5. Bahagia dan Duka

25 5 3
                                    

Jangan lupa Vote sama komen ya!

Selamat membaca

Kasih tau kalau ada typo

5. Bahagia dan Duka.

Alasta tiba di rumah pukul delapan malam. Keadaan rumah yang memperlihatkan lampu - lampu sudah padam membuat Alasta yakin, jika Azer sudah tertidur. Alasta berjalan mengendap - endap menuju pintu utama. Menarik pelan gagang pintu. Gelap menyambut Alasta begitu pintu sudah terbuka sempurna.

Kakinya melangkah lebih dalam memasuki ruang tamu, setelah menutup pintu kembali. Seketika lampu kembali menyala membuat Alasta membeku ditempat. Suara langkah kaki dari tangga membuat Alasta pasrah. Semakin lama, langkah kaki semakin mendekat. Dianak tangga terakhir, Azer berdiri dengan tatapan dinginnya.

"Kalau gak niat pulang, gak usah pulang!"

Alasta memperhatikan langkah kaki Azer yang perlahan mendekat. Degub jantung yang tidak teratur membuat Alasta gugup. Selama ini, Alasta tidak pernah pulang pukul delapan malam. Selalu mendapatkan hadiah yang tidak pernah Alasta lupakan. Hadiah yang terlampau menyakitkan.

Bugh.

Pukulan menghantam wajah Alasta. Membuat wajah Alasta menoleh kesamping.

Bugh

Lagi, pukulan Azer layangkan pada perut Alasta. Membuat Alasta terbatuk. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Pukulan yang diliputi amarah terasa menyakitkan untuk Alasta.

"Berguna sedikit jadi anak. Jangan cuman membebani!" Azer menatap Alasta sinis. Enggan membantu Alasta yang membungkuk sembari memegang perutnya.

Azer menarik kerah baju Alasta. Membuat Alasta berdiri dengan tegak. Tatapan itu membuat rasa sakit semakin besar dihati. Tatapan kebencian yang selalu Alasta lihat.

"Mandiri atau mati!"

Azer melepaskan cengkramannya pada baju Alasta. Membiarkan Alasta dengan rasa sakitnya. Berlalu begitu saja. Cengkraman pada perutnya dipererat. Menyeka sudut bibirnya yang meninggalkan jejak darah. Berjalan tertatih menaiki satu persatu anak tangga.
Alasta dimedan perang bisa menang, namun Alasta dirumah bisa bernanah. Luka itu mengangga lebar setiap Alasta kembali. Ingin rasanya menghilang, tetapi daya juang dalam diri Alasta menyuruhnya untuk berjuang. Jangan pernah menyerah, selagi masih ada kata melawan. Jangan pernah bersedih selagi masih ada kata bahagia dibumi.

Alasta duduk pada tepi kasur. Membaringkan tubuh. Menatap langit - langit kamar, membiarkan segala imajinasi bercampur dengan kepingan masalalu. Masalalu yang selalu Alasta anggap sebagai acuan untuk mengubah semuanya kembali seperti semula.

"Asta selalu ingat, Bunda dan ayah sayang Asta."

Kata - kata Ana terngiang begitu saja. Kata terakhir yang Alasta berhasil dengar setelah kata maaf dari bibir Ana kala itu. Alasta yang berumur tujuh tahun menangis dengan keras, berusaha menghilangkan sesak didada dengan kepala Ana yang berada dipangkuannya penuh dengan darah.

"Asta, kamu dimana sayang? Ayah bawa mainan pesanan Asta."

Suara itu, suara Azer pada saat Alasta berumur empat tahun. Alasta kecil yang sehabis mandi langsung berlari begitu mendengar teriakan Azer. Berhambur memeluk kaki Azer dengan handuk yang membungkus tubuhnya. Ada senyum disana, ada hangat yang terasa dan ada bahagia yang membuncah. Semuanya melebur menjadi satu. Kenangan manis itu berhasil membuat Alasta goyah.

Sudut matanya berair. Segala kenangan berhamburan begitu saja, seperti bintang yang selalu menyinari bumi. Begitu juga kenangan manis yang Alasta punya sebagai tumpuan untuk Alasta, bahwasanya ini hanyalah sederet masalah yang sebentar lagi menemukan titik terang.

Kepingan memori Alasta berganti. Rumah sakit tempat Ana dilarikan. Alasta kecil hanya bisa menatap lantai."Kenapa kamu membiarkan Ana pergi begitu saja!" Teriakan Azer membuat tubuh Alasta bergetar.

Alasta menjambak rambutnya kasar. Menyadarkan kesadaran yang sempat terbawa kisah masalalu. Tidak baik untuk kesehatan Alasta, menyelami kembali masalalu. Selalu begini jika Alasta sendiri. Harus ada pengalihan agar Alasta tetap waras.

****

4 Juni 2021

Cirebon

ALASTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang