10. Jangan Deketin Gue

15 4 3
                                    

Jangan lupa vote dan komen ,ya!

10. Jangan Deketin Gue

Alasta turun dari mobil ferrari memasuki tempat parkir di SMA Cendana. Alasta keluar dari mobil, membenarkan letak tas yang sempat turun. Melangkahkan kaki menuju koridor utama.

Tatapan murid SMA Cendana Alasta abaikan. Tentu mereka penasaran tentang lebam biru yang menghiasi wajah tampan Alasta. Salah satunya siswi dengan rambut sepunggungnya.

Alasta terdiam, saat diujung mendapatkan tatapan tajam dari kedua sahabatnya. Menghela napas, lantas berjalan dengan tenang. Seolah tidak terjadi apa – apa. Walaupun nanti kedua sahabatnya akan mengomelinya habis – habisan. Setidaknya, Alasta masih memiliki alasan untuk membangkitkan semangatnya yang sempat turun kemarin.

"Kenapa lo?" tanya Nandar saat Alasta sudah berada di depan kelasnya.

Alasta mengambil duduk disamping kanan Nandar. Dengan Guntur yang bersandar pada tembok.

"Biasa, insiden kecil," jawab Alasta kalem.

"Kecil pala lo kecil. Tu muka biru – biru semua. Habis ngapain lo?" cerca Nandar menatap Alasta meminta penjelasan.

"Ribut sama ayah," jawab Alasta akhirnya.

"Al!" teriakan seseorang membuat Alasta, Guntur dan Nandar menolehkan pandangannya.

Aleska langsung menarik lengan kanan Alasta untuk bangkit dari duduknya. "Apaan si lo." Alasta menyentak tangan Aleska membuat genggamannya terlepas.

"Ayo." Aleska menarik lengan Alasta dengan kedua tangannya. Menarik dengan kuat saat melihat Alasta tidak bergerak sedikitpun. Aleska menatap Alasta dengan tatapan memohon membuat Alasta luluh dan bangun dari duduknya.

Aleska menggenggam tangan kanan Alasta lantas mengiringnya menuju UKS.

Mendudukkan Alasta pada ranjang UKS sebelum Aleska mengambil air hangat dan sebuah kain. Keadaan Uks sedang sepi membuat Aleska mencari kebutuhan untuk mengobati Alasta sendiri.

Aleska duduk dikursi plastik dihadapan Alasta. Tanganya naik memegang pipi kanan Alasta. Mengusap lembut pipinya, membuat Alasta menegang. Dengan cekatan Aleska mengompres memar Alasta dengan air hangat yang sebelumnya sudah Aleska persiapkan.

"Berantem sama siapa Al?" tanya Aleska mendongak menatap Alasta yang ternyata tengah menatapnya.

"Bukan urusan lo."

Aleska menekan memar Alasta membuat Alasta menatap tajam Aleska. Alasta menatap wajah Aleska yang ternyata lebih cantik jika ditatap dari dekat. Matanya, hidungnya, bulu mata yang lentik, dan bibir berwarna pink milik Aleska membuat Alasta melepaskan pandangannya.

"Setidaknya, kalau lo mau berantem jangan sampai muka lo bonyok." kata Aleska dengan tangan yang cekatan mengobati memar diwajah Alasta.

Alasta menyeritkan dahinya,"Gimana bisa berantem tapi muka gue gak kena?"

Aleska berdecak. "Lo, kan, pinter. Setidaknnya menghindar bodoh. Muka bonyok lo gak enak diliat," ketus Aleska.

"Siapa lo ngatur – ngatur gue?" pertanyaan sinis yang keluar dari bibir Alasta membuat Aleska menghentikan sejenak aktifitasnya.

"Gue calon lo," jawab Aleska kalem.

"Calon babu, iya, kan?" tanya Alasta membuat Aleska menggeplak lengannya. Mukanya tertekuk. Aktifitasnya tidak dilanjutkan. Aleska benar – benar kesal sekarang. Aleska tau dirinya bukan siapa – siapa Alasta, tapi setidaknya Alasta tidak menyebutnya calon babu, bukan?

Alasta tertawa dengan lepas begitu melihat wajah bete Aleska yang terlihat sangat menggemaskan didepan matanya. Mengabaikan rasa nyeri yang menyerang wajahnya saat tawa lepas tersebut mengudara.

Aleska membeku. Ada senyum dibibirnya melihat Alasta tertawa lepas. Terlepas dari ucapan menyebalkan Alasta, Alesta bersyukur Alasta tidak terlihat mendung.

Tawa Alasta mereda. Sudah lama Alasta tidak tertawa lepas seperti tadi. Berkat Aleska, Alasta berhasil meringankan beban hatinya dengan tertawa. Ternyata, dekat dengan Aleska tidak seburuk yang Alasta bayangin.

Alasta bangkit dari duduknya. Mendekati Aleska yang menahan napas. "Makasih udah buat gue ketawa lagi. Tapi, gue mohon jangan deketin gue. Nanti lo sakit," kata Alasta berbisik ditelinga Aleska. Mengacak puncak kepala Aleska dengan perasaan ringan. Meninggalkan Aleska yang membeku, tanpa tau Alasta sudah menghilang sepenuhnya dari area Uks. 

****

4 Juni 2021

Cirebon

ALASTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang