Selamat membaca !
Jangan lupa vote, comment and share ya !
3. Sisi Lain?
Bel sekolah telah berbunyi lima belas menit yang lalu. Ketiga pemuda tampan masih betah berlama - lama di kelas. Guntur yang tengah membaca sebuah novel ditangannya, Alasta dan Nandar yang tengah memainkan sebuah game dengan posisi ponsel dimiringkan.
"Tur minjem charger lo, dong. Atau gak powerbank lo deh. Batrai gue mau habis, nih," keluh Nandar yang tetap fokus pada ponsel dihadapannya.
"Yah, kalah kan gue. Lo si Tur lama banget gue pinjemin charger juga," omel Nandar. Masih tersimpan rasa kesal dalam dirinya. Andai Guntur cepat memberikan charger nya Nandar tak akan kalah, karena fokusnya terpecah.
"Cabut,yuk," ajak Alasta kepada kedua sahabatnya yang langsung dijalankan.
Ketiganya berjalan menuju koridor utama. Masih ada beberapa siswa yang masih berkeliaran di sekolah. Tentunya mengikuti ekstrakulikuler yang terdapat di sekolahnya.
"Al, didepan kayak Deka deh," celatuk Nandar tiba - tiba sesaat setelah mereka tiba di koridor utama.
Pemandangan didepan gerbang terdapat dua orang lawan jenis yang tengah cekcok entah Karna apa.
"Ngapain liatin mereka?" tanya Alasta kepada kedua temannya. Niat hati meneruskan langkah, tetapi lengan nya dicekal oleh Guntur yang membuat Alasta menghela napas. Aksi ingin kaburnya diketahui oleh Guntur. Lagian kenapa mereka sangat gabut sekali? Menonton orang yang tengah adu mulut.
"Kayaknya tuh cewe kesakitan deh," celetuk Nandar tiba - tiba.
Alasta hanya diam mengamati. Rasanya ingin sekali pulang ke rumah. Merebahkan badan kedalam nyaman nya kasur. Tetapi dua curut ini enggan untuk beranjak.
"WOY GILA DEKA NAMPAR TU CEWE!" pekik Nandar yang membuat lamunan Alasta tentang kasurnya buyar.
Dengan langkah cepat Alasta menghampiri keduanya, diikuti kedua sahabatnya dibelakang.
"Ada apa ini?" tanya Alasta begitu sampai dihadapan dua orang.
"Ngapain lo kesini, Ka? Ada masalah apa lo sama anak sekolah gue?" setelah sekian lama Guntur diam, akhirnya buka suara.
Gadis tersebut memiliki seragam yang sama dengan sekolah mereka.
"Lo nampar dia?" Nandar menunjuk gadis yang memegang sebelah pipinya. "Cowo kok mainnya tangan," cibir Nandar
"Diem deh bang kalau gak tau masalahnya apa?" Deka menatap ketiganya dengan sengit.
Tangannya menarik lengan gadis yang langsung memberontak. Deka menatap tajam gadis tersebut, membuat Alasta jengah. Dengan lembut Alasta melepaskan tangan Deka dari tangan sang gadis.
"Kalau gak mau, jangan dipaksa." Alasta menyembunyikan gadis tersebut kebelakang tubuhnya.
"Bang, jangan ikut campur urusan gue!" Deka menatap Alasta berang. Nafas nya sudah naik turun menahan emosi yang siap meledak.
"Gue gak suka lo bersikap kasar sama adik gue!" Alasta memasukkan tangan kiri kedalam saku celana bahannya. Tatapan tajam dan dinginnya seorang Alasta membuat nyali Deka menciut.
"Lo salah satu anak buah gue. LO TAU DEKA GUE GAK SUKA ORANG YANG KERAS SAMA PEREMPUAN!" Bentak Alasta kepada Deka yang hanya diam membatu. "Pernah lo liat gue keras sama cewe?" Alasta bertanya dengan menahan amarahnya agar tidak meledak.
Gelengan dari Deka membuat Alasta tertawa. "Dia maksa aku buat balikan sama dia. Sedangkan dia selingkuh sama sahabat aku," gadis dibelakang Alasta membuka suaranya.
"Tapi aku pacaran sama dia karna aku kalah taruhan, Mel. Aku gak sayang sama Ayu," jelas Deka.
Tawa Alasta mengudara. Bukan sejenis tawa bahagia, tawa itu membuat Nandar, Guntur bahkan Deka membeku. Gyan telah kembali.
"Lo pikir cewe barang, sampe jadi bahan taruhan." lagi, kata - kata sinis keluar dari bibir Alasta. Kedua tangan nya terkepal kuat, siap melayangkan tinju sebelum usapan pada pundaknya membuat Alasta kembali tenang. Aneh memang.
"Kalau dia gak mau, jangan dipaksa." Deka terdiam, kehabisan kata oleh Alasta. "Cewe bukan bahan taruhan. Ibu sama adik lo cewe, Ka. Lo mau adik lo gue jadiin bahan taruhan?" Deka berang saat ucapan terakhir Alasta.
"Jangan sentuh adik gue!" ancam Deka.
"Seenak jidat lo jadiin cewe bahan taruhan, giliran adik lo gue jadiin bahan taruhan lo marah. Itu yang dirasain sama keluarga Ayu, bodoh! Lo seenak jidat hancurin hatinya, tanpa mau bertanggung jawab. Sedangkan keluarganya mati - matian ngejaga anak nya buat gak ngerasain sakit." Alasta rasa hari ini sudah terlalu banyak bicara.
"Sekali lagi gue liat lo gini, habis lo sama gue. Kalau mau jadi bejat jangan jadi anak buah gue. Nakal boleh, tapi jangan pernah lo sakitin wanita." Alasta menepuk pundak Deka dua kali lantas kembali memasuki area sekolah dengan tangan menggenggam tangan gadis tersebut.
Nandar dan Guntur menatap kepergian Alasta. "Jangan macam - macam sama Alas kalau lo masih mau di Griffin," tutur Nandar lantas berlari kecil menyusul Alasta.
"Jangan jadi laki - laki yang suka mempermainkan wanita," ujar Guntur. "Lo tau Alasta gimana. Jangan pancing sisi lain dari Alasta kalau lo masih mau aman." pesan Guntur, menepuk pundak Deka lantas menyusul Alasta dan Nandar yang sudah lebih dulu berjalan keparkiran.
****
4 Juni 2021
Cirebon

KAMU SEDANG MEMBACA
ALASTA
Ficção Adolescente"Bertemanlah denganku, akanku kenalkan kamu dengan duniaku." Gyan Alasta Zeroun, laki-laki tampan sejuta pesona. Alasta panggilannya, seseorang yang memendam luka diam-diam. Kejadian masalalu yang membuat Alasta mengerti, jika semua orang berubah s...