OPEN PO DI SHOPEE ANDROBOOKS 15-22 SEPTEMBER
Kisah klise tentang dua insan yang menikah karena perjodohan.
Sejak awal, Jaehyun sudah menyukai Tanisha dan menyetujui apa yang telah ditetapkan untuknya.
Namun, Jaehyun sadar bahwa Tanisha tidak menga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Silakan, biar seger 🤣)
Davin Arsalan duduk sambil memeluk lututnya di lantai dan menatap kosong ke arah jendela yang menyinari kamar gelapnya. Setelah pertemuannya dengan Tanisha Gayatri tiga hari lalu, semangat hidupnya tiba-tiba hilang, terlebih ketika dia mengingat setiap kalimat yang Tanisha utarakan padanya. Masih bisa dia ingat bagaimana suara Tanisha, menambah rasa sakit di sekujur tubuhnya karena sosok yang begitu ia damba sulit untuk didapat.
Segala cara Davin lakukan; meraih kembali cinta Tanisha dengan memperlakukannya secara manis setelah pertengkaran mereka di depan kafe, hingga mengancam Tanisha dengan foto-foto tidak senonohnya selama bertahun-tahun. Foto bahkan sudah sampai ke tangan Jaehyun dan Tiara, yang mana jadi dua orang paling ditakuti Tanisha bila mengetahui foto-fotonya. Sempat berhasil memengaruhi mereka, tetapi hanya sesaat dan malah membuat Davin makin kalah.
Tiba-tiba ingatan Davin berganti pada putri Tanisha yang masih kecil, membuatnya bergetar dan hingga pintu hatinya terbuka agar tidak melakukan hal keji lagi. Jenisha, namanya. Bagaikan magis, putri kecil itu membuat Davin mengeluarkan air mata karena menangisi segala perbuatannya selama ini. Setan dalam diri Davin yang awalnya sering berkuasa, perlahan terkikis membuat sosok terdalam dirinya bangkit untuk menunjukkan lembar demi lembar kesalahan untuk ia sesali.
Davin menangis, memukul kepalanya sekeras mungkin ketika ingatan soal kelakuan buruknya terus saja berkeliaran untuk menghantui. Davin menjerit, matanya terpejam seolah hal buruk ia lihat secara langsung. Namun, hal itu tidak berguna karena ketika matanya terpejam, ingatan buruk makin menghantuinya.
"Vin! Kamu kenapa?!"
Diandra yang baru saja pulang bekerja, tiba-tiba terkejut mendapati putranya yang menggila karena terus memukul kepalanya. Diandra menahan tangan Davin, lalu memeluknya erat dan membiarkan dirinya yang jadi korban derasnya air mata penuh penyesalan. Diandra tidak tahu apa tepatnya yang terjadi pada Davin, tetapi yakin yang membuatnya begini karena penolakan dari Tanisha.
"Ma ..., Tanisha ...."
Dugaan Diandra benar. Diandra mengusap punggung Davin dan mengeratkan pelukan agar putranya bisa melampiaskan segala yang dirasa, sembari berharap setelah ini Davin mau menyadari perbuatannya yang salah, sama seperti Diandra. "Enggak apa-apa, Nak. Dia emang bukan jodoh kamu. Ikhlas, ya?"
Bukannya menurut, Davin justru menggeleng karena keinginan terbesarnya masih sama; bahagia bersama Tanisha. Alih-alih menyerah, Diandra akan membujuk Davin setelah putranya lebih tenang. Ia biarkan saja Davin menangis demi menuntaskan rasa sedihnya karena harus kehilangan cinta. Diandra ikut menangis karena menyesal sudah membuat Davin seperti ini. Bagaimanapun juga, Davin bisa berbuat sekejam ini karena pengaruh Diandra.
Seandainya Diandra tidak pernah berniat membantu, apalagi dengan alasan masih marah pada Tanisha karena hampir kehilangan putranya, Davin tidak akan berbuat sekeji ini dan merugikan banyak orang. Cukup lama Davin menangis, sampai akhirnya lebih tenang tanpa mau beranjak dari dekapan hangat Diandra. Tubuh Davin sudah tidak bergetar, tetapi sesekali air mata masih lolos sebagai bentuk penyesalannya.