lega, aku kira kamu mulai gak nyaman karena aku."

Luna menggeleng sambil tersenyum. Bibirnya menjadi tipis dan melengkung ke atas. Menampilkan sabit seindah bulan di langit. Namun, jemari yang tiba-tiba memegang tangannya di atas meja membuat sabit itu menghilang, seperti tertutup awan putih yang terbawa angin. Entah kenapa Luna malah melirik ke arah Adnan. Sialnya pria itu masih saja memperhatikan.

Apa dia tidak punya kerjaan lain selain menatapnya?

Namun karena merasa tak enak untuk menghindari sentuhan tangan Barra, Luna memilih membiarkannya saja sambil menatap penuh tanya ke arah pria itu.

"Citra bilang gak kalau aku udah lama merhatiin kamu?"

"Iya. Bahkan katanya kamu selalu putar ulang film yang aku mainin kalau gak sempet nonton karena sibuk."

Luna melihat pria di depannya tersenyum malu. Lucunya. Tapi hatinya tak bergetar. Rasanya, getaran itu hanya milik Adnan.

"Jujur, aku sempet patah hati waktu Citra bilang kamu gak mau ketemu sama aku. Katanya kamu terlalu sibuk. Terus kemarin ada berita kalau kamu deket sama Adnan. Tapi ternyata media cuma ngebesar-besarin gosip doang."

"Kerjaan media kan memang itu."

"Iya, aku ngerti posisi kamu sebagai publik figur. Tapi aku juga takjub, karena gak pernah ada kabar miring soal kamu selama ini. Kamu artis yang gak jual sensasi, tapi memang berbakat."

"Makasih," ujar Luna tak lupa dengan senyuman manisnya. Membuat pria nan jauh di sana tanpa sadar menekuk sendoknya dengan keras sampai membuatnya bengkok. Bahkan sepertinya yang ingin Adnan lalukan adalah mematahkan sendok itu.

"Mungkin... Akan terlalu cepat. Tapi Luna Kinandya, aku menyukai kamu sudah lama."

Astaga. Benar. Ini terlalu cepat. Bagaimana bisa pria ini mengakui perasaannya dengan begitu cepat. Mengingatkan Luna pada seseorang. Yakni dirinya sendiri saat mengatakan itu pada Adnan, dulu.

Lantas, dirinya harus menjawab apa? Tidak mungkin dia memberikan jawaban yang dulu pernah Adnan katakan padanya.

"Jangan suka sama gue!"

Bisa-bisa Barra akan membencinya.

Tapi, kenapa dirinya yang jelas mendapatkan jawaban seperti itu tidak bisa membenci Adnan?

Ah, dasar bucin.

"Barra, aku... Gak tau harus bilang apa. Ini pertemuan pertama kita. Jadi..."

"Aku ngerti. Sekarang kamu gak perlu bilang apa-apa. Yang penting aku udah nyatain apa yang selama ini pengen aku bilang ke kamu."

Past, Present, Future [SEGERA TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang