OPEN PO DI SHOPEE ANDROBOOKS 15-22 SEPTEMBER
Kisah klise tentang dua insan yang menikah karena perjodohan.
Sejak awal, Jaehyun sudah menyukai Tanisha dan menyetujui apa yang telah ditetapkan untuknya.
Namun, Jaehyun sadar bahwa Tanisha tidak menga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juli 2017
Berbeda dari biasanya, Jaehyun bertemu dengan Tanisha di rumahnya. Jaehyun tidak diminta untuk datang, baik itu oleh Bianca ataupun Tiara, karena semua itu kemauannya sendiri. Tentunya Jaehyun sudah memberi tahu Tanisha lebih dulu, jadi perempuan yang dijodohkannya itu tidak terkejut saat dia datang. Jaehyun paham betul kalau dia tidak layak untuk memberikan kejutan, apalagi dengan kedatangannya.
"Aduh, gantengnya calon mantu Mama. Baik banget pula mau samperin Tanisha sampai sini."
Begitu sambutan Tiara ketika Jaehyun datang, begitu ramah, sedikit heboh, khas ibu-ibu yang mendambakan menantu seperti Jaehyun. Yah, siapa yang tidak ingin memiliki menantu seperti Jaehyun Jung? Ibu-ibu yang biasanya suka dengan pria berseragam, pasti langsung mengganti tipe ideal untuk dijadikan menantu kalau sudah tahu ada Jaehyun Jung di dunia. Kedatangan Jaehyun tidak hanya disambut ramah oleh Tiara, tetapi juga Tanisha yang tidak terlalu canggung lagi setelah 3 tahun mengenalnya dan bertemu beberapa kali di tempat sama.
Ini bukan pertama kalinya Jaehyun datang ke kediaman keluarga Tanisha, tetapi begitu Tiara meninggalkan dua orang yang masih perlu mendekatkan diri, Jaehyun langsung mati gaya dan bingung harus bagaimana. Alhasil, sepuluh menit setelah Tiara pergi dengan alasan bertemu ibu-ibu kompleks, Jaehyun dan Tanisha hanya diam sambil sesekali meminum teh yang sudah tidak hangat lagi. Sebenarnya Jaehyun datang bukan sekadar ingin bertemu, tetapi ada yang perlu dia sampaikan pada Tanisha di rumahnya.
Hal penting yang Jaehyun yakin bisa mengubah banyak hal, meski dia tidak yakin perubahan itu ke arah positif ataupun negatif. Jaehyun tidak membuat ekspektasi yang tinggi dengan respons Tanisha. Asalkan Jaehyun sendiri lega, itu sudah cukup memberikan dampak positif baginya. Tanpa melihat perjodohan yang masih berlangsung, Tanisha tetaplah pacar orang lain dan Jaehyun tidak memiliki nyali untuk mengubahnya. Setidaknya untuk sekarang.
"Jae, ngomong, dong. Masa kamu ke sini diam aja?" Akhirnya Tanisha mau membuka suara, memecahkan keheningan yang berhasil membuat Jaehyun terkesiap di posisinya.
Jaehyun mengelus tengkuknya pelan, malu rasanya karena berdua saja di rumah keluarga Tanisha. "Bingung."
Tanisha tertawa kecil karena paham dengan yang dirasakan Jaehyun. "Emang kalau di rumah beda, ya. Biasanya ketemu di kafe, sekarang malah di sini. Tapi nggak apa-apa, ngomong aja. Apa kek gitu. Aku yakin kamu ke sini nggak mungkin cuma nyapa mama aku, ngasih kue yang udah dibawa, terus cuma diam di depan aku."
Emang nggak cuma itu, Sha, tapi susah buat ngomongnya. Pikiran Jaehyun berkecemuk. Setengah dari dirinya ragu untuk membuat pengakuan, tetapi setengahnya lagi yakin untuk membuat pengakuan. Pasalnya Jaehyun tidak bisa kalau harus menahan diri di saat yang ia rasakan tidak bisa dibantah lagi. Jadi, pengakuan ini satu-satunya cara agar Jaehyun bisa tenang.