9. "Luna Kinandya."

7.3K 1.5K 477
                                        

Vote dulu yuuukss
Jangan lupa diramein 🔥
❤❤❤

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Semua sikap buruk saya."

"Kenapa baru sekarang?" Luna merasa bibirnya bergetar. Rasanya sedih, terharu, tapi juga bingung. Kenapa Adnan baru mengucapkan satu kata ajaib itu ketika dirinya sudah memberikan harapan kepada Barra?

"Karena aku baru sadar ternyata selama ini aku mencintai kamu."

"Mbak."

"Mbak Luna."

Luna semakin kebingungan ketika tiba-tiba Adnan memanggilnya Mbak. Belum lagi bahunya ditepuk-tepuk oleh pria itu.

"Mbak Luna, syutingnya udah mau dimulai."

"Allahu Akbar."

Luna langsung terduduk dari posisi berbaringnya. Ya Allah, cuma mimpi.

"Iiiiihhhhh."

Pekikannya itu membuat Lala kebingungan. Bahkan Luna sampai memukul-mukul jok depan mobilnya dengan penuh emosi. Sampai rambutnya ikut awut-awutan.

"Mbak kenapa?"

"Kesel banget sama Adnan. Kenapa dia gak pernah minta maaf setelah nyakitin gue berkali-kali. Gue sampe mimpiin hal gak mungkin itu terjadi."

"Saya kira mbak udah move on dari pak Adnan."

"Dia cinta pertama gue sejak SMA, La. Move on gak pernah jadi hal yang mudah."

Lala mengangguk mengerti. Dirinya setuju kalo move on itu gak gampang. Apalagi, kalau lakinya modelan Adnan. Memangsih Barra juga gak kalah ganteng dan dompetnya tebel. Tapi kalau dibandingkan dengan Adnan. Pria dingin itu seratus kali lipat lebih mempesona. Mungkin karena karakternya kali yah.

***

Air matanya berderai. Rasanya, akting menangis sangat tepat untuk saat ini. Di depan kamera, tempat yang harusnya Luna berpura-pura malah jadi tempat dimana ia bisa menumpahkan perasaan sedih sesungguhnya. Dalam perannya kali ini, dia menangis karena kekasihnya kecelakaan.

Namun, yang benar-benar membuat air matanya jatuh adalah saat ia memikirkan kebodohannya mencintai seorang Adnan.

"Jangan suka sama gue!"

"Lo bodoh atau tuli?"

"Berisik."

"Mengganggu."

"Kekanakan."

"Gila."

"Hhuuuaaaa..."

"CUT!" teriak sutradara.

Lala berlari membawa tisu untuk Luna yang terisak. Namun tidak menerima tisu itu, Luna justru berlari sambil sesenggukan mencari kamar mandi. Air matanya tidak akan kering hanya dengan lembaran tisu.

"Mbak, Mbak Luna gak papa?"

Suara kekhawatiran Lala dapat Luna dengar dari toilet yang pintunya Luna kunci. Dia hanya seorang diri, memandangi wajah menyedihkannya di depan cermin.

Kenapa kisah cintanya sangat menyedihkan? Sangat rumit. Sudah seperti sinetron yang dia mainkan.

Luna suka bermain drama. Tapi kalau hidupnya menjadi drama sungguhan, rasanya terlalu menyakitkan.

"Gak papa, La. Kebelet," ujarnya setelah menyeka air mata.

"Oh yaudah kalo gitu saya tinggal ya, Mbak."

Past, Present, Future [SEGERA TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang