Selamat Membaca!
Jangan lupa comment and vote!
🐨
1. Kesalahan Masalalu
Alasta menyenderkan punggungnya pada pembatas dibalkon kamarnya. Matanya menutup perlahan. Menyesapi angin yang berhembus. Kedamaian perlahan menghampiri. Samar - samar terdengar kicauan burung. Kedua matanya terbuka. Menatap kosong kedepan. Banyak hal yang berkeliaran dikepalanya.
Menghembuskan nafasnya dengan kasar lantas Alasta duduk pada kursi yang berada dibalkon kamarnya. Tangannya terulur mengambil satu buah cup ice cream rasa coklat yang tersimpan dimeja. Menyendoknya penuh lantas memakannya dengan diam.
Rasa coklat seakan meluber begitu saja dimulutnya. Benar - benar obat paling ampuh menghilangkan stres.
"Kayaknya persediaan ice cream gue mulai menipis. Harus stock lagi di rumah biar gue gak gila," ujar Alasta pada dirinya sendiri.
Alasta menyukai ice cream rasa coklat. Pecinta makanan asin dan pedas. Menurut Alasta jika suatu makanan tidak pedas terasa ada yang kurang dan tentu kurang menyenangkan untuk dirinya sendiri. Walaupun rasa pedas seakan membakar lidahnya detik itu juga, tetapi Alasta sangat menyukainya.
"Mas Al."
Seorang wanita berumur lima puluh tahun tampak memasuki kamar dan menuju balkon kamar Alasta.
"Mas Al, ditunggu tuan dimeja makan." Tuti- namanya. Seorang asisten rumah tangga yang sudah bekerja dikediaman Zeroun cukup lama. Mata Tuti mentap Alasta yang masih belum beranjak, dengan satu tangan memegang cup ice cream dan tangan kanan terus menyenyodorkan ice cream kemulutnya.
"Nanti Al turun mbak. Makasih, ya," tutur Alasta dengan lembut.
Seperti yang Alasta bilang sebelumnya. Alasta turun ke lantai satu. Berjalan lurus dan menemukan sosok Azer yang tengah makan dengan diam.
Alasta mendudukkan dirinya pada kursi didepan Azer.
"Malam, yah," sapa Alasta yang tidak mendapatkan balasan dari Azer.
Alasta mengambil secentong nasi beserta sayur soup ayam dan satu sendok sambal. Alasta makan dengan tenang.
Derit kursi yang ditarik berhasil mengalihkan Alasta dari makanannya. Kepalanya mendongak, menatap Azer yang berdiri dan berlalu begitu saja. Helaan nafas kasar keluar dari mulut Alasta. Menatap sendu punggung Azer yang mulai menghilang.
Setelah kematian Ana, bundanya. Azer berubah. Alasta tau Alasta salah, tetapi kenapa Azer menghukumnya sedemikian rupa. Azer semakin tak tersentuh oleh Alasta. Kata - kata nya yang mampu memberikan dampak yang besar untuk hatinya, tatapan yang tajam seakan mampu membungkam Alasta.
"Aku tau aku salah, yah. Tapi apa gak ada kata maaf buatku?" lirih Alasta. "Andai dulu aku larang bunda, pasti aku yang udah tenang sekarang," sambung Alasta.
"Bund, maafin Asta yang gak bisa nepatin janji Asta ke bunda. Semuanya berubah. Bahkan ayah selalu memberikan luka. Apa aku salah untuk mendapatkan kata bahagia?" Alasta buru - buru mendongak. Menghentikan air mata yang ingin meluncur melewati pipinya.
Tak ada lagi tangis yang harus Alasta lakukan. Tak ada lagi air mata yang harus Alasta keluarkan. Sekarang dirinya hanya perlu berfikir bagaimana caranya membuat Azer kembali menghangat, dan segera mendapatkan bahagia. Walaupun Alasta tau bahwa bahagia yang Alasta tuju terlalu susah untuk diraih.
Sudah banyak sakit yang Alasta rasakan saat ini. Semoga Tuhan masih berbaik hati memberikan setitik rasa bahagia yang akan hinggap suatu hari nanti.
"Ayo semangat Asta! Jangan jadi lemah karna satu hal. Selama ini lo baik- baik aja, ada atau tidak ada nya rasa sakit ditubuh ataupun hati lo," kata Alasta menyemangati dirinya sendiri "Gue tau bahagia gue cuman sebatas makan ice cream rasa coklat dan makan makanan pedas." Alasta terkekeh kecil diakhir kalimatnya. Banyak sekali yang ganggu Alasta jika sedang bersama belahan jiwanya. Ice cream dan makanan pedas.
****
4 Juni 2021
Cirebon

KAMU SEDANG MEMBACA
ALASTA
Teen Fiction"Bertemanlah denganku, akanku kenalkan kamu dengan duniaku." Gyan Alasta Zeroun, laki-laki tampan sejuta pesona. Alasta panggilannya, seseorang yang memendam luka diam-diam. Kejadian masalalu yang membuat Alasta mengerti, jika semua orang berubah s...