8. Sampai Waktunya Tiba

3.7K 455 120
                                        

Jangan lupa vote dan komentarnya, Yorobun 💚

Biar aku makin semangat 💚

Jaehyun Jung duduk termangu di sofa, menantikan seseorang yang belum kunjung kembali setelah mengingkar janji dengannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jaehyun Jung duduk termangu di sofa, menantikan seseorang yang belum kunjung kembali setelah mengingkar janji dengannya. Seperti yang dikatakan Tanisha melalui panggilan telepon, dia harus ziarah dan meminta Jaehyun untuk langsung pulang, membatalkan begitu saja rencana yang sudah dinantikan oleh Jaehyun. Sebenarnya Jaehyun tidak langsung menurut karena dia merasa perlu mendapatkan haknya, serta Tanisha juga harus memenuhi janjinya.

Namun, Jaehyun kalah dalam debat dan Tanisha berhasil membungkamnya dengan telak. Waktu berjalan dan jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan ketika pintu apartemen terbuka, lalu Tanisha masuk dengan langkah ringan.

Jaehyun spontan berdiri, menyambut Tanisha yang otomatis menghentikan langkahnya. Kali ini Jaehyun tidak bisa menyambut dengan senyum, atau setidaknya dengan perasaan biasa seakan tidak terganggu. Jaehyun boleh mengalah saat Tanisha memaksa untuk pergi ziarah dan membatalkan janji, tetapi kali ini dia tidak ingin diam dan mengabaikan hal yang baginya penting.

"Udah lega setelah ziarah?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Jaehyun. Tidak terdengar manis ataupun ramah, tetapi berhasil membuat Tanisha tidak nyaman di posisinya. "Apa kamu punya jadwal khusus untuk ziarah ke dia?"

"Jadwal?"

"Biar kalau nanti aku mau ngajak kamu jalan, entah itu berdua atau pergi ke rumah orang tua, aku nggak akan ganggu waktu kamu ziarah ke makam dia." Jaehyun menekankan kata ziarah dan dia, sengaja karena di balik itu dia ingin menyampaikan rasa kecewanya.

Paham dengan maksud pria di hadapannya, Tanisha pun membalas tanpa ingin membawa-bawa dia. "Kalau kamu masalahin ini karena aku nggak nepatin janji, kita bisa pergi besok."

"Aku udah nggak mau. Sekarang aku maunya tahu apa kamu ada jadwal untuk ziarah atau nggak."

"Enggak ada."

"Kalau nggak ada, bikin jadwal yang pas biar nanti nggak bentrok sama acara kita."

Jaehyun tidak terlihat marah, cara bicaranya tidak menggebu-gebu, nada bicaranya pun tidak meninggi. Hanya memang menekankan beberapa kata agar Tanisha tahu apa yang diinginkan oleh Jaehyun, menunjukkan betapa kecewanya dia karena hari yang dianggapnya akan indah, justru kacau akibat Tanisha lebih memilih orang yang telah tiada.

"Aku kira setelah pergi bulan madu dan apa yang kita lakuin di Anyer, hubungan kita bisa berubah jauh lebih baik dan bahkan mesra kayak pasangan pada umumnya." Jaehyun tersenyum kecut, miris karena menaruh harapan besar yang tidak bisa digapai. "Ternyata sama aja. Kamu masih sama. Perasaan itu nggak pernah ada."

"Aku mau lakuin itu karena kewajiban sebagai istri dan buat keturunan, Jaehyun."

Jaehyun makin miris setelah mendengar jawaban Tanisha yang menyayat hati. Tujuan mereka memang sama, tetapi perasaan yang dimiliki rupanya berbeda. "Malam itu aku coba nunjukin cinta, bukan sekadar minta dilayanin dan bikin keturunan. Tapi ternyata ... saat itu pun kita nggak sejalan."

Second Lead (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang